Bukan Malas, Gen Z Tak Ingin Berada dalam Budaya Kerja Toxic

  • Saifan Zaking

Ketika seorang atasan melihat anak buahnya dari Generasi Z (Gen Z) pulang tepat waktu, menolak lembur tanpa bayaran, atau berani mempertanyakan budaya hustle atau kerja cepat di kantor, mungkin yang terlintas dalam pikirannya adalah 'pemalas'.


Padahal, itu jauh lebih kompleks dari sekadar kemalasan. Saat ini, Gen Z sedang melakukan sesuatu yang belum pernah benar-benar dilakukan oleh generasi sebelumnya secara massal, yakni menolak sistem kerja yang secara sistematis menghancurkan kesehatan.


Dan benar saja, mereka punya alasan yang sangat kuat untuk itu. Jadi Gen Z itu bukan berarti malas ya, ada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan lho!


1. Saksi 'Kehancuran' Generasi Sebelumnya


Psikoterapis Kerry Lyn Stanton Downes menggambarkan akar persoalan ini dengan jelas. Gen Z tumbuh besar menyaksikan orang tua mereka yang bertahun-tahun loyal pada perusahaan tetap dirumahkan, tetap kelelahan, dan tetap tidak bahagia. 


Mereka melihat generasi Milenial dan Gen X bekerja tanpa henti selama puluhan tahun, namun tetap berjuang secara finansial, menghadapi krisis 2008, dan menanggung dampak pandemi. Bagi Gen Z, pengorbanan besar dengan imbalan yang tidak pasti bukan lagi sebuah kesepakatan yang masuk akal.


Seperti yang dicatat oleh Stacker dalam laporannya, 64% Gen Z lebih memilih ketenangan pikiran daripada kekayaan. Hal ini menajdi sebuah pergeseran nilai yang fundamental dari generasi sebelumnya.


2. Burnout Bukan Sekadar Capek


Menurut World Health Organization (WHO), burnout adalah sindrom yang terjadi akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Gejalanya meliputi kelelahan ekstrem, sikap sinis terhadap pekerjaan, dan penurunan kemampuan untuk menyelesaikan tugas.


Dan Gen Z mengalaminya lebih parah dari yang kita kira.


Data dari LIMRA's 2024 BEAT Study menunjukkan bahwa 91% pekerja Gen Z mengalami tantangan kesehatan mental setidaknya sesekali. Sementara itu, 40% Gen Z merasa stres atau cemas sepanjang waktu, dan sepertiga dari mereka menyebut pekerjaan sebagai penyebab utama stres tersebut. 


Bahkan, 46% dari mereka telah didiagnosis dengan gangguan kesehatan mental. Ini bukan statistik generasi yang malas. Ini statistik generasi yang sedang berjuang bertahan hidup di bawah tekanan sistemik yang luar biasa.


3. Tekanan Medsos


Gen Z tumbuh di era di mana pencapaian orang lain tersaji 24 jam sehari di layar mereka. Medsos memunculkan budaya perbandingan sosial yang tidak sehat, di mana seseorang merasa harus selalu tampil sukses, produktif, dan sempurna.


Hustle culture yang dipopulerkan di platform digital membuat bekerja keras terasa seperti identitas, bukan sekadar aktivitas. Siapa yang lembur paling malam, siapa yang paling sedikit liburan, siapa yang paling banyak mencapai di usia muda, semua ini menjadi kompetisi yang tidak pernah ada garis finishnya.


Gen Z, sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dalam ekosistem ini, juga yang pertama menyadari racunnya. Dan mereka mulai memilih keluar dari permainan itu.


4. Me-redefinisi Arti Produktif


Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjadikan pekerjaan sebagai pusat identitas diri, Gen Z memandang kerja sebagai bagian dari hidup, bukan keseluruhan hidup.


Inilah yang melahirkan berbagai fenomena yang sering disalahpahami, antara lain:


- Quiet Quitting: Bukan berarti berhenti kerja, melainkan menolak untuk mengerjakan hal-hal di luar deskripsi pekerjaan tanpa kompensasi yang setara. Ini disebabkan oleh atasan yang buruk, bukan karyawan yang tidak termotivasi.

- Lazy Girl Job: Istilah yang diciptakan oleh kreator TikTok Gabrielle Judge setelah ia sendiri mengalami burnout di industri teknologi. Gerakan ini bukan soal kemalasan, melainkan tentang memilih pekerjaan yang mendukung kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

- Bare Minimum Monday: Tren melakukan pekerjaan secukupnya di hari Senin sebagai cara untuk tidak memulai minggu kerja dalam kondisi stres dan tertekan.

- Job Hopping: Rata-rata pekerja Gen Z hanya bertahan sekitar satu tahun di sebuah perusahaan. Bukan karena tidak setia, tetapi karena mereka mencari lingkungan yang benar-benar menghargai mereka.

5. Ambisius di Jalur Berbeda

Satu kesalahpahaman terbesar tentang Gen Z adalah menganggap mereka tidak ambisius. Survei Samsung tahun 2023 menemukan bahwa setengah dari usia 16–25 tahun ingin memulai bisnis mereka sendiri, dan lebih dari 80% wirausaha Gen Z menyebut usaha mereka berbasis tujuan (purpose-driven). 

Mereka sebenarnya ambisius, tetapi ambisi mereka tidak didefinisikan oleh jumlah jam yang dihabiskan di kantor atau seberapa cepat naik jabatan di perusahaan orang lain. Mereka mengejar makna, otonomi, dan dampak nyata.

Menurut laporan dari Handshake Network Trends, 72% lulusan 2024 lebih mungkin melamar pekerjaan jika perusahaan dikenal memperlakukan karyawan dengan baik dan membangun budaya kerja yang positif. Mereka selektif bukan karena manja, tetapi karena mereka tahu harga diri mereka.

Apa yang Sebenarnya Diinginkan Gen Z?

Jawabannya sederhana, yaitu lingkungan kerja yang manusiawi. Mereka ingin pekerjaan yang bermakna. Mereka ingin diakui sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar sumber daya. 

Mereka ingin akses ke layanan kesehatan mental dan budaya tempat kerja yang tidak membuat mereka harus memilih antara karier dan kewarasan.

Gen Z tidak menolak kerja keras. Mereka menolak sistem yang meminta manusia untuk berkorban segalanya demi perusahaan tanpa jaminan, tanpa penghargaan, dan tanpa keseimbangan.