Mulai 2027 Baterai Wajib Bisa Dilepas, Apa Alasannya?

  • Saifan Zaking


  • Hak konsumen, keberlanjutan lingkungan, dan efisiensi biaya
  • Smartphone & tablet wajib bisa dilepas dan diganti sendiri oleh pengguna
  • Apple berpotensi tidak terdampak
  • Regulasi hanya berlaku di Uni Eropa, tapi kemungkinan besar diterapkan secara global

Uni Eropa resmi mengubah aturan main industri smartphone global. Kebijakan yang sudah lama dinanti para konsumen ini bukan sekadar nostalgia, melainkan soal hak, lingkungan, dan uang. Kalian masih ingat Nokia 3310? Ponsel legendaris itu punya satu keunggulan yang sering kita lupakan, yakni baterainya bisa dicabut dan diganti dalam hitungan detik. Tidak perlu service center, tidak perlu bayar ratusan ribu rupiah, tidak perlu menunggu berminggu-minggu.

Kemudahan itu perlahan hilang setelah Apple memperkenalkan iPhone dengan desain bodi tertutup mulus, tipis, premium. Industri ikut berbondong-bondong mengubur baterai di dalam perut perangkat. Selama lebih dari satu dekade, pengguna jadi tidak punya pilihan. Kalau baterai rusak, serahkan ke teknisi atau beli ponsel baru. Tapi Uni Eropa memutuskan bahwa era itu sudah cukup lama berjalan.

Regulasi Berlaku 18 Februari 2027

Regulasi baterai Uni Eropa secara resmi bernama EU Regulation 2023/1542 yang disahkan pada 2023 dan mulai berlaku penuh dalam beberapa fase. Fase paling krusial untuk konsumen umum berlaku pada 18 Februari 2027.

Mulai hari itu, setiap smartphone dan tablet yang dijual di wilayah Uni Eropa wajib dirancang agar penggunanya bisa melepas dan mengganti baterai sendiri. Bukan oleh teknisi bersertifikat, ataupun service center resmi, namun oleh para pengguna biasa dengan alat yang tersedia di pasaran umum.

Aturan ini juga mewajibkan produsen menyediakan baterai pengganti selama minimal lima tahun setelah unit terakhir sebuah produk dipasarkan.

Ada Pengecualian, Apple Mungkin Lolos

Regulasi ini tidak berlaku absolut untuk semua perangkat. Ada celah yang tertuang dalam Pasal 11 regulasi tersebut yang mengatakan "Perangkat yang mampu mempertahankan minimal 80% kapasitas baterai setelah 1.000 siklus pengisian dan sekaligus memiliki sertifikasi ketahanan air IP67 atau lebih tinggi bisa dikecualikan dari kewajiban desain baterai yang mudah dilepas oleh pengguna awam".

Ini kabar menarik untuk Apple. Menurut dokumen resmi Apple dan laporan TechRadar, iPhone 15 ke atas telah memenuhi standar daya tahan 1.000 siklus tersebut. Artinya, lini iPhone terbaru berpotensi tidak terdampak langsung oleh regulasi ini.

Sebaliknya, tekanan terbesar justru diprediksi jatuh pada ponsel kelas menengah dan entry-level yang baterainya lebih cepat aus dan tidak memenuhi standar IP tinggi. Segmen inilah yang paling mungkin mengalami perombakan desain paling signifikan.

Alasan Utama

1. Masalah Degradasi Baterai

Baterai adalah komponen yang paling cepat menurun performanya pada sebuah ponsel. Dalam dua hingga tiga tahun penggunaan, kapasitas baterai bisa menyusut signifikan, dengan ponsel yang dulu tahan sehari penuh kini mati di siang hari. 

Selama ini, pengguna dihadapkan pada dua pilihan pahit, harus bayar mahal untuk ganti baterai di service center, atau beli ponsel baru. Regulasi ini memutus siklus tersebut dengan memberikan kontrol kembali ke tangan konsumen.

2. Limbah Elektronik Meningkat

Eropa menghadapi krisis limbah elektronik yang serius. Ketika ponsel dibuang hanya karena baterainya rusak, sementara layar, prosesor, kamera, dan komponennya masih sempurna. Itu adalah pemborosan sumber daya yang luar biasa.  Kobalt, litium, dan mineral langka lainnya yang terkandung dalam baterai jauh lebih sulit didaur ulang ketika baterai tersebut tertempel erat dengan lem di dalam bodi ponsel.

Uni Eropa juga menetapkan target pengumpulan limbah baterai portabel sebesar 63% pada 2027 dan 73% pada 2030. Baterai yang mudah dilepas membuat proses daur ulang lebih bersih, lebih aman, dan lebih efisien.

3. Gerakan Right to Repair

Di balik regulasi teknis ini ada semangat yang lebih besar bahwa konsumen berhak memperbaiki barang yang sudah mereka beli. Selama bertahun-tahun, produsen mempersulit perbaikan mandiri baik melalui desain yang rumit, komponen proprietary, maupun hambatan perangkat lunak yang sengaja dipasang.

Kebijakan ini adalah bagian dari paket "Right to Repair" yang lebih luas di Uni Eropa, yang secara eksplisit melarang penggunaan hambatan perangkat lunak untuk mencegah penggantian baterai mandiri.

Namun regulasi ini hanya berlaku di Uni Eropa. Tapi dampaknya hampir pasti bersifat global. Mengapa? Karena tidak ada produsen besar yang mau membuat dua versi desain berbeda untuk pasar yang berbeda, biayanya terlalu mahal.