1 USD Emang Rp17 Ribu Sekian, Tapi Narasinya Kurang Tepat Jika Disamain dengan Tahun 98

  • Bayu Dewantara

Belakangan ini lini masa kita pasti lagi ramai bahas kurs Rupiah yang menyentuh angka Rp17.000 sepersekian per Dolar AS. Angka ini emang kelihatan "serem" dan bikin kita worry. Bahkan saking ramenya, mulai muncul narasi-narasi yang mencoba menyamakan kondisi hari ini dengan krisis moneter tahun 1998. Tapi, jangan dimakan mentah-mentah dulu gengs. Kalau kita telusuri lebih dalam, narasi "kembali ke '98" itu sebenarnya kurang tepat, bahkan bisa dibilang jauh dari kenyataan.

Angkanya Mirip, Tapi Skalanya Jauh Berbeda

Banyak yang terjebak hanya pada nominal Rp17.000 tanpa melihat persentase pelemahannya. Mari kita bicara fakta dan data. Di tahun 1998, Rupiah mengalami terjun bebas yang sangat ekstrem. Dari kisaran Rp2.500, Rupiah sempat melesat hingga Rp16.000 per Dolar AS. Itu artinya, Rupiah melemah hingga 700% dalam waktu singkat.

Bandingkan dengan kondisi sekarang. Meski angka nominalnya menyentuh Rp17.000, tingkat pelemahan Rupiah dari awal tahun hingga saat ini berada di kisaran 9%. Secara matematika sederhana, beda antara 700% dan 9% itu sangat masif. Jadi, kalau ada yang bilang sekarang sama susahnya dengan tahun '98, itu adalah narasi yang kurang akurat secara data ekonomi.

Analogi Ekstrem, Kalau Benar-Benar Kejadian Seperti '98

Supaya lebih terbayang, mari kita pakai analogi. Seandainya hari ini Rupiah benar-benar melemah sebesar 700% seperti yang terjadi di era krisis moneter dulu, maka nilai tukar Rupiah bukan lagi Rp17.000. Dengan perhitungan pelemahan 700%, kurs kita seharusnya sudah berada di angka Rp120.000 per Dolar AS!

Bisa bayangin harga rumah atau kopi kalau kursnya setinggi itu? Nah, di titik itulah baru kita boleh benar-benar panik. Selama angkanya masih bergerak di persentase satu digit, ekonomi kita sebenarnya masih dalam kategori "terjaga" di tengah badai global.

1998 Itu Sulit Makan, Sekarang Bisa Makan Sambil Scroll Sosmed Seharian

Salah satu bukti paling nyata perbedaan zaman adalah daya beli dan ketersediaan barang. Di tahun 1998, ekonomi kita benar-benar lumpuh. Orang-orang harus antre panjang hanya untuk mendapatkan bahan pokok, bahkan banyak yang kesulitan untuk sekadar makan.

Hari ini? Kita masih bisa nongkrong cantik di kafe sambil scrolling TikTok atau Instagram seharian. Stok barang di supermarket masih melimpah dan layanan pesan antar makanan masih beroperasi 24 jam. Kondisi fundamental ekonomi masyarakat kita jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan masa kelam tersebut.

Kenapa Sih Rupiah Melemah? Ini Penjelasan dari BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) telah menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang membuat Rupiah sedikit "kelelahan" menghadapi Dolar AS. Pertama, adanya faktor eksternal yang sangat kuat dari Amerika Serikat. Ekonomi AS yang tetap tangguh membuat bank sentral mereka cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, yang akhirnya menarik modal keluar dari negara berkembang kembali ke AS.

Kedua, adalah dinamika pasar global yang membuat para investor cenderung mencari aset aman (safe haven) seperti Dolar AS di tengah ketidakpastian politik internasional. Namun, tenang saja, Pemerintah dan BI tidak akan membiarkan Rupiah lepas kendali. BI secara konsisten melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi untuk memastikan nilai tukar tetap stabil dan tidak liar.

Optimisme di Tengah Fluktuasi

Intinya, fluktuasi mata uang adalah hal yang lumrah dalam ekonomi terbuka. Pemerintah kita saat ini memiliki cadangan devisa yang jauh lebih besar dan kebijakan fiskal yang lebih matang dibandingkan tahun '98. Fokus kita sekarang adalah tetap produktif dan mendukung produk lokal agar ekonomi domestik makin kuat.

Jadi, jangan mudah termakan hoax atau narasi ketakutan yang nggak berdasar ya, Oppal Gengs. Selama kita masih bisa makan enak sambil baca artikel ini, itu tandanya Indonesia masih baik-baik saja. Cuma jangan terlalu dianggap enteng juga yaaa!