10 Fakta Menarik Film Para Perasuk yang Tayang di Bioskop Mulai Hari Ini

  • Nurcholis Fajri Syah

Film Indonesia kembali menghadirkan karya yang berbeda dari biasanya lewat Para Perasuk, yang resmi tayang di bioskop mulai 23 April 2026. 


Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film ini langsung mencuri perhatian karena menawarkan konsep unik yang menggabungkan unsur budaya, spiritualitas, dan drama psikologis dalam satu cerita.


1. Bukan Horor Biasa, Tapi Drama Supranatural Psikologis


Meski mengangkat tema kerasukan, Para Perasuk tidak mengikuti pola film horor konvensional. Film ini justru lebih menonjolkan sisi psikologis dan emosional manusia. Kerasukan digambarkan bukan sebagai teror, melainkan sebagai media ekspresi dan pelarian dari realitas hidup.

Pendekatan ini membuat film terasa lebih dalam, karena menyoroti konflik batin, ambisi, hingga trauma yang dialami karakter.


2. Mengangkat Tradisi Unik “Pesta Kerasukan”


Cerita film berpusat di Desa Latas, sebuah desa fiktif yang memiliki tradisi unik berupa pesta kerasukan atau “sambetan”. Dalam tradisi ini, warga justru sengaja dirasuki roh sebagai bentuk hiburan dan pengalaman spiritual. 


Konsep ini menjadi kritik sosial sekaligus refleksi tentang bagaimana masyarakat mencari kebahagiaan di tengah tekanan hidup.


3. Dibintangi Aktor dan Aktris Ternama


Film ini diperkuat deretan pemain papan atas Indonesia, seperti:

  • Angga Yunanda sebagai Bayu

  • Maudy Ayunda sebagai Laksmi

  • Anggun C. Sasmi

  • Bryan Domani

  • Chicco Kurniawan 


Akting para pemain bahkan mendapat pujian karena mampu menghadirkan emosi dan gestur yang kuat dalam adegan-adegan kerasukan. 


4. Cerita Sarat Konflik Sosial dan Budaya


Tokoh utama, Bayu, digambarkan sebagai pemuda yang ingin menjadi “perasuk” atau pawang dalam ritual kerasukan demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman penggusuran.


Konflik ini memperlihatkan benturan antara tradisi lokal dengan modernisasi, sekaligus menggambarkan perjuangan generasi muda dalam mempertahankan identitas budaya.


5. Sudah Tayang di Festival Film Internasional

Sebelum rilis di Indonesia, Para Perasuk sudah lebih dulu tampil di ajang internasional bergengsi seperti Sundance Film Festival 2026. 

Kehadiran film ini di festival global menunjukkan bahwa kualitas film Indonesia semakin diakui di kancah dunia.


6. Produksi Kolaborasi Internasional


Menariknya, film ini merupakan hasil kolaborasi produksi antara Indonesia, Singapura, dan Prancis.


Hal ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia mulai berkembang ke arah produksi lintas negara dengan standar internasional.


7. Mengangkat Simbolisme Budaya yang Kuat


Di balik cerita kerasukan, film ini sebenarnya sarat makna simbolik. Ritual yang ditampilkan bukan sekadar hiburan, tetapi representasi dari:

- pelarian dari tekanan sosial

- pencarian identitas dan hubungan manusia dengan tradisi

- Pendekatan simbolik ini membuat Para Perasuk relevan untuk dianalisis secara akademik, khususnya dalam kajian komunikasi budaya dan semiotika.


8. Momen Ikonik Anggun dalam Satu Kali Take Scene Tanpa Perlu Pengulangan


Salah satu fakta menarik datang dari Anggun C. Sasmi yang juga terlibat dalam film ini. Dalam salah satu adegan penting, Anggun dikabarkan hanya membutuhkan satu kali pengambilan gambar (take) saat melafalkan mantra. Momen tersebut bahkan disebut-sebut menjadi salah satu adegan paling kuat karena ekspresi dan penghayatannya terasa sangat natural, tanpa perlu pengulangan.


Detail seperti ini menunjukkan bagaimana para pemain tidak hanya berakting, tetapi benar-benar masuk ke dalam karakter. Pendekatan yang digunakan pun terasa lebih organik, seolah-olah adegan kerasukan yang ditampilkan bukan sekadar akting, melainkan pengalaman yang hidup.


9. Spontanitas Maudy Ayunda dalam Musik dan Emosi


Hal menarik lainnya, Maudy Ayunda tidak hanya tampil sebagai Laksmi di layar, tetapi juga berkontribusi dalam penggarapan soundtrack film. Salah satu lagunya bahkan lahir secara spontan dan direkam dalam waktu yang relatif singkat.


Pendekatan ini menunjukkan bahwa ia tidak sekadar menghidupkan karakter melalui akting, tetapi juga menyelami emosi tokohnya lebih dalam, lalu mengekspresikannya kembali melalui medium musik.


10. Chemistry Natural Antar Pemain


Selain momen individu, kekuatan film ini juga muncul dari interaksi antar pemain. Kombinasi antara Angga, Maudy, dan pemain lain seperti Chicco Kurniawan menghasilkan dinamika yang terasa tidak kaku.

Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh pendekatan penyutradaraan Wregas Bhanuteja yang memberi ruang eksplorasi pada aktor, sehingga banyak adegan terasa lebih hidup dan tidak terlalu “dibentuk”.


Kesimpulan


Para Perasuk bukan sekadar film hiburan, tetapi juga karya sinematik yang menawarkan perspektif baru tentang budaya, spiritualitas, dan kondisi psikologis masyarakat. Dengan konsep yang unik, jajaran pemain kuat, serta pengakuan internasional, film ini menjadi salah satu tontonan wajib di bioskop tahun ini, terutama bagi penonton yang mencari pengalaman berbeda dari film horor pada umumnya.