Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.03 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah signifikan sebesar 84 poin atau setara dengan 0,50%, yang menyeret posisinya ke level Rp17.090 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah suasana pasar yang sangat volatil akibat pecahnya konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Sentimen risk-off (menghindari risiko) mendominasi pergerakan investor global. Dalam situasi ketidakpastian perang, investor cenderung menarik dana dari negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven) seperti emas atau dolar AS.
Minyak Dunia Tembus US$100: Rekor Sejak 2022
Satu faktor utama yang mencekik rupiah hari ini adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Pada Minggu (8/3), harga emas hitam ini resmi melampaui angka US$100 per barel. Lonjakan ini mencatatkan rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 silam.
Melansir laporan dari CNN, harga minyak acuan jenis Brent meroket 12,63% ke level US$104 per barel. Sementara itu, minyak mentah standar AS mencatatkan kenaikan yang lebih tajam, yakni sebesar 14,7%.
Penyebab utamanya jelas: kekhawatiran akan gangguan distribusi di Timur Tengah. Sebagai jalur nadi energi dunia, konflik yang melibatkan Iran memicu ketakutan akan pembatasan aliran minyak di Selat Hormuz dalam jangka panjang.
Perbandingan Mata Uang Asia: Indonesia Paling Melemah?
Menariknya, pelemahan ini tidak terjadi secara merata di seluruh kawasan Asia. Meskipun sentimen global sedang buruk, beberapa mata uang justru menunjukkan ketahanan (resilience). Berikut adalah data pergerakan mata uang Asia per pagi ini:
Dari data di atas, terlihat bahwa rupiah mengalami penurunan yang jauh lebih dalam dibandingkan Yuan maupun Won. Penguatan Yen dan Baht menunjukkan adanya aliran modal yang bersifat defensif, sementara Rupiah nampaknya lebih sensitif terhadap isu kenaikan harga komoditas energi dan arus keluar modal asing (capital outflow).
Dampaknya untuk Indonesia
Tembusnya angka Rp17.000 tentu menimbulkan kekhawatiran pada sektor riil, terutama bagi industri yang mengandalkan bahan baku impor. Jika tren ini berlanjut, tekanan inflasi dari barang impor (imported inflation) tidak akan terhindarkan, yang pada akhirnya bisa memukul daya beli masyarakat.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kini berada dalam posisi siaga. Langkah intervensi di pasar valas serta pasar obligasi kemungkinan besar akan diperkuat untuk menjaga agar volatilitas tidak semakin liar. Namun, selama tensi geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi, rupiah diprediksi masih akan bergerak di zona merah.
Senin ini menjadi pengingat keras bahwa ekonomi domestik kita masih sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Di tengah harga bensin yang berpotensi naik dan kurs yang melambung, kehati-hatian dalam kebijakan fiskal dan moneter menjadi harga mati.
Bayu Dewantara