Awet Muda Zaman Sekarang Bukan Soal Skincare, Tapi tentang Berapa Jam Kamu Scrolling Gadget

  • Boy Nugroho
  • Indonesia jadi juara dunia soal durasi screen time, tembus lebih dari 6 jam sehari.

  • Blue light dari layar gadget diduga ikut andil merusak kolagen dan elastin kulit.

  • Kurang tidur gara-gara scrolling malam bikin kadar kortisol naik dan bikin wajah lebih cepat kusut.

  • Gen Z di seluruh dunia mulai balik ke HP jadul demi “menyelamatkan” wajah dan fokus mereka.


Oppal Gengs, sadar nggak sih, kita udah gelontorin duit jutaan rupiah buat serum, essence, sampai sunscreen SPF tinggi, tapi tetap aja muka rasanya lebih cepat lelah dari umur sebenarnya? Ternyata biang keroknya bukan cuma soal skincare routine yang kurang lengkap, tapi kebiasaan yang jauh lebih sepele dan susah dihindari, yakni durasi kita natap layar HP.

Riset demi riset mulai menunjukkan korelasi antara jam scrolling dan kondisi kulit, postur, sampai kualitas tidur kita. Berikut 5 fakta soal hubungan gadget dan penuaan yang jarang dibahas di iklan skincare. Yuk, intip apa aja Oppal Gengs!

(Source: Pexels)


1. Indonesia, Juara Dunia Screen Time


Fakta pertama ini cukup menampar. Pasalnya, berdasarkan laporan State of Mobile yang dirilis data.ai, masyarakat Indonesia tercatat sebagai pengguna smartphone dengan durasi terlama sedunia, yaitu sekitar 6,05 jam per hari, mengalahkan Thailand, Argentina, sampai Arab Saudi. Studi lain bahkan mencatat rata-rata screen time orang Indonesia menghabiskan hingga 7 jam 38 menit di depan perangkat terhubung internet setiap harinya, jauh di atas rata-rata global yang “cuma” 6 jam 40 menit.


Semakin lama layar menyala di depan wajah kita, semakin lama juga wajah terekspos radiasi cahaya, posisi menunduk, dan kurang gerak, tiga kombinasi yang ternyata jadi resep instan buat mempercepat tanda-tanda penuaan. Jadi sebelum bangga jadi “rajin online”, mending cek dulu berapa total jam layar kamu minggu ini.


2. Blue Light, Mengancam Lebih Dalam dari Sinar UV


Beberapa penelitian dermatologi, termasuk yang dimuat di Journal of Investigative Dermatology, menyebut blue light atau cahaya biru dari gadget bisa memicu stres oksidatif di kulit dan berpotensi merusak kolagen serta elastin, dua fondasi utama yang bikin kulit tetap kencang. Bahkan ada penelitian yang menyebut paparan sesingkat 60 menit saja sudah cukup memicu perubahan sel kulit, termasuk penyusutan sel.


Baca Juga: Apple Punya Gadget yang Paling Ramah Lingkungan


Tapi tenang, Oppal Gengs, ini bukan alasan buat langsung parno. American Academy of Dermatology sendiri masih menyebut sinar UV matahari sebagai biang kerok utama penuaan dini, sementara efek blue light dari gadget masih terus diteliti dan levelnya jauh lebih kecil dibanding sinar matahari. Yang perlu diwaspadai lebih dulu justru kombinasi paparan blue light dengan kebiasaan lain di poin-poin berikutnya, karena efeknya saling numpuk.


3. Begadang Sambil Scroll, Kortisol Naik, Kolagen Ambruk


Ini dia kombo yang paling sering kejadian. Scrolling medsos sampai lewat tengah malam, akhirnya jam tidur berantakan. Padahal, penelitian menunjukkan orang yang tidur kurang dari 6 jam per malam punya risiko penuaan dini yang lebih tinggi dibanding yang tidur cukup. Saat kita tidur, tubuh memproduksi kolagen dan hormon pertumbuhan yang memperbaiki sel-sel kulit yang rusak seharian.


Masalahnya, kurang tidur juga memicu lonjakan hormon kortisol, dan kortisol ini kerjanya menghambat produksi kolagen sekaligus menurunkan hyaluronan synthase yang bikin kulit tetap lembap dan kenyal. Efek jangka panjangnya bukan cuma kulit kusam dan mata panda, tapi stres kronis juga bisa memperpendek telomer alias ujung kromosom yang berperan mempercepat penuaan sel secara biologis. Jadi kalau kulit kamu belakangan makin gampang kusam padahal skincare udah lengkap, coba cek dulu jam tidur, Oppal Gengs.


4. Leher Ikut Menua Duluan Sebelum Wajah


Bukan cuma kulit, postur tubuh juga kena getahnya. Fenomena bernama tech neck ini muncul karena kepala terus-menerus menunduk saat menatap layar. Secara fisika sederhana, kepala manusia beratnya sekitar 4-5 kilogram saat tegak, tapi begitu menunduk 45 derajat buat baca chat, beban yang ditanggung tulang leher bisa melonjak berkali-kali lipat. Riset di anak-anak dan remaja bahkan menunjukkan kelompok yang pakai smartphone lebih dari 4 jam sehari punya sudut fleksi leher yang signifikan lebih tinggi dibanding yang di bawah 4 jam.


Efeknya nggak instan kelihatan, makanya banyak Gen Z nggak sadar leher mereka pelan-pelan “didesain ulang” sampai muncul keluhan nyeri, bahu membulat, atau bahkan taji tulang di leher. Jadi kalau belakangan sering pegal di tengkuk padahal nggak abis olahraga berat, kemungkinan besar itu bukan salah bantal, tapi salah posisi pegang HP seharian.


5. Gen Z Mulai Balik ke HP Jadul demi Selamatin Wajah dan Fokus


Menariknya, tren global sekarang justru bergerak berlawanan arah. Fenomena yang disebut “Flip Phone Summer” di tahun 2026 mencatat sekitar 47 persen anak di bawah 30 tahun mulai sengaja memangkas screen time mereka, sebagian bahkan pindah total ke flip phone atau feature phone jadul demi lepas dari jebakan infinite scroll. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking bahkan mencatat satu minggu berhenti dari media sosial bisa menurunkan gejala depresi hingga 24 persen dan kecemasan 16 persen.


Di Indonesia sendiri, tren serupa mulai kelihatan lewat naiknya minat terhadap feature phone bergaya retro yang katanya bikin penggunanya lebih fokus, kualitas tidur membaik, dan yang paling relate, skin healing tanpa harus keluar uang buat serum baru. Hal ini kedengarannya jadul, tapi justru itu yang bikin masuk akal, Oppal Gengs.


Tubuh dan kulit kita nggak dirancang buat terus-menerus dipapar cahaya, ditekuk ke bawah, dan dipaksa begadang cuma demi FYP. Skincare tetap penting, tapi cuma bisa bekerja maksimal kalau “fondasi” dasarnya, yaitu tidur cukup, postur oke, dan jam layar yang wajar, juga diperhatikan. Percuma pakai serum antiaging semahal apa pun kalau kebiasaan hariannya masih jadi musuh dari dalam.


Jadi sebelum buru-buru checkout skincare kolagen booster berikutnya, coba mulai dari hal paling murah dan paling susah seperti kurangin jam layar, terutama di jam-jam sebelum tidur. Nggak perlu langsung ekstrem ganti HP jadul kayak tren Gen Z di luar sana, cukup mulai dari kesadaran kecil soal berapa lama kamu udah natap layar hari ini. Awet muda ternyata dimulai dari kebiasaan paling sederhana yang selama ini kita anggap remeh, Oppal Gengs.