Dulu, marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, hingga TikTok Shop dipandang sebagai ‘tambang emas’ bagi pelaku usaha. Traffic tinggi, sistem pembayaran terintegrasi, dan logistik yang praktis membuat banyak brand, baik UMKM maupun brand besar berbondong-bondong masuk ekosistem digital.
Namun memasuki 2026, narasi itu berubah. Marketplace tidak lagi sekadar kanal penjualan, tetapi menjadi sumber biaya yang kompleks dan sulit dikendalikan. Bahkan, sebagian seller mulai menarik diri atau mengurangi ketergantungan mereka.
Struktur Biaya yang Semakin Kompleks
Jika sebelumnya biaya marketplace relatif sederhana, kini setiap platform memiliki skema berbeda yang bergantung pada kategori produk, program yang diikuti, hingga metode pengiriman. Yang menjadi masalah, biaya administrasi kini hanya satu dari sekian banyak potongan.
Di Shopee, misalnya, biaya admin untuk kategori besar seperti fashion, FMCG, dan lifestyle sudah mencapai 10% dari harga netto produk. Untuk kategori lain seperti elektronik tertentu dan perawatan kulit sekitar 9-9,5%, lalu suplemen dan susu formula sekitar 6,5%, kemudian elektronik high-end sekitar 5,25%, lalu logam mulia atau perhiasan 4,25%, dan e-money atau tiket 2,5%.
Namun angka tersebut belum termasuk biaya tambahan seperti pre-order fee 3% per produk, iklan (yang kini hampir wajib), dan biaya pengiriman tergantung jasa kirim dan program gratis ongkir. Dalam praktiknya, total potongan di Shopee bisa mencapai 15–25% dari harga jual.
Tokopedia juga menunjukkan pola serupa. Biaya komisi platform berada di kisaran 6,97% hingga sekitar 8% efektif untuk beberapa kategori. Ditambah komisi dinamis, biaya pemrosesan order, dan pre-order fee, total potongan bisa mencapai 8–12% sebelum iklan. Dengan TopAds untuk visibilitas, totalnya melonjak ke 12–20%.
Sementara itu, TikTok Shop menjadi platform dengan biaya paling agresif. Komisi platform berkisar 6,97%–10%, ditambah komisi dinamis 4–6% yang wajib. Jika digabung dengan biaya affiliate (5–20%) dan biaya konten/influencer, total beban bisa mencapai 15–30% dari harga jual.
Lazada relatif lebih ringan dengan komisi 1,5%–6% untuk non-elektronik dan sekitar 4% untuk elektronik. Namun setelah ditambah biaya iklan, totalnya tetap bisa mencapai 8–15%.
Biaya Logistik dan Retur jadi ‘Kebocoran’ Baru
Yang membuat situasi semakin berat adalah munculnya biaya-biaya baru yang sebelumnya tidak signifikan. Mulai 1 Mei 2026, Tokopedia dan TikTok Shop menerapkan biaya layanan logistik untuk setiap pesanan. Besarannya memang terlihat kecil, sekitar Rp5.055 per pesanan di TikTok Shop dan Rp10.110 di Tokopedia, tetapi skalanya besar. Jika seller memproses 100 pesanan per hari, biaya ini bisa tembus lebih dari Rp1 juta per hari hanya dari logistik.
Shopee juga menyesuaikan biaya layanan Gratis Ongkir Ekstra sejak Mei 2026, dengan skema berbeda berdasarkan ukuran produk, yang mana ukuran biasa dengan biaya maksimal Rp40.000 per kuantitas produk dan ukuran khusus (>5 kg) biaya maksimal Rp60.000 per kuantitas produk. Tak berhenti di situ, mulai 1 Juni 2026, Shopee mewajibkan seller menanggung ongkir retur hingga Rp10.000 per transaksi, even jika pembeli hanya berubah pikiran.
TikTok Shop menerapkan kebijakan serupa, bahkan untuk kasus pengiriman gagal yang bukan kesalahan seller. Biaya-biaya ini memperlihatkan satu hal, yakni risiko operasional kini semakin dialihkan ke seller.
Masalah lain yang sering dikeluhkan seller adalah iklan yang berubah dari opsional menjadi keharusan. Tanpa TopAds di Tokopedia, Sponsored Products di Lazada, atau iklan di Shopee dan TikTok Shop, visibilitas produk sangat rendah. Artinya, seller tidak hanya membayar biaya transaksi, tetapi juga harus membeli traffic.
Brand-brand yang Membatasi Aktivitas di Marketplace
True to Skin
Somethinc
Avoskin
Scarlett
Erigo
Screamous
Thanksinsomnia
Saifan Zaking