- Frekuensi tertawa turun drastis, bertepatan dengan quarter life crisis.
- Tuntutan profesional membuat banyak orang lebih serius.
- Anak 4 tahun tertawa 300 kali/hari, orang dewasa butuh sekitar 2,5 bulan.
- Tertawa membantu mengurangi stres dan memperkuat hubungan sosial.
Pernah merasa hidup makin serius begitu masuk usia 20-an akhir? Ternyata itu bukan cuma perasaan. Riset yang dibahas dalam buku Humor, Seriously: Why Humor Is a Secret Weapon in Business and Life karya Jennifer Aaker dan Naomi Bagdonas–dua pengajar di Stanford Graduate School of Business–menemukan bahwa frekuensi tertawa manusia anjlok drastis begitu menginjak usia 23 tahun. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan fase yang belakangan populer disebut quarter life crisis.
Temuan ini bukan berasal dari eksperimen laboratorium kecil, melainkan dari data survei Gallup yang melibatkan sekitar 1,4 juta responden di 166 negara. Pertanyaannya sederhana, "Apakah kamu tersenyum atau tertawa banyak kemarin?", hanya itu saja.
Pada usia 16, 18, hingga 20 tahun, sebagian besar orang menjawab "ya". Namun begitu memasuki usia 23 tahun, jawaban itu mulai bergeser menjadi "tidak"–dan menariknya, tren ini baru berbalik lagi ketika seseorang memasuki masa pensiun, sekitar usia 70-an. Aaker dan Bagdonas menyebut kondisi ini sebagai kondisi para pekerja yang "jatuh dari tebing humor" (falling off the humor cliff).

Perbedaannya cukup mencolok bila dibandingkan dengan masa kanak-kanak. Dalam buku tersebut disebutkan, anak berusia empat tahun rata-rata tertawa hingga 300 kali sehari. Sebagai perbandingan, orang dewasa usia 40 tahun rata-rata hanya tertawa 300 kali—dalam rentang dua setengah bulan.
Artinya, ada penurunan frekuensi tawa yang sangat tajam antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, dan titik baliknya diperkirakan terjadi tepat di usia 23 tahun.
Baca juga: Survival Show Gen Z Sebagai WNI: Udah Kena Mental, Ditambah Krisis Finansial
Dunia Kerja Jadi Pemicu Utama
Menurut Bagdonas, pergeseran ini erat kaitannya dengan momen seseorang mulai memasuki dunia kerja. Begitu punya pekerjaan dan tanggung jawab yang "penting", banyak orang merasa harus bersikap serius agar terlihat kompeten dan profesional—dan rasa humor dianggap tidak termasuk dalam citra itu.
Padahal, menurut Aaker dan Bagdonas, anggapan tersebut sebenarnya keliru. Riset yang mereka kumpulkan justru menunjukkan bahwa karyawan dengan selera humor dinilai lebih baik oleh atasan maupun rekan kerja, tim yang punya unsur humor dalam interaksinya cenderung berkomunikasi lebih baik dan berkinerja lebih tinggi. Bahkan, dalam salah satu simulasi negosiasi penjualan karya seni yang dibahas di buku ini, penjual yang menyelipkan candaan ringan saat menyampaikan tawaran akhir justru berhasil membuat pembeli bersedia membayar lebih tinggi dan menikmati proses transaksi.
Usia 23 tahun sendiri kerap disebut sebagai titik awal dari apa yang populer disebut quarter life crisis–fase transisi ketika seseorang mulai dihadapkan pada tekanan nyata dunia kerja, ekspektasi sosial, target karier, hingga tanggung jawab finansial yang belum pernah dialami sebelumnya. Tidak mengherankan bila periode ini juga bersamaan dengan menurunnya kebiasaan tertawa, karena banyak orang mulai merasa harus "act their age"—bersikap sesuai standar kedewasaan yang mereka bayangkan sendiri.
Ketawa Juga Jaga Kesehatan Mental
Hilangnya kebiasaan tertawa disebut-sebut punya dampak yang lebih jauh dari sekadar suasana hati. Beberapa laporan yang membahas temuan ini menyebutkan bahwa berkurangnya tawa dikaitkan dengan penurunan manfaat kesehatan, termasuk potensi risiko yang lebih tinggi terhadap penyakit tertentu serta harapan hidup yang bisa lebih pendek. Sebab, secara biologis, tawa memicu pelepasan hormon endorfin yang membuat tubuh lebih rileks dan mengurangi stres, sekaligus oksitosin yang memunculkan perasaan nyaman dan terhubung dengan orang lain.
Saifan Zaking