Hidup Lo Bahagia, Tapi Kenapa Playlist Lo Lagu Galau Semua?

  • Bayu Dewantara

Pernah nggak sih, pas lagi berangkat kerja lo sengaja dengerin lagunya Bernadya. Terus, pas lagi pulang kerja, playlist lo beralih ke Olivia Rodrigo yang isinya maki-makian buat mantan, padahal lo sendiri belum pernah pacaran, chuakssss.


Mungkin orang yang nggak sengaja lihat bakal ngira lo lagi patah hati atau lagi punya masalah hidup. Padahal aslinya, lo lagi fine-fine aja. Pekerjaan aman, nggak lagi berantem sama siapa-siapa, dan hidup lo rasanya lagi cukup tenang. 


Ternyata, kebiasaan dengerin lagu sedih di saat lo sedang merasa bahagia ini bisa dijelaskan secara psikologis, terutama kalau kita kaitkan dengan kepribadian lo. 


Kaitan Antara Musik dan Kepribadian


Dalam dunia psikologi, ada sebuah riset dari University of Cambridge pada tahun 2022 menunjukkan kalau selera musik ternyata punya kaitan yang lumayan erat dengan Big Five Personality. Buat lo yang belum familiar, ini adalah salah satu model psikologi yang paling sering dipakai untuk menilai kepribadian seseorang dari cara lo berpikir, merasa, dan bertindak. Konsep ini juga sangat berguna buat bantu kita mengenali diri sendiri secara lebih objektif.



(Source: Pinterest)

Ada lima aspek yang dilihat dalam Big Five Personality ini. Pertama ada Openness, yaitu tentang seberapa terbuka lo terhadap hal-hal dan pengalaman baru. Kedua adalah Conscientiousness, yang mengukur tingkat kedisiplinan dan keteraturan hidup lo. Ketiga yaitu Extraversion, untuk melihat dari mana lo mendapatkan sumber energi saat berinteraksi. Keempat adalah Agreeableness, alias tingkat keramahan lo. Dan yang terakhir Neuroticism, yaitu melihat kerentanan lo terhadap emosi negatif.

Empati Tinggi Bikin Lo Menikmati Kesedihan (Lewat Lagu)

Nah, balik lagi ke pertanyaan awal. Kenapa lo merasa hidup lagi baik-baik saja tapi sangat menikmati lagu galau? Kemungkinan besar, lo punya tingkat Openness dan empati yang cukup tinggi.


Baca juga: Menurunnya Minat Warga RI Terhadap Musik K-Pop, Beneran Digeser Musisi Lokal?


Orang dengan dua karakteristik ini sering kali lebih bisa menikmati lagu sedih sebagai sebuah pengalaman emosional. Berdasarkan publikasi dari Research in Psychotherapy pada tahun 2024, lewat musik, orang-orang dengan empati tinggi bisa meresapi berbagai emosi tanpa harus mengalaminya secara langsung di dunia nyata.


Artinya, lo bisa ikut merasakan kesedihan dalam sebuah lirik, memproses emosi tersebut di dalam diri lo, dan merasa lebih lega setelahnya tanpa perlu benar-benar diselingkuhi atau patah hati. Musik galau jadi semacam ruang aman buat lo mengeksplorasi perasaan, sekaligus menjadi media katarsis yang menenangkan.


Gimana dengan Kepribadian Lainnya?


Nggak cuma perkara lagu sedih, preferensi lo terhadap genre musik lain juga bisa dijelaskan lewat teori kepribadian ini. Sebuah riset yang sama dari University of Cambridge pada tahun 2022 menemukan pola yang menarik.


Penelitian itu mencatat bahwa orang dengan tingkat Extraversion yang tinggi cenderung lebih suka mendengarkan musik yang upbeat. Ini jadi masuk akal karena mereka secara alami punya energi yang besar, sehingga mereka butuh stimulus dari luar yang selaras dengan energi tersebut. Sebaliknya, orang dengan tingkat Neuroticism yang tinggi bisa jadi lebih menyukai musik yang intens atau keras. Musik jenis ini terkadang bisa membantu mereka menyalurkan intensitas emosi atau kecemasan yang sedang dirasakan.


Sementara itu, orang dengan tingkat Agreeableness yang tinggi umumnya lebih suka musik yang santai dan menenangkan. Berbeda lagi dengan mereka yang punya Conscientiousness tinggi. Karena mereka sangat menyukai keteraturan agar tetap bisa fokus pada rutinitas, mereka cenderung memilih musik dengan ritme yang teratur dan bisa diprediksi, seperti musik pop.


Kepribadian Lo Jauh Lebih Kompleks dari Sekadar Playlist


Meski teori kepribadian ini sangat membantu kita memahami diri sendiri, kenyataannya manusia itu makhluk yang jauh lebih kompleks. Kepribadian dan kondisi psikologis kita itu dinamis. Jadi, teori Big Five saja sebenarnya nggak bisa sepenuhnya merepresentasikan keseluruhan personality lo.


Sangat wajar kalau selera musik lo berubah-ubah tergantung kondisi mental dan apa yang sedang lo butuhkan di hari itu. Buat lo yang pengin mengeksplorasi kepribadian lebih dalam lagi, lo bisa mulai belajar lebih banyak tentang diri sendiri lewat bacaan psikologi yang kredibel atau mengikuti tes kepribadian yang valid.


Pada akhirnya, apa pun playlist yang lagi lo putar hari ini, nikmati saja prosesnya. Karena mengenali diri sendiri itu bukan tentang melabeli, tapi tentang memahami apa yang sebenarnya sedang tubuh dan pikiran lo butuhkan. So, dengerin musik galau bukan berarti lo beneran lagi galau yaa, mungkin lo pengen berkhayal menjadi orang yang lagi patah hati misalnya?