Humble Bragging: Tren Pamer ‘Lowkey’ yang Lagi Ramai di Medsos

  • Muhammad Gustirha Yunas

Pernah lihat orang posting di media sosial kayak gini “duh capek banget harus bolak-balik ke luar negeri buat kerja.”

Sekilas sih kayak curhat atau keluhan biasa. Tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya ada unsur “pamer” di dalamnya. Nah, perilaku seperti ini dikenal dengan istilah humble bragging, alias pamer yang dibungkus dengan kerendahan hati atau bahkan keluhan.

Di era media sosial, fenomena ini makin sering muncul. Banyak orang ingin terlihat sukses atau keren, tapi di saat yang sama tetap ingin terlihat rendah hati. Jadilah humble bragging sebagai “jalan tengah”.

Apa Itu Humble Bragging?

Secara sederhana, humble bragging adalah cara menyombongkan sesuatu secara tidak langsung, biasanya dengan menyelipkannya dalam bentuk keluhan atau komentar merendah.

Istilah ini sendiri berasal dari gabungan kata humble (rendah hati) dan brag (pamer).

Jadi, seseorang sebenarnya sedang memamerkan pencapaiannya, tapi dibungkus dengan kalimat yang terdengar sederhana atau bahkan negatif. Contohnya seperti:

·        “Duh, ribet banget harus pilih kerjaan dari banyak tawaran.”

·        “Kenapa sih tiap foto selalu dibilang mirip model?”

·        “Capek deh, tiap meeting selalu diminta presentasi.”

Kelihatannya mengeluh, tapi di balik itu ada pesan tersirat: “Lihat nih, gue keren.”

Kenapa Banyak Orang Melakukan Humble Bragging?

Ada beberapa alasan kenapa orang suka melakukan humble bragging, terutama di media sosial.

1. Ingin Pamer Tapi Takut Dianggap Sombong

Banyak orang sebenarnya ingin membagikan pencapaian mereka. Tapi mereka juga takut terlihat terlalu menyombongkan diri.

Akhirnya, humble bragging jadi strategi: tetap bisa menunjukkan keberhasilan tanpa terlihat terlalu “show off”.

2. Membangun Citra Diri di Medsos

Media sosial sering jadi tempat orang membangun personal branding. Lewat postingan, seseorang bisa membentuk kesan tertentu tentang dirinya.

Dengan humble bragging, seseorang bisa terlihat:

·        Sukses

·        Sibuk

·        Populer

·        Berbakat

Tanpa harus mengatakan itu secara terang-terangan.

3. Cari Validasi atau Pujian

Kadang humble bragging juga dilakukan untuk memancing respons dari orang lain.

Misalnya ketika seseorang menulis: “Gak pede banget presentasi di depan ratusan orang nanti.” Kemungkinan besar komentar yang muncul adalah: “Ah kamu pasti bisa!”, dan di situlah validasi sosial muncul.

Tapi… Humble Bragging Sering Ketahuan

Masalahnya, humble bragging sering kali terlalu obvious. Banyak orang bisa langsung menangkap maksud di balik postingan tersebut.

Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa humble bragging justru bisa memberi kesan negatif. Orang cenderung melihatnya sebagai bentuk pamer yang tidak tulus dibandingkan pamer secara langsung.

Alih-alih terlihat rendah hati, pelakunya justru bisa dianggap:

·        Tidak jujur

·        Manipulatif

·        Terlalu haus pengakuan

Medsos Mempercepat Tren Ini

Platform seperti Instagram, TikTok, dan X membuat humble bragging makin sering muncul. Soalnya, media sosial memang jadi tempat orang memamerkan kehidupan mereka, mulai dari pekerjaan, liburan, sampai pencapaian pribadi.

Kadang orang tidak ingin terlihat terlalu “flexing”, jadi mereka memilih cara yang lebih halus.

Hasilnya? Ya, itu tadi, humble bragging.

Jadi, Apakah Ini Perlu Dihindari?

Sebenarnya tidak ada aturan mutlak. Membagikan pencapaian itu wajar. Tapi banyak orang menilai kejujuran lebih dihargai daripada pamer yang disamarkan.

Kalau memang bangga dengan sesuatu, mungkin lebih baik disampaikan secara jujur daripada dibungkus dengan keluhan yang terkesan dibuat-buat.

Karena pada akhirnya, orang-orang di internet biasanya bisa langsung membaca maksud sebenarnya.