Beberapa hari terakhir, timeline gue isinya berita mengenai kejadian yang menimpa Bapak Nadiem atau hal yang berkaitan dengan masalah Chromebook, hingga akhirnya gue nemuin nama Indonesia terpampang jelas di media asing yang bukan abal-abal, bukan ecek-ecek juga, tapi media yang populer banget di dunia global, yaitu Reuters dan New York Times.

Mau lo gak suka baca berita pun pasti udah tahu tentang media luar tersebut, yang sedihnya ialah nama Indonesia masuk dalam pemberitaan mereka itu bukan karena ada musisi lokal yang lagunya masuk tangga lagu dunia, atau atlet kita yang berhasil menyabet medali emas di level internasional. Tapi justru, nama Indonesia berseliweran di media asing sekaliber Reuters dan The New York Times karena mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kita, Bapak Nadiem Makarim, dituntut 18 tahun penjara atas dugaan kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook.
Bagi sebagian orang yang terbiasa menganut prinsip "yang penting viral dan masuk media internasional," perhatian global ini mungkin dianggap sebagai bentuk sorotan yang keren gitu, mungkinnn yaaa. Nama Indonesia makin dikenal memang iya, tapi kalo yang mereka bahas tentang kasus pengadaan laptop sekolah senilai ratusan juta dolar ini ke media global, apakah bisa dikatakan sebagai sebuah kebanggaan?
Kita harus sepakat bahwa tidak semua publikasi internasional itu bernilai prestasi. Ketika Reuters menurunkan laporan mengenai jaksa yang menuntut mantan menteri dengan hukuman belasan tahun akibat kebijakan yang diduga mengunci penggunaan satu sistem operasi secara eksklusif saat pandemi, dunia tidak sedang mengagumi sistem digitalisasi kita. Dunia sedang menonton bagaimana anggaran jaminan masa depan anak-anak di daerah tertinggal justru berakhir di ruang sidang Tipikor.
Proyek yang awalnya digadang-gadang sebagai batu loncatan modernisasi pendidikan ini, nyatanya disebut oleh jaksa menemui kegagalan pemanfaatan, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), gak lebay sih kalo gue sebut ini sebagai ironi paripurna. Di saat anak-anak di pedalaman berjuang mencari sinyal di atas pohon demi bisa belajar online, anggarannya justru diduga menguap dalam ekosistem korporasi digital yang dimanipulasi.
Dampak Nyata Sorotan Internasional bagi Indonesia
Sorotan tajam dari media-media besar dunia ini tentu tidak berhenti sebagai berita yang numpang lewat di halaman depan. Ada harga mahal yang harus dibayar oleh Indonesia akibat publisitas ini:
1. Runtuhnya Kepercayaan Investor Global
Nadiem Makarim dipandang global sebagai representasi anak muda sukses, inovatif, sekaligus mantan CEO dari startup berstatus unicorn kebanggaan Indonesia. Ketika figur yang dianggap sebagai simbol kemajuan teknologi dan modernisasi birokrasi ini terjerat kasus korupsi berskala masif, persepsi investor asing terhadap iklim investasi di Indonesia bisa saja langsung drop. Investor akan berpikir dua kaliji: ka ikon digitalnya saja tersandung kasus tata kelola dan monopoli sistem, bagaimana dengan jaminan kepastian hukum bagi bisnis mereka di sana?
2. Stigma Buruk pada Sektor Dunia Teknologi dan Digitalisasi Indonesia
Kasus ini mencederai semangat digitalisasi yang sedang gencar-gencarnya dibangun. Pengadaan teknologi yang seharusnya transparan dan kompetitif kini menyisakan kecurigaan. Alih-alih dinilai sebagai negara yang siap bertransformasi digital secara sehat, Indonesia justru bisa dicap sebagai negara di mana proyek teknologi tinggi rentan dijadikan alat bancakan lewat sistem yang dikunci (exclusive lock-in).
3. Keraguan dengan Hukum Indonesia Menambah Dampak
Perdebatan di media sosial yang memanas antara dugaan korupsi nyata dan isu kriminalisasi kebijakan ini mengirimkan sinyal bahaya ke luar negeri. Ketika batasan antara "kebijakan yang keliru" dan "tindak pidana korupsi" menjadi kabur, orang-orang baik pelaku usaha, profesional yang mau masuk pemerintahan, hingga birokrat tulen akan mikir 5 kali untuk mengambil keputusan atau melahirkan inovasi baru. Ketidakpastian hukum ini membuat publik internasional melihat Indonesia sebagai negara yang berisiko tinggi, di mana niat baik untuk melakukan digitalisasi bisa kapan saja dipelintir
Bukan Panggung Pujian, tapi Cermin Evaluasi
Perdebatan di media sosial memang terus memanas mulai dari pembahasan besarnya tuntutan hukum, pembelaan dari pihak Nadiem yang merasa tidak bersalah, hingga dugaan adanya kriminalisasi. Namun satu hal yang pasti, ketika media luar negeri mulai ikut menguliti borok tata kelola pemerintahan kita, itu adalah alarm keras yang harusnya kita perbaiki dengan mengusut kembali ini beneran ada atau gak pernah terjadi?
Jangan sampai, kita membuat-buat sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, kemudian memperburuk citra bangsa sendiri, dan berakhir dengan ketidakpercayaan masyarakat dan calon investor untuk negeri ini
Bayu Dewantara