Indonesia terpilih menjadi anggota Komite ICH UNESCO 2026–2030 dengan 113 suara.
Indonesia mewakili Asia-Pasifik bersama dengan Jepang, Filipina, dan Kamboja.
ASEAN memperkuat posisi di komite UNESCO melalui dominasi kursi kawasan.
Indonesia membawa delapan agenda prioritas untuk pembentukan Center of Excellence UNESCO di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia resmi terpilih sebagai anggota Komite Perlindungan Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO (Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO atau ICH UNESCO) yang berlangsung selama periode 2026-2030.
Terpilih dalam Sidang Umum UNESCO di Paris
Pemilihan anggota komite dilakukan dalam Sidang Umum ke-11 Negara-Negara Pihak Konvensi 2003 UNESCO yang berlangsung di Markas Besar UNESCO, Paris, Perancis, pada 17–18 Juni 2026 lalu. Dalam proses pemungutan suara tersebut, Indonesia memperoleh 113 suara dan berhasil mengamankan kursi di Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk mewakili kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia terpilih bersama Jepang yang meraih 117 suara, Filipina dengan 106 suara, serta Kamboja yang memperoleh 97 suara. Keempat negara itu berhasil unggul dalam persaingan dengan Korea Selatan dan Turkmenistan untuk posisi perwakilan Group IV kawasan Asia-Pasifik.
Peluang Strategis Indonesia di Tingkat Internasional
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam keterangannya pada Jumat (19/6/2026), menilai bahwa pencapaian tersebut semakin strategis karena untuk pertama kalinya dalam beberapa periode terakhir, negara-negara ASEAN mendominasi keterwakilan kawasan Asia-Pasifik melalui terpilihnya Indonesia, Filipina, dan Kamboja.
Ia menambahkan bahwa keanggotaan Indonesia di Komite ICH UNESCO menempatkan Indonesia pada posisi strategis untuk berkontribusi dalam pengembangan kebijakan dan praktik perlindungan warisan budaya dunia. Ia juga menilai pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai institusi nasional dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
Delapan Agenda Prioritas Pembentukan Center of Excellence UNESCO
Sebagai anggota Komite ICH UNESCO 2026–2030, Indonesia mengusung delapan agenda prioritas, yaitu pembentukan Center of Excellence UNESCO di kwasan Asia-Pasifik sebagai berikut:
Mega-Laboratory on Cultures, Early Human History, and Civilization untuk memperkuat pelindungan warisan budaya takbenda melalui riset, inovasi, digitalisasi, dan peningkatan kapasitas di kawasan.
Mengembangkan platform kolaboratif yang menghubungkan akademisi, komunitas, praktisi budaya, dan pembuat kebijakan dalam pelindungan yang partisipatif dan inklusif.
Mendorong transformasi digital, termasuk inventaris budaya digital, pemanfaatan AI untuk dokumentasi, serta tata kelola data yang etis.
Memperkuat kerja sama internasional melalui pelatihan, fellowship, misi bersama, dan pertukaran pengetahuan antarwilayah.
Melindungi warisan budaya yang terancam punah dengan memperkuat mekanisme Urgent Safeguarding List bagi tradisi berisiko mengalami kepunahan
Meningkatkan akses bantuan internasional agar lebih efektif, responsif, dan mudah dijangkau oleh negara anggota.
Memberdayakan peran masyarakat sipil dan komunitas budaya dalam proses pengambilan keputusan melalui perluasan organisasi non-pemerintah.
Menyiapkan warisan budaya menghadapi masa depan melalui kebijakan etika digital, AI, dan penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim
Hanadia Syahidah