Berita menggembirakan datang dari perekonomian Jakarta. Tingkat kemiskinan di Jakarta mengalami penurunan ke angka 3,96 persen pada Maret 2026 dan kini berada di bawah 4 persen. Pencapaian ini langsung disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam acara Jakarta Contributors Award 2026 di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026). Pada acara tersebut, ia juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah membayar pajak.
Source: IDN Times
Apa Kata Data BPS Soal Tingkat Kemiskinan Jakarta?
Menurut BPS DKI Jakarta, jumlah penduduk miskin di Jakarta pada Maret 2026 sebanyak 432,62 ribu orang. Angka ini mengalami penurunan sekitar 6,5 ribu orang lebih rendah dari September 2025 (439,12 ribu orang), atau turun 0,07 poin persentase. Dibandingkan dengan bulan Maret 2025 yang mencapai angka 464,87 ribu orang, jumlah warga miskin berkurang sekitar 32 ribu orang dalam setahun.
Garis kemiskinan Jakarta pada Maret 2026 ditetapkan di Rp925.525 per kapita per bulan. Dengan rata-rata 4,89 anggota rumah tangga miskin, garis kemiskinan per rumah tangga mencapai Rp4.525.817 per bulan. Secara nasional, tingkat kemiskinan Jakarta menempati peringkat ketiga terendah, setelah Bali (3,44 persen) dan Kalimantan Selatan (3,63 persen).
Benarkah Baru Pertama Kali di Bawah 4 Persen?
Pramono menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan perkembangan yang membanggakan. “Baru pertama kali ini Jakarta tingkat kemiskinannya di bawah 4 persen,” ujarnya. Namun, data BPS menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Jakarta pernah berada di bawah 4 persen sebelum pandemi COVID-19.
Pada Maret 2019, tingkat kemiskinan Jakarta tercatat sebesar 3,47 persen, kemudian turun menjadi 3,42 persen pada September 2019. Dengan demikian, angka 3,96 persen pada Maret 2026 bukan pertama kalinya Jakarta berada di bawah 4 persen. Capaian tersebut lebih tepat dipahami sebagai penurunan kemiskinan setelah angkanya meningkat pada masa pandemi dan periode setelahnya.
Indikator Pendukung
Menurut Pramono, penurunan kemiskinan sejalan dengan ekonomi Jakarta yang tetap solid di tengah tekanan global. Pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai angka 5,52 persen dengan kontribusi 16,32 persen terhadap PDB nasional. Inflasi terkendali di kisaran 2,5 hingga 2,7 persen dan menjadi yang terendah di Jawa-Bali, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di 5,79 persen.
Pemaparan “Performa Jakarta” yang beredar juga memuat PDRB per kapita Rp367,69 juta (2025), realisasi investasi Rp270,9 triliun (2025), angka harapan hidup 76,27 tahun (2025), harapan lama sekolah 13,8 tahun (2025), dan prevalensi stunting 17,2 persen (2024). (Sumber: unggahan Instagram @jakarta.global.city, 15 Oktober 2026).
Ucapan Terima Kasih Kepada Masyarakat yang Bayar Pajak
Pada acara tersebut, Pemprov DKI memberikan penghargaan kepada 73 wajib pajak: 50 wajib pajak PBJT, 18 PBB-P2, dan lima kontributor pajak reklame. Realisasi pajak daerah per 14 Oktober 2026 tercatat Rp36,1 triliun atau sekitar 73 persen dari target tahun ini. Pramono mengubah rencana sambutannya menjadi ungkapan terima kasih. “Saya mau berterima kasih dan mempertanggungjawabkan apa yang Bapak Ibu bayar,” katanya.
Pramono menggambarkan pajak kembali sebagai layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, transportasi, perumahan, serta penanganan sampah, banjir, stunting, dan kemiskinan. Ia juga memberikan contoh, yaitu renovasi 19 gedung sekolah, dan memastikan anggaran bantuan pendidikan tidak boleh dikurangi karena lewat pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Sejak awal menjabat, ia sudah menetapkan bahwa ia akan fokus pada tiga hal: pendidikan, kesehatan, dan bantalan sosial.
Pekerjaan Rumah: Ketimpangan
Meskipun begitu, rasio gini Jakarta 0,435 menempatkannya di antara provinsi paling timpang. Pramono mengakui bahwa masih banyak nasib warganya yang termajinalkan. Menurut analisis Kompas, masih banyak warga yang secara statistik tidak miskin tetapi tetap rentan karena biaya hidup yang tinggi, dan pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak dinikmati oleh kelompok atas.
Muhammad Ichsan