Jessica Shally Anisa dikukuhkan sebagai anggota DTKJ periode 2026-2029 pada Jumat, 3 Juli 2026, jadi perwakilan Gen Z pertama di antara 17 anggota DTKJ dalam usia 25 tahun
Latar belakang pendidikannya multi disiplin ilmu, lulusan teknik tata kota dari Turki dan sempat memperdalam ilmu ekonomi-manajemen di Malaysia
Rekam jejak kariernya udah malang melintang, mulai dari Kemensetneg, Kemenko Transmigrasi, sampai pengalaman kerja langsung di dua kota Turki
Pendekatannya soal transportasi Jakarta ternyata lebih menekankan data dan perilaku masyarakat, bukan cuma soal bangun infrastruktur baru
Jakarta punya sejarah baru di dunia transportasi. Untuk pertama kalinya, seorang anak muda resmi masuk ke jajaran Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), lembaga yang selama ini identik dengan wajah-wajah senior dan berpengalaman panjang.
Dialah Jessica Shally Anisa, profesional muda ahli tata kota yang di usia 25 tahun udah dipercaya duduk di kursi strategis DTKJ periode 2026-2029. Penasaran gimana rekam jejak dan visinya sampai bisa menyandang gelar Gen Z pertama di lembaga ini? Berikut penjelasannya.
Sejarah Baru: Gen Z Pertama Duduk di DTKJ
Jessica Shally Anisa resmi dilantik sebagai anggota DTKJ periode 2026-2029 dalam seremoni yang dipimpin langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Di usia 25 tahun, ia mencatatkan diri sebagai perwakilan generasi muda pertama yang berhasil masuk ke lembaga tersebut, dari total 17 anggota DTKJ periode ini. Amanah yang dipercayakan padanya juga gak main-main, ia dipercaya mengisi posisi sebagai Anggota Komisi Hukum dan Hubungan Masyarakat, salah satu komisi strategis yang berkaitan langsung dengan tata kelola dan komunikasi publik DTKJ. Pencapaian ini jadi bukti kalau ruang kebijakan publik Jakarta kini makin terbuka buat ide-ide segar dari anak muda.
Bekal Pendidikan dari Turki sampai Malaysia
Keahlian Jessica di bidang perencanaan wilayah gak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan lulusan sarjana teknik jurusan City/Urban, Community and Regional Planning dari Kırklareli Üniversitesi, Turki. Menariknya, ia juga sempat memperdalam ilmunya di Universiti Putra Malaysia, tepatnya di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, sebuah kombinasi latar belakang teknik dan ekonomi yang cukup jarang ditemukan di kalangan ahli tata kota. Biar makin diakui di dunia kerja, ia juga mengantongi sertifikasi resmi sebagai Surveyor And Mapper dari MAPID pada November 2025. Kombinasi pendidikan lintas negara dan sertifikasi teknis ini jadi salah satu modal utama yang bikin banyak pihak optimistis sama kiprahnya di DTKJ.
Rekam Jejak Karier yang Udah Malang Melintang
Sebelum masuk DTKJ sebagai anggota komisi, Jessica ternyata udah mengantongi segudang pengalaman kerja, baik di dalam maupun luar negeri. Ia sempat bergabung di Tim Program Percepatan Kementerian Transmigrasi RI sejak Mei 2026, lalu sebelumnya juga sudah lebih dulu berkecimpung di DTKJ sebagai Transportation Planner sejak Juni 2024 hingga April 2026, termasuk menggarap riset proyeksi penumpang LRT Jakarta Fase 1B. Jauh sebelum itu, pada 2022, ia sempat mengabdi di Biro Perencanaan Kemensetneg dan ikut menyumbang ide dalam perencanaan awal IKN. Pengalamannya juga merambah ke Turki, lewat posisi Research Study and Project Assistant di Kırklareli Metropolitan Municipality dan Infrastructure Analyst di Eskişehir Büyükşehir Belediyesi. Ditambah lagi, jiwa kepemimpinannya udah terasah sejak kuliah lewat berbagai posisi organisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki.
Perspektif Gen Z yang Beda dari Anggota DTKJ Lain
Di antara para praktisi dan ahli transportasi senior yang jadi anggota DTKJ, Jessica sadar betul posisinya sebagai wajah baru. Ia mengakui, figur-figur lain di DTKJ udah lebih dulu terjun ke dunia transportasi dengan pengalaman teknis dan kelembagaan yang matang. Bedanya, Jessica membawa perspektif pengguna muda, generasi yang bakal paling lama merasakan dampak dari kebijakan transportasi hari ini. Menurutnya, transportasi urban gak cukup diselesaikan lewat infrastruktur, tapi juga lewat pemahaman perilaku masyarakat dan kebijakan berbasis data.
"Tantangan transportasi juga harus diselesaikan lewat pemahaman terhadap perilaku masyarakat, tata kelola yang rapi, komunikasi publik yang baik, serta kebijakan yang berdasarkan data dan riset," jelas Jessica.
Perbedaan sudut pandang inilah yang ia yakini bisa melengkapi pengalaman para anggota senior lainnya.
Apa Artinya Buat Masa Depan Transportasi Jakarta?
Kehadiran Jessica di DTKJ bukan cuma soal simbol keterwakilan Gen Z, tapi juga sinyal bahwa kebijakan transportasi Jakarta ke depan bakal makin terbuka sama pendekatan berbasis data, teknologi, dan kolaborasi lintas generasi. Ia berharap rekomendasi DTKJ semakin responsif terhadap kondisi lapangan, mulai dari integrasi data perjalanan, sistem informasi real-time, sampai elektrifikasi kendaraan umum. Bagi Jessica sendiri, kontribusi anak muda gak melulu soal jadi pengguna transportasi publik, tapi juga bisa lewat riset, diskusi, komunitas, sampai advokasi kebijakan.
Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Tak Ingin Berada dalam Budaya Kerja Toxic
"Kontribusi tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap masukan, dan mampu bekerja sama dengan berbagai pihak," ucapnya.
Jadi, meski banyak yang mengira urusan macet Jakarta cukup diselesaikan lewat pembangunan fisik, sosok Jessica Shally justru membuktikan kalau data dan suara generasi muda juga punya peran yang sama pentingnya.
Naufal Mamduh