Kenapa Messi Dijuluki "Anak FIFA"? Ini 6 Fakta di Balik Julukan yang Makin Viral usai Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026

  • Boy Nugroho
  • Julukan "anak FIFA" viral lagi usai laga kontroversial Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026.

  • Gol Mesir yang dianulir dan penalti yang tak diberikan memicu perdebatan soal keputusan wasit.

  • Messi juga pernah lolos dari kartu merah, sehingga tudingan keberpihakan kembali mencuat.

  • Hingga kini, belum ada bukti yang menunjukkan FIFA sengaja menguntungkan Argentina atau Messi.

  • Di tengah kontroversi, Messi tetap tampil gemilang dengan gol dan rekor yang terus bertambah.


Label "anak FIFA" kembali ramai diperbincangkan usai laga kontroversial Argentina melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026.


Julukan yang disematkan kepada Lionel Messi ini sebenarnya sudah lama beredar di kalangan pencinta sepak bola, tetapi kembali viral setelah sejumlah keputusan wasit dan VAR dinilai menguntungkan Argentina.


Kontroversi tersebut memicu beragam reaksi di media sosial. Ada yang meyakini keputusan itu hanya bagian dari dinamika pertandingan, tetapi tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan teori bahwa Messi mendapat perlakuan istimewa dari FIFA.


Lantas, dari mana sebenarnya julukan "anak FIFA" berasal? Berikut enam fakta yang melatarbelakangi munculnya label tersebut. Yuk, simak Oppal Gengs!


1. Bermula dari Comeback Dramatis Argentina Lawan Mesir


Julukan "anak FIFA" ramai dipakai warganet usai laga 16 besar Argentina vs Mesir di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, yang berakhir 3-2 untuk Argentina. Mesir sempat unggul dua gol lewat Yasser Ibrahim dan Mostafa Zico, sebelum Argentina bangkit lewat gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan gol penentu Enzo Fernandez di masa injury time.


Comeback inilah yang memicu gelombang komentar dari netizen di platform X yang menyebut kemenangan itu "terlalu kebetulan". Tudingan miring soal FIFA yang dianggap "menganakemaskan" Messi demi kepentingan bisnis pun langsung viral usai laga tersebut.


Bahkan pelatih Mesir, Hossam Hassan, ikut menyulut api dengan pernyataan bahwa mungkin ada pihak yang "ingin Messi tetap bersaing" di turnamen ini, meski ia sendiri mengaku tak punya bukti konkret atas tudingan tersebut.


2. Gol Mesir Dianulir VAR, Insiden Salah Tak Berbuah Penalti


Dua momen krusial jadi sorotan utama dalam laga ini.


Pertama, gol kedua Mesir dari Mostafa Zico dianulir wasit Francois Letexier usai VAR mendeteksi pelanggaran terhadap Lisandro Martinez jauh sebelum proses gol terjadi.


Kedua, di masa injury time, Mohamed Salah terjatuh di kotak penalti Argentina usai kontak dengan Julian Alvarez, namun wasit tidak menunjuk titik putih dan bahkan tidak melakukan pengecekan monitor VAR.


Keputusan itu memicu perdebatan panjang karena dianggap tidak konsisten dengan keputusan serupa yang merugikan Mesir. Sejumlah pengamat sepak bola bahkan menilai insiden anulir gol Mesir berada di luar kewenangan standar VAR menurut aturan Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB), meski penafsiran ini masih jadi perdebatan di kalangan wasit profesional.


3. Bukan Kali Pertama, Messi Juga "Lolos" dari Kartu Merah Lawan Aljazair


Fakta menarik lain yang bikin narasi "anak FIFA" makin kuat adalah insiden di fase grup saat Argentina melawan Aljazair. Messi sempat lolos dari ancaman kartu merah usai melakukan tekel dari belakang, di mana wasit dan VAR akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil tindakan tegas terhadapnya. Insiden inilah yang kemudian dibandingkan warganet dengan dua keputusan kontroversial saat laga melawan Mesir, membentuk pola yang dianggap berulang sepanjang perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026.


Meski begitu, belum ada pernyataan resmi dari FIFA maupun IFAB yang mengonfirmasi adanya kesalahan sistematis dalam rangkaian keputusan tersebut.


4. Faktor Bisnis di Balik "Perlindungan" untuk Messi


Selain aspek teknis di lapangan, ada juga sudut pandang bisnis yang bikin narasi "anak FIFA" makin masuk akal buat sebagian orang. FIFA disebut-sebut "ikut selamat" dari potensi kerugian jutaan dolar AS berkat lolosnya Argentina dan bertahannya Messi di turnamen ini, mengingat besarnya daya tarik komersial sang megabintang bagi rating siaran dan penjualan tiket.


Dalam wawancara yang dikutip dari CGTN Europe, profesor olahraga dari Emlyon Business School, Simon Chadwick, turut menyoroti soal legitimasi sejumlah keputusan kontroversial di Piala Dunia 2026 ini, termasuk mengaitkannya dengan hubungan politik antara Presiden Argentina Javier Milei dan mantan Presiden AS Donald Trump. Namun, Chadwick sendiri menekankan bahwa hal ini masih sebatas spekulasi tanpa bukti yang menguatkan.


5. Faktor Performa: Messi Tetap Mencetak Rekor Nyata di Lapangan


Di balik semua kontroversi, ada fakta yang nggak boleh dilupakan bahwa performa Messi di Piala Dunia 2026 memang tetap mentereng secara statistik.


Berdasarkan statistik terbaru, Messi memimpin daftar sementara pencetak gol terbanyak turnamen dengan raihan gol yang terus bertambah, sekaligus memperpanjang rekor pribadinya menjadi 19 gol sepanjang sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, pun menegaskan bahwa performa impresif timnya murni buah dari kerja keras di lapangan, bukan bantuan dari pihak eksternal manapun.


Fakta ini penting buat menyeimbangkan narasi, karena secanggih apa pun teori konspirasi yang beredar, rekor gol dan kontribusi nyata Messi di setiap pertandingan tetap jadi bukti kualitas individu yang sulit dibantah begitu saja.


6. Julukan yang Terus Menempel di Setiap Langkah Argentina


Fenomena julukan "anak FIFA" ini sebenarnya bukan barang baru. Istilah serupa juga pernah muncul di berbagai turnamen sebelumnya setiap kali sebuah tim atau pemain bintang mendapat keputusan wasit yang menguntungkan secara beruntun.


Bedanya, di Piala Dunia 2026 ini, julukan tersebut makin cepat menyebar berkat kekuatan media sosial dan tingginya sorotan terhadap laga-laga Argentina yang memang selalu dramatis.


Sampai artikel ini ditulis, belum ada bukti konkret keterlibatan institusional FIFA dalam memenangkan Argentina secara sistematis, sebagaimana disampaikan dalam laporan Beritasatu.


Namun, narasi ini tampaknya bakal terus membayangi setiap langkah Messi dan Argentina di sisa turnamen, terlebih jika keputusan-keputusan kontroversial serupa kembali terjadi di babak-babak selanjutnya.


Kalau ditarik benang merahnya, Oppal Gengs, julukan "anak FIFA" buat Messi ini sebenarnya lahir dari perpaduan dua hal besar, yakni kualitas individu Messi yang memang luar biasa di lapangan, serta sederet keputusan wasit yang kebetulan (atau tidak) selalu menguntungkan Argentina di momen-momen krusial.


Kedua hal itu saling bertabrakan dan menciptakan perdebatan publik yang sulit dituntaskan hanya dengan argumen sepihak, apalagi tanpa bukti institusional yang jelas dari FIFA sendiri.


Pada akhirnya, julukan ini jadi cerminan betapa besarnya sorotan dunia terhadap sosok Messi dan timnas Argentina di Piala Dunia 2026. Entah kamu percaya ada "skenario tersembunyi" atau tidak, satu hal yang pasti adalah bahwa setiap langkah Messi di turnamen ini akan terus jadi magnet perhatian, kritik, sekaligus kekaguman dari seluruh dunia.


Jadi, gimana menurutmu, Oppal Gengs? Murni kualitas atau ada faktor lain di baliknya? Yuk, nonton kelanjutan laganya bareng-bareng!