Siapa sih di sini yang nggak pernah mampir ke Alfamart? Entah cuma buat beli air mineral dingin pas lagi panas-panasnya Jakarta, atau sekadar numpang ngadem sambil liat-liat promo.
Tapi tahu nggak sih, Oppal Gengs, di balik ribuan gerai yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, ada sosok Djoko Susanto, pria yang membuktikan kalau kesuksesan itu nggak melulu soal gelar akademik.
Dari Pasar Cikini Menembus Jajaran Orang Terkaya
Kisah Pak Djoko ini bener-bener definisi start from the bottom. Bayangin, beliau harus putus sekolah saat baru masuk kelas 1 SMA. Bukan karena nggak pinter, tapi karena keadaan yang memaksa beliau untuk membantu usaha orang tuanya.
Langkah awalnya dimulai dari sebuah kios sederhana di Pasar Cikini, Jakarta. Di sana, beliau jualan bahan pokok hingga rokok. Dari yang awalnya cuma ngurusin warung kelontong kecil, insting bisnisnya mulai tajam. Beliau nggak cuma jualan, tapi belajar gimana caranya mengelola stok, melayani pelanggan, sampai akhirnya "dilamar" oleh Putera Sampoerna untuk kerja sama. Dari sanalah cikal bakal minimarket kita andalan orang Indonesia ini lahir.
Putus Sekolah Tapi Masuk Daftar Forbes, Kok Bisa?
Mungkin banyak yang mikir, "Ah, itu kan zaman dulu, sekarang mah susah." Tapi poin pentingnya bukan soal kapan beliau memulai, melainkan mentalitasnya. Pak Djoko membuktikan kalau ijazah mungkin bisa membantumu dapat kerja, tapi kerja keras dan keberanian mengambil risiko yang bikin kamu punya usaha sendiri.
Berkat ketekunannya, sekarang nama Djoko Susanto konsisten bertengger di daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Kekayaannya? Nggak usah ditanya lagi, jumlahnya triliunan! Tapi yang lebih keren, beliau berhasil menciptakan lapangan kerja buat ratusan ribu orang di Indonesia. Sebuah pencapaian yang bahkan pemilik gelar profesor pun belum tentu bisa lakuin se-masif ini.
Konsistensi Adalah Kunci!
Kisah Pak Djoko ini bukan bermaksud nyuruh kalian buat ramai-ramai putus sekolah ya, gengs! Poinnya adalah, pendidikan itu penting, tapi semangat buat terus belajar dan konsistensi itu jauh lebih penting. Buat kamu yang mungkin sekarang lagi ngerasa stuck, ngerasa nggak punya privilese, atau merasa minder karena latar belakang pendidikan yang biasa-biasa aja, inget Pak Djoko. Beliau memulai dari kios pasar, tapi mimpinya nggak berhenti di sana.
Tapi inget kisah Pak Djoko ini bukan jadi alasan agar kita gak sekolah yaa.
Bayu Dewantara