Siapa yang menyangka, di tengah duka akibat tragedi kereta di Stasiun Bekasi Timur, satu pernyataan dari seorang menteri bisa bikin timeline seluruh platform media sosial Indonesia mendadak jadi panggung komedi? Pastinya, hal ini tidak terduga.
Usai tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line pada Senin malam 27 April 2026 yang menewaskan 15 penumpang perempuan di gerbong belakang, Menteri PPPA Arifah Fauzi langsung bergerak cepat. Beliau menjenguk korban di RSUD Bekasi, lalu melontarkan sebuah usulan.
"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung, yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah," Menteri PPPA Arifah Fauzi di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Niatnya baik, tapi internet selalu punya cara sendiri untuk merespons. Dan malam itu, para netizen tidak menyia-nyiakan kesempatan. Platform X selalu jadi medan pertama netizen melampiaskan semua perasaan terhadap pernyataan itu. Yang paling telak datang dari akun @hadiologi yang langsung kasih "kuliah" gratis soal teknis KRL.
"Bu menteri kok pemikirannya begitu ya bu? Setahu saya, kebijakan KAI memasang gerbong wanita di ujung rangkaian itu untuk memudahkan operasional dan pengamanan, dan kalau ditaruh di tengah rangkaian akan menyulitkan penyusunan karena rangkaian ada yang 8, 10, dan 12 gerbong," katanya.
Ada pula yang langsung nyeletuk, seperti yang dilakukan @sungchanana di X. "Cowok juga bisa mati bu," tulisnya.
Celetukan lain juga datang dari akun @FKadafi29, sambil menampilkan gambar scene ikonik pada film Spiderman 2 yang berhasil menahan kereta dengan jaringnya. "Dipikirnya semua laki-laki Spiderman kali," ucapnya.
Kemudian juga dari @stnsooyaaa_, yang mengatakan jika laki-laki wajib punya haki seperti di anime One Piece agar lebih 'tahan banting'. "Laki-laki yang mau masuk kereta siapin busho haki full body," terang dia.
Di platform Instagram pun tak kalah seru, seperti yang disampaikan @difi_raw. "Pria: lahir, sekolah, kuliah, bekerja, berkorban," tulisnya di cuitan @folkkonoha.
Hampir serupa dengan yang barusan, @arief.fat menggambarkan dengan lebih detil. "Sabar ya laki-laki, kecil diomelin orang tua, sekolah diomelin guru, pengangguran diomelin tetangga, kerja diomelin bos, nikah diomelin istri, di kereta dijadikan tumbal," sahutnya.
Ada juga yang lebih kreatif, dengan mengusulkan agar setiap orang difasilitasi 'baju tempur'. "Tambahannya bu, agar lebih aman untuk laki-laki, setiap orang difasilitasi baju besi ala gladiator," cuitnya.
Di TikTok pun tidak kalah asbun, @bang_co1999 salah satunya. "Suruh cari solusi, malah ganti formasi," serunya.
Lagi, @aparabener usul perubahan jalur kereta, bukan ke stasiun, tapi ke sini. "Ini usul dari saya ya buk, gimana kalo rute kereta diubah aja ke arah rumah ibu," kata dia.
Namun di balik semua sindiran itu, ada satu benang merah yang menarik, netizen Indonesia peduli. Mereka marah bukan karena iseng, tapi karena mereka, terutama para pengguna KRL harian benar-benar merasakan dampaknya.
Mereka tahu betapa sesaknya gerbong, betapa lelahnya commute harian, dan betapa traumanya bisa membayangkan tragedi seperti yang terjadi di Bekasi Timur.
Komentar-komentar lucu itu adalah cara mereka berdebat, mengingatkan, dan menuntut, dengan bahasa yang lebih mudah dipahami semua orang daripada paper akademik atau rilis resmi pemerintah.
Saifan Zaking