Kucing Berpotensi Hidup Lebih Lama Jika di Dalam Rumah, Ini Alasannya

  • Saifan Zaking

Banyak pemilik kucing beranggapan bahwa membiarkan kucing mereka bebas keluar masuk rumah, memberi mereka kebebasan untuk menjelajah dan "menikmati hidup" adalah bentuk kasih sayang. Namun, penelitian ilmiah justru membuktikan sebaliknya. Mengutip laman _Phys.org_, studi terhadap 55 kucing yang berkeliaran bebas di AS mencatat 25% berisiko keracunan, 45% saat menyeberang jalan raya, 25% bertemu kucing lain yang berpotensi memicu perkelahian, 20% merayap di bawah rumah dan 20% menjelajahi saluran drainase.

Temuan lainnya juga terekam di Selandia Baru, dengan 37 kucing yang dipantau kamera dengan 59% minum di luar rumah, 40% makan sesuatu di luar rumah, 32%, menyeberang jalan raya, 21% memanjat atap. Kemudian penelitian di Australia melakukan riset terhadap 428 kucing yang dipasangi pelacak radio, menunjukkan bahwa rata-rata menyeberang jalan sekitar 4,8 kali sehari, yang menurunkan angka hidup kucing karena adanya potensi kecelakaan.

Perbedaan Umur yang Sangat Mencolok


Melansir _Purely Pets Insurance_ menunjukkan jurang yang besar antara harapan hidup kucing indoor dan outdoor. Rata-rata umur harapan hidup kucing indoor berkisar antara 12 hingga 15 tahun. Bahkan, banyak kucing indoor yang bisa hidup hingga akhir belasan tahun, dan beberapa bahkan mencapai usia dua puluhan. Sebaliknya, kucing outdoor memiliki umur harapan hidup yang jauh lebih rendah, berkisar antara 2 hingga 5 tahun.

Para peneliti memperkirakan kucing peliharaan yang bebas berkeliaran memiliki umur rata-rata 2–3 tahun lebih pendek dibandingkan kucing yang dipelihara secara terkontrol di rumah. Bahkan kucing yang selamat dari kecelakaan atau penyakit sering mengalami cacat permanen. Kucing rumahan yang banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dapat hidup tiga kali lebih lama dari kucing yang berada di luar ruangan. Umumnya kucing rumahan juga disterilkan, divaksinasi, dan dijauhkan dari tekanan atau bahaya dunia luar.

Faktor Umur Panjang Kucing Indoor

Berdasarkan panduan dari _American Animal Hospital Association (AAHA)_ dan berbagai penelitian veteriner, ada sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa kucing yang dijaga di rumah cenderung berumur lebih panjang:

1. Pemantauan Kesehatan Mudah

Gaya hidup kucing yang terkontrol memungkinkan pemilik memantau kondisi kesehatan hewan secara menyeluruh setiap hari.

2. Nutrisi Terkontrol

Kucing rumahan mendapatkan asupan nutrisi yang stabil dan higienis dari pemiliknya setiap hari. 

3. Sterilisasi

Kucing yang sudah menjalani sterilisasi cenderung hidup lebih lama karena risiko kanker reproduksi menurun drastis.

4. Vaksinasi

Kucing yang dipelihara indoor berisiko lebih kecil mengalami trauma atau penyakit menular, sehingga hidup lebih lama.

5. Lingkungan Aman

Kucing yang tinggal di dalam rumah cenderung memiliki umur lebih panjang karena terlindungi dari berbagai risiko seperti kecelakaan, serangan predator, dan penyakit menular.

Namun perlu disadari, menjaga kucing tetap di rumah bukan berarti mengurung sepenuhnya. Ada berbagai cara agar kucing tetap bisa menikmati udara luar dengan aman, misalnya memasang roller di bagian atas pagar agar kucing tidak melompat keluar, membuat catio (area halaman yang diberi pagar khusus untuk kucing), atau melatih kucing berjalan menggunakan tali dan harness sehingga bisa diajak keluar dengan pengawasan.

Ciri-ciri Kucing Sedang Sakit

Perlu disadari juga oleh para pemilik anabul bahwa kucing sangat pandai menyembunyikan ketidaknyamanan mereka saat sakit. Tanda-tanda penyakit mungkin tidak terlihat jelas sampai kucing merasa sangat tidak sehat. Berikut ciri-cirinya:

1. Perubahan Perilaku dan Aktivitas

Kucing yang biasanya aktif dan ceria tiba-tiba menjadi pendiam, sering bersembunyi, atau kurang responsif terhadap lingkungan sekitar, ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan.

2. Perubahan Nafsu Makan

Salah satu ciri awal yang terlihat saat kucing sakit adalah perubahan nafsu makan, makanan kucing lebih banyak bersisa dari biasanya atau bahkan tidak dimakan sama sekali.

3. Kondisi Bulu

Ciri-ciri kucing sakit yang dapat dilihat secara langsung adalah perubahan pada fisiknya, meliputi bulu yang rontok dan berminyak, bulu yang kusut, terdapat gumpalan rambut yang lepas, peningkatan jumlah ketombe, serta badan yang terlihat lebih kurus.

4. Masalah Pencernaan

Jika kucing mengalami muntah dan juga diare, segera bawa ke dokter hewan untuk mengetahui penyebabnya. Kondisi ini dapat dipicu oleh parasit usus, infeksi bakteri atau virus, penyakit ginjal, hingga keracunan.

5. Perubahan Suara

Kucing yang biasanya tidak banyak bersuara tiba-tiba sering mengeong atau mengeluarkan suara yang berbeda dari biasanya bisa menandakan adanya rasa sakit atau ketidaknyamanan.

6. Tanda Dehidrasi

Untuk mengetahui apakah kucing mengalami dehidrasi, lakukan pengecekan turgor kulit: pegang lembut kulit di dekat tulang belikat, tarik ke atas menjauh dari tubuhnya, lalu lepaskan. Kulit harus segera kembali ke tempatnya — jika tidak, itu menandakan dehidrasi.

7. Gangguan Buang Air

Kondisi ini bahkan bisa menjadi tanda gangguan kesehatan serius dan mengancam jiwa. Waspadai jika kucing mengejan dan kesakitan saat buang air kecil, jarang atau tidak pernah buang air, serta muntah dan diare dalam jangka panjang.

8. Bau Mulut

Bau mulut pada kucing dapat disebabkan oleh penyakit gigi, misalnya karang gigi, radang gusi, gigi abses, atau tumor di mulut.

Selain ciri-ciri di atas, kucing juga bisa menunjukkan gejala lainnya seperti minum lebih banyak, mata merah atau berair, buang air kecil berdarah, demam, atau bulu rontok. Gejala sesak napas, batuk, bersin, dan pilek pada kucing bisa disebabkan oleh pneumonia. Segera bawa kucing ke klinik hewan jika salah satu dari tanda-tanda tersebut muncul, karena deteksi dini adalah kunci penyelamatan.