Mengenal Job Hugging: Mengapa Kita Takut Resign di Tahun Ini?

  • Saifan Zaking
  • Job hugging makin marak: Banyak pekerja memilih bertahan meski sudah tidak nyaman karena takut kehilangan penghasilan dan sulit mencari kerja baru

  • PHK dan pengangguran meningkat: Tingginya angka PHK serta minimnya lowongan membuat pekerja enggan mengambil risiko pindah kerja

  • Anomali ekonomi: Data ekonomi positif tidak sepenuhnya dirasakan pekerja karena tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pasar

  • AI memicu kecemasan karir: Otomatisasi dan AI membuat banyak pekerja khawatir posisinya tergantikan di masa depan.

Beragam orang yang bekerja kini merasa bahwa pekerjaannya berjalan di tempat. Salah satunya adalah Rian, karyawan operasional di perusahaan logistik metropolitan. Dengan target makin tinggi, jumlah karyawan berkurang sejak efisiensi dilakukan, sementara kenaikan jabatan tak pernah lagi terdengar.

Dirinya pun telah beberapa kali mencoba melamar ke perusahaan lain, tetapi sebagian besar lowongan meminta pengalaman yang lebih spesifik atau menawarkan gaji yang tak jauh berbeda. Pada akhirnya, ia memilih bertahan sambil mengatakan bahwa dirinya sudah lelah, tapi jikapun keluar belum tentu dapat yang lebih aman.

Apa yang dialami Rian kini semakin banyak terjadi di dunia kerja Indonesia. Di tengah perlambatan perekrutan, gelombang efisiensi perusahaan, dan ketidakpastian ekonomi global, banyak pekerja memilih tetap tinggal di pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak lagi memberi kepuasan. 

Mereka bertahan bukan karena loyalitas tinggi atau kenyamanan, melainkan karena rasa khawatir kehilangan stabilitas. Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai job hugging, yakni situasi ketika karyawan ‘memeluk’ pekerjaannya erat-erat demi rasa aman, meski motivasi dan keterikatannya terhadap pekerjaan mulai memudar

Apa Itu Job Hugging?

Job hugging adalah kebalikan dari tren yang pernah ramai beberapa tahun lalu, job hopping, atau kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan demi gaji lebih tinggi atau pengalaman baru. Jika job hopping mencerminkan keberanian dan ambisi, job hugging mencerminkan kecemasan yang mendalam.

Istilah ini pertama kali ramai diperbincangkan di Amerika Serikat, setelah laporan Job Openings and Labor Turnover Survey dari Departemen Tenaga Kerja AS pada Agustus 2025 mengungkapkan bahwa tingkat pekerja yang secara sukarela mengundurkan diri hanya berada di angka 2 persen, terendah sejak 2016, bahkan di luar periode pandemi COVID-19. Fenomena tersebut segera menjalar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Definisinya sederhana namun berat. Job hugging adalah kondisi ketika seorang pekerja tetap bertahan di posisi yang dirasakannya tidak memuaskan, tidak memberinya ruang berkembang, atau bahkan tidak disukainya semata-mata karena takut kehilangan stabilitas.

Indonesia Ladang Subur bagi Job Hugging

Kondisi pasar kerja Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi tanah yang sangat subur bagi fenomena ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang. Angka ini setara dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen. Di kelompok usia muda (15–24 tahun), situasinya jauh lebih mengerikan: TPT mereka mencapai 16,36 persen berdasarkan data Sakernas Februari 2026, tiga kali lipat rata-rata nasional.

Sementara itu, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus berdatangan. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat angka PHK pada Januari-Februari 2026 saja mencapai 7.863 orang. Hingga Triwulan I-2026, total PHK sudah menembus 8.389 pekerja, yang didominasi Provinsi Jawa Barat.

Di tengah data-data yang menekan itu, pilihan untuk "memeluk erat pekerjaan" terasa bukan sekadar irasional, melainkan satu-satunya pilihan logis.

Mengapa Ini Terjadi? Lima Akar Penyebab

1. Ekonomi yang Tumbuh di Atas Fondasi yang Retak

Di atas kertas, angka makroekonomi Indonesia terlihat meyakinkan. BPS mencatat PDB tumbuh 5,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026 tertinggi sejak 2012. Namun di balik angka itu, ada kontradiksi yang mencolok di hari yang sama BPS merilis data pertumbuhan tersebut, nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh kisaran Rp 17.400 per dolar AS.

Para pengamat pun menyebut ini sebagai anomali serius. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang solid seharusnya diikuti penguatan rupiah, bukan sebaliknya. Indeks Keyakinan Konsumen juga merosot dari 127 basis poin menjadi 122,9 basis poin pada Maret 2026, meski data konsumsi rumah tangga diklaim tumbuh 5,52 persen. Kesenjangan antara angka makro dan realitas di lapangan inilah yang membuat pekerja tetap waspada dan enggan mengambil risiko berpindah pekerjaan.

2. Bayangan PHK yang Tak Kunjung Sirna

Berita PHK menjadi latar belakang yang terus menghantui pekerja Indonesia. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 8.389 pekerja terdampak PHK hanya dalam kuartal I 2026 (Januari–Maret). Jawa Barat menjadi episentrum dengan 1.721 pekerja atau sekitar 20,5 persen dari total nasional, disusul Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

3. Ancaman AI yang Kian Nyata di Tempat Kerja

Kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan bukan lagi abstrak, ia sudah masuk ke ruang rapat dan lantai produksi. Laporan Workplace Happiness Index Jobstreet 2026 mengungkap bahwa lebih dari separuh pekerja di sektor teknologi Indonesia menyebut otomatisasi dan AI sebagai risiko serius terhadap stabilitas karir mereka. Generasi Z menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan ini sekaligus yang paling rentan terhadap stres dan ketidakpastian karir.