Berita duka kembali menyelimuti para pejuang pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah. Dalam rentang beberapa hari, dua relawan yang selama ini berjibaku untuk memadamkan api dilaporkan gugur setelah sebelumnya sempat mengalami gangguan kesehatan dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kepergian dua pahlawan ini menjadi tanda bahwa risiko yang dihadapi para tim garda terdepan yang menangani karhutla sangatlah besar. Kejadian ini menjadi bukti nyata dedikasi mereka yang rela mempertaruhkan nyawa dan kesehatan untuk membantu banyak orang dan membuat situasi di Kalimantan bisa kembali normal.
Source photo: txtdrimedia
Akhmad Rijani, Ketua TSAK Palangkaraya
Korban pertama adalah Akhmad Rijani (54), yang berposisi sebagai Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Palangka Raya, Kota Palangka Raya. Sebelumnya, ia sempat mengeluh mengalami sesak napas dan kondisinya drop setelah selesai bertugas memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan. Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, menjelaskan bahwa almarhum memiliki riwayat hipertensi yang juga memberatkan kondisinya. "Almarhum memiliki hipertensi bawaan. Keterangan dari keluarga, ini yang menjadi penyebab meninggalnya almarhum setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit," kata Fairid.
Setelah menjalani perawatan intensif selama enam hari di Rumah Sakit Betang Pambelum, Rinjani akhirnya harus menghembuskan napas terakhirnya pada hari Kamis (27/8/2026). Selama lebih dari 10 tahun, ia telah memimpin TSAK Palangka dan dikenal sering turun ke lapangan secara langsung untuk membantu memadamkan api maupun mencegah terjadinya karhutla di wilayahnya.
Kepergiannya meninggalkan rasa duka yang mendalam di berbagai pihak. Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, menyebut sosok Rijani sebagai pahlawan. "Ini adalah pahlawan dalam rangka mengatasi kebakaran hutan dan lahan," ujar Edy. Sementara itu, anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, turut menyampaikan belasungkawa mendalam. "Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Akhmad Rijani. Beliau telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun untuk membantu masyarakat dan lingkungan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Pengabdian beliau patut kita hormati dan kenang," ucapnya.
Di mata keluarga, Rijani merupakan sosok yang dikenal peduli terhadap kegiatan kemasyarakatan. Pengakuan ini diungkapkan oleh istri almarhum, Wahidah, yang bercerita bahwa suaminya telah menjadi relawan selama bertahun-tahun, bahkan sejak masih menjabat sebagai Ketua RT. Ia meninggalkan empat orang anak, yang terdiri dari dua putra dan dua putri.
Baca juga: Waspada Karhutla! Begini Cara Cek Hotspot di Hutan Kalimantan lewat HP
Ahmadin, Relawan Damkar Kotawaringin Barat
Setelah tiga hari berselang, kembali datang kabar duka dari Kabupaten Kotawaringin Barat. Ahmadin, yang juga akrab disapa sebagai Itam Madin, seorang relawan Damkar Huma Singgah Itah, turut menghembuskan napas terakhirnya. Seperti Rinjani, Ahmadin juga sempat mendapatkan perawatan di RSUD Sultan Imanudin, di Pangkalan Bun, dikarenakan sesak napas yang terus-menerus dirasakan setelah berjibaku dengan asap tebal sejak sepekan lalu.
Kepala Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penyelaman Kotawaringin Barat, Dwi Agus Suhartono, membenarkan berita ini bahwa kondisi Ahmadin sempat diupayakan membaik melalui perawatan intensif, hingga akhirnya memburuk dan tidak bisa diselamatkan. Ia wafat pada Minggu (30/8/2026) malam. Diketahui, saat itu terdapat dua anggota Satgas Karhutla yang harus menjalani perawatan akibat gangguan pernapasan serupa dengan satu petugas lainnya masih dalam proses pemulihan.
Pengingat Perlindungan Bagi Relawan
Source photo: detik.com
Kepergian dua sosok hebat ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak akan besarnya risiko yang dihadapi oleh para pejuang karhutla di lapangan. Hetifah Sjaifudian pun mendorong agar keselamatan petugas dan relawan menjadi prioritas dalam penanganan karhutla ke depannya. "Karhutla adalah bencana yang penanganannya membutuhkan keberanian dan ketangguhan para petugas serta relawan. Tetapi keberanian tidak boleh berarti mengabaikan keselamatan. Mereka juga harus mendapatkan perlindungan yang layak," tegasnya.
Sebagai gambaran betapa masifnya karhutla di Kalimantan Tengah, tercatat sebanyak 10.700 personel gabungan dikerahkan dalam penanganan bencana ini, terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, hingga relawan masyarakat, didukung satu pesawat modifikasi cuaca dan enam helikopter pemadam udara.
Kepergian Akhmad Rijani dan Ahmadin menjadi duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga terdekat yang ditinggalkan, tetapi bagi seluruh masyarakat Kalimantan Tengah yang selama ini merasakan dampak langsung dari kehadiran mereka serta dedikasi yang diberikan, rasa berjuang tanpa pamrih dan pantang menyerah. Pengabdian mereka akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjuangan panjang melawan bencana asap yang terus menghantui wilayah tersebut setiap tahunnya.
Muhammad Ichsan