Menurut PBB, Jakarta Jadi Kota Terpadat Nomor 1 Dunia, Kalahkan Tokyo!

  • Bayu Dewantara
Jakarta resmi menyandang predikat baru sebagai kawasan metropolitan dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Berdasarkan laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk World Urbanization Prospects, ibu kota Indonesia beserta wilayah penyangganya kini menempati urutan pertama, menggeser dominasi kota-kota megapolitan global yang selama ini dikenal sangat padat seperti Tokyo dan Seoul.

Dalam data yang dirilis tersebut, jumlah penduduk yang mendiami kawasan aglomerasi Jakarta tercatat mencapai angka fantastis, yakni 41,9 juta jiwa. Lonjakan ini membuat posisi Jakarta melesat ke peringkat teratas, meninggalkan Dhaka (Bangladesh) di posisi kedua dengan 36,6 juta jiwa, dan Tokyo (Jepang) di posisi ketiga dengan 33,4 juta jiwa yang populasinya cenderung stabil sejak tahun 2000. Sementara itu, Seoul di Korea Selatan berada jauh di bawah dengan 22,5 juta jiwa.

Faktor Aglomerasi Baru dan Laju Urbanisasi Masif

Melonjaknya peringkat Jakarta ke posisi puncak ini tidak lepas dari metodologi baru yang diterapkan oleh PBB. Lembaga internasional tersebut kini mendefinisikan batas kota berdasarkan wilayah aglomerasi yang berdekatan—dalam hal ini menyatukan Jakarta dengan wilayah penyangganya di Jabodetabek—menggunakan hitungan grid kepadatan minimal 1.500 orang per kilometer persegi.

Selain perubahan indikator pengukuran, PBB memaparkan bahwa arus urbanisasi dan migrasi vertikal menjadi motor utama ledakan populasi ini. Jakarta tetap menjadi magnet ekonomi utama yang menarik minat jutaan warga dari berbagai daerah untuk mengadu nasib, meskipun saat ini pemerintah Indonesia tengah berfokus pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

Dua Sisi Mata Uang Tren Megacity

Menjadi kota nomor satu di panggung dunia tentu membawa dampak yang beriringan bagi dinamika tata kota. Dari perspektif ekonomi, konsentrasi populasi yang mencapai hampir 42 juta jiwa ini menandakan adanya pasar domestik yang sangat masif, ketersediaan tenaga kerja yang melimpah, serta perputaran bisnis yang tidak pernah berhenti.

Namun di sisi lain, PBB juga memberikan catatan kritis mengenai tantangan lingkungan yang membayangi Jakarta. Lonjakan populasi yang agresif ini dipastikan memperberat beban infrastruktur perkotaan, mulai dari krisis transportasi, ketersediaan sanitasi dan air bersih, hingga ancaman nyata berupa penurunan permukaan tanah serta perubahan iklim yang berpotensi menenggelamkan sebagian wilayah pesisir pada tahun 2050.

Proyeksi Masa Depan Urban Global

Fenomena ledakan penduduk ini tidak hanya terjadi di Indonesia. PBB mencatat pertumbuhan pesat pada kategori megacity—kota dengan penduduk di atas 10 juta jiwa—yang kini jumlahnya melonjak empat kali lipat dibanding era 1970-an, di mana mayoritas berada di kawasan Asia.

Meski Jakarta memimpin daftar saat ini, laju pertumbuhan ke depan diprediksi akan terus dinamis. PBB memperkirakan populasi metropolitan Jakarta masih akan bertambah sekitar 10 juta orang dalam 25 tahun mendatang, sementara Dhaka diproyeksikan bakal mengambil alih posisi sebagai kota terbesar di dunia pada tahun 2050 akibat kombinasi faktor urbanisasi dan dampak perubahan iklim di wilayah sekitarnya.