Kabar terbaru dari dunia antariksa: NASA mendapatkan temuan baru yang disebut-sebut sebagai “rumah manusia di Bulan” yang ramai menjadi topik pembicaraan dalam beberapa hari terakhir. Faktanya, Nasa sama sekali belum menemukan hunian apa pun di sana. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah penyelidikan terhadap sebuah lubang besar di bulan, Marius Hills Pit, yang diduga menjadi pintu masuk ke gua bawah tanah.
Source: detiknet
Kenapa disebut “Rumah Manusia”?
Istilah ini disebut karena merujuk pada potensi gua tersebut yang nantinya bisa dipakai sebagai pangkalan atau tempat berlindung para astronaut di masa depan, bukan rumah yang sudah ada. Mediakompeten menegaskan bahwa NASA belum memastikan apakah keberadaan gua besar tersebut memenuhi syarat untuk dihuni manusia.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
NASA memilih proyek yang disebut GIMLI (Geophysical Instruments for Marius Lunar pit Investigation), yang dipimpin oleh Planetary Science Institute (PSI) di bawah program PRISM NASA. Targetnya adalah Marius Hills Pit, sebuah lubang di wilayah vulkanik Marius Hills di Oceanus Procellarum, dataran lava di sisi dekat Bulan. Lubang ini sebenarnya bukan sebuah temuan baru. Sebelumnya, pesawat Jepang Kaguya diduga sudah menangkap lubang tersebut pada tahun 2008, dan Marius Hills sudah lama dikenal sebagai wilayah dengan tabung lava dan celah lava.
Seperti Apa Bentuk Gua Tersebut?
Marius Hills memiliki bentuk berupa lubang bundar dengan dinding curam yang diyakini terbentuk dari runtuhnya atap terowongan lava purba. Lubang seperti ini biasanya disebut “skylight” atau yang lebih dikenal sebagai jendela langit. Menurut Radar Cirebon, lebarnya sekitar 90 meter dan kedalamannya sekitar 45 meter. Bentuk dan ukuran gua di bawahnya belum diketahui, karena itulah misi ini diadakan.
Alasan Kenapa Gua Tersebut Layak Menjadi Rumah Manusia
Permukaan Bulan memiliki tekstur yang keras bagi manusia dan dapat berfungsi untuk berlindung dari radiasi Matahari dan sinar kosmik berenergi tinggi. Selain itu, suhu juga sering berubah secara drastis dan ada ancaman hantaman meteoroid kecil. Gua di bawah tanah dinilai bisa melindungi dari semua itu karena lapisan batuan di atasnya dan suhu di dalamnya diperkirakan jauh lebih stabil.
Baca juga: 7 Meme Kucing Budak Corporate yang Relate sama Kehidupan Kantor
Seperti Apa Misi GIMLI Bekerja
GMLI membawa radar penembus tanah yang dilengkapi dengan sensor seismik, gravimeter, dan kamera untuk memeriksa bagian bawah permukaan serta dinding lubang. Peralatan tersebut akan diangkut menggunakan lander dan rover dari program CLPS NASA, dengan Honeybee Robotics membantu integrasi instrumen. Yang penting, GIMLI tidak akan masuk ke dalam lubang. Ia hanya mengamati dari sekitar bagian tepi. Jadwal peluncurannya masih belum ditemukan.
Misi ini juga punya tujuan ilmiah. Gareth Morgan, wakil peneliti utama GIMLI, mengatakan bahwa terowongan lava yang utuh akan membuka “wawasan baru tentang bagaimana aktivitas vulkanik terjadi di Bulan.”
Beberapa Hal ini Masih Belum Dipastikan
Keberadaan terowongan lava besar di Marius Hils masih belum terkonfirmasi. Para ilmuwan juga masih perlu meneliti stabilitas struktur gua dan cara memperkuat dinding serta langit-langitnya sebelum mengumumkan bahwa gua ini memang layak untuk dipakai. Marius Hills bukan satu-satunya kandidat. Sekitar 300 lubang serupa telah ditemukan, dan pada 2024 radar LRO NASA menunjukkan indikasi gua di sebuah lubang di Mare Tranquillitatis, yang menurut peneliti Universitas Trento kemungkinan besar merupakan tabung lava kosong.
Untuk saat ini, “rumah manusia di Bulan” masih sebatas kemungkinan. Hasil GIMLI nanti akan menentukan apakah lubang itu benar-benar pintu menuju pangkalan masa depan atau hanya lubang biasa.
Muhammad Ichsan