Pemuda Awards 2026 Apresiasi Talenta Humas Muda, Saatnya Gen Z Unjuk Strategi dan Kreativitas!

  • Bayu Dewantara

Dunia komunikasi nggak cuma soal bikin konten viral atau jago merangkai kata. Di balik pesan yang sampai ke publik, ada strategi, kreativitas, dan kepercayaan yang harus dijaga. Hal inilah yang menjadi sorotan dalam Pemuda Awards 2026, ajang apresiasi bagi talenta muda yang punya potensi besar di bidang hubungan masyarakat (humas).

Penghargaan ini diumumkan pada hari kedua Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di The Sunan Hotel Solo, Surakarta, Minggu (18/10/2026). Melalui ajang ini, generasi muda mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengembangkan perspektif baru dalam menghadapi tantangan komunikasi masa depan.

Humas Bukan Cuma Jago Ngomong, Kepercayaan Jadi Kunci!


Di era digital, kemampuan menyampaikan pesan memang penting. Namun, seorang praktisi humas juga harus mampu membangun kepercayaan melalui komunikasi yang transparan, bertanggung jawab, dan punya tujuan jelas.

Ketua BPC PERHUMAS Surakarta, Dr. Andre Rahmanto, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa kepercayaan setidaknya dibangun melalui tiga unsur utama, yaitu kemampuan (ability), niat baik (benevolence), dan integritas (integrity).

“Kepercayaan itu paling tidak mengandung tiga unsur, ability, benevolence, integrity,” kata Andre dalam sambutannya.

Ketiga unsur tersebut menjadi pengingat bahwa profesi humas bukan sekadar urusan membangun citra. Lebih dari itu, humas juga punya tanggung jawab untuk memastikan komunikasi berjalan dengan baik dan kepercayaan publik tetap terjaga.

Buat generasi muda yang tertarik terjun ke dunia komunikasi, kemampuan bikin kampanye kreatif tentu menjadi nilai tambah. Namun, kreativitas juga perlu dibarengi dengan etika dan pemahaman terhadap dampak pesan yang disampaikan.

Regenerasi Humas Butuh Lebih dari Sekadar Panggung

Ketua Umum PERHUMAS, Boy Kelana Soebroto, MCIPR, turut menyoroti pentingnya regenerasi dalam profesi humas. Menurutnya, generasi muda bukan cuma perlu diberi kesempatan untuk tampil, tetapi juga harus dibekali nilai dan standar profesional yang kuat.

“Generasi senior tidak cukup mewariskan panggung. Yang harus terus mengalir adalah standar, etika, keberanian berpikir, dan tanggung jawab profesi,” ujar Boy.

Pesan ini relevan dengan perkembangan dunia komunikasi yang makin dinamis. Praktisi humas masa kini dituntut untuk memahami perubahan perilaku audiens, memanfaatkan teknologi, dan merancang strategi yang mampu menjawab kebutuhan publik.

Dengan begitu, regenerasi bukan sekadar pergantian generasi, melainkan proses menyiapkan talenta muda agar mampu membawa profesi humas ke arah yang lebih adaptif dan bertanggung jawab.

Kenalan dengan Para Pemenang Pemuda Awards 2026


Pemuda Awards 2026 menghadirkan dua kategori utama, yaitu Brand Ambassador (BA) PR Creative dan Next Gen PR Strategy 2026. Keduanya menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan dalam menyusun komunikasi yang relevan dengan tantangan masa kini.

Pada kategori BA PR Creative, juara pertama diraih Regia Rizki Pratama dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Posisi juara kedua ditempati Jesica Angelina dari Universitas Dr. Soetomo, sedangkan juara ketiga diraih Diana Nisa Silvi dari PT Wijaya Karya Beton Tbk.

Sementara itu, kategori Next Gen PR Strategy 2026 dimenangkan Tim Sipruk Salah Belok dari Universitas Pertamina, Jakarta. Juara kedua diraih Tim PRomise dari Universitas Airlangga, Surabaya, dan juara ketiga ditempati Tim Ocamis dari PT OKAM.

Deretan pemenang ini menunjukkan bahwa talenta humas bisa datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga kalangan profesional. Yang menjadi sorotan bukan cuma ide kreatif, tetapi juga kemampuan menerjemahkan persoalan menjadi strategi komunikasi yang terarah.

Angkat Isu Pekerja Anak, Strategi Komunikasi Harus Punya Empati

Salah satu hal menarik dari kategori Next Gen PR Strategy 2026 datang dari Tim Sipruk Salah Belok. Dalam kompetisi ini, mereka mengangkat isu fiktif pekerja anak dalam rantai pasok kakao di Papua sebagai dasar penyusunan strategi kampanye.

Bagi tim tersebut, kompetisi ini bukan hanya tentang memenangkan penghargaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan memperluas cara pandang dalam merancang komunikasi.

“Bagi kami, ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang untuk belajar dan berkembang sebagai generasi humas berikutnya di Indonesia,” ujar perwakilan Tim Sipruk Salah Belok.

Melalui kampanye yang mereka usung, tim ini membawa pesan, “Satu cokelat, satu harapan. Tidak ada kebahagiaan yang harus mengorbankan masa kecil.”

Pesan tersebut menunjukkan bagaimana strategi komunikasi dapat digunakan untuk mengangkat isu sosial melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cokelat yang identik dengan kebahagiaan, misalnya, bisa menjadi pintu masuk untuk mengajak publik memahami pentingnya perlindungan anak.

Meski isu yang diangkat bersifat fiktif dalam konteks kompetisi, pendekatan ini memperlihatkan pentingnya empati dalam menyusun pesan. Sebab, komunikasi yang kuat bukan cuma mampu menarik perhatian, tetapi juga mengajak audiens memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Pemuda Awards 2026 Jadi Ruang Tumbuh bagi Generasi Humas Berikutnya

Melalui Pemuda Awards 2026, talenta muda Indonesia mendapat kesempatan untuk mengasah kreativitas, kemampuan strategis, dan kepekaan sosial dalam dunia kehumasan. Ajang ini juga menjadi pengingat bahwa komunikasi yang baik membutuhkan lebih dari sekadar ide menarik.

Di tengah perkembangan media digital yang serba cepat, generasi muda perlu mampu menyampaikan pesan secara kreatif tanpa kehilangan integritas dan tanggung jawab. Sebab, membangun kepercayaan publik membutuhkan konsistensi, bukan hanya kampanye yang ramai sesaat.

Buat Oppal Gengs yang tertarik dengan dunia public relations, komunikasi, atau industri kreatif, Pemuda Awards 2026 bisa menjadi gambaran bahwa ide anak muda punya ruang untuk berkembang dan memberikan dampak.

Pada akhirnya, masa depan humas bukan cuma tentang siapa yang paling jago menarik perhatian, tetapi juga siapa yang mampu menyampaikan pesan dengan tujuan yang jelas, strategi yang matang, dan empati terhadap masyarakat.