Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, menjadi sorotan setelah Ombudsman RI menemukan sejumlah bangunan dengan fasilitas yang disebut berstandar apartemen dalam inspeksi mendadak pada 23 September 2026. Bangunan yang berada di kawasan belakang lapas tersebut dilengkapi berbagai fasilitas seperti ruang tamu, kamar tidur, dapur, televisi, kulkas, hingga perlengkapan memasak. Ombudsman juga menemukan minuman beralkohol di salah satu lokasi, tetapi belum dapat memastikan pemilik maupun pengguna fasilitas tersebut.
Temuan tersebut menarik perhatian karena terjadi di tengah persoalan pemasyarakatan Indonesia yang masih menghadapi kelebihan kapasitas. Di sisi lain, kondisi lapas di berbagai negara juga memperlihatkan gambaran yang sangat beragam, mulai dari sel yang sangat sederhana dan penuh sesak hingga fasilitas yang sengaja dirancang untuk mendukung rehabilitasi. Lantas, seperti apa sebenarnya potret kehidupan di balik tembok lapas di berbagai negara?
Baca Juga: Tren Celana Baggy Pants Gen Z Sudah Ada Dari Jaman Belanda, Bukan Cuman Tren TikTok!
1. Meksiko dan Amerika Serikat, Sel dengan Fasilitas Sederhana
Kondisi sel di sejumlah negara memperlihatkan bahwa fasilitas dasar yang tersedia bagi narapidana dapat sangat berbeda. Dokumentasi visual perbandingan sel penjara yang beredar menunjukkan adanya ruang sederhana dengan tempat tidur terbatas, lantai beton, wastafel, serta toilet yang berada langsung di dalam sel. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa sebuah sel tidak selalu dirancang untuk memberikan kenyamanan, melainkan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa penahanan.
Potret penjara di Meksiko. Sumber Gambar: Business Insider
Di Meksiko, memperlihatkan sel dengan wastafel batu, kasur tipis di atas rangka besi, serta lantai semen. Sementara itu, gambaran dari Amerika Serikat menunjukkan sel berdinding beton dengan meja sederhana dan toilet berbahan stainless steel yang berada di dalam ruangan. Kondisi semacam ini menunjukkan bagaimana aspek keamanan dan efisiensi ruang dapat menjadi bagian penting dari desain fasilitas pemasyarakatan.
2. Brasil dan Filipina Menghadapi Persoalan Overcrowding
Brasil dan Filipina kerap menjadi contoh kondisi overcrowding dalam sistem pemasyarakatan, ketika banyak narapidana harus berbagi ruang yang terbatas. Dalam situasi seperti itu, persoalan tempat tidur bukan lagi sekadar mengenai kenyamanan, tetapi juga berkaitan dengan sanitasi, privasi, kesehatan, dan pengelolaan penghuni.
Potret penjara di Filipina yang mengalami overcrowding (kepadatan penghuni lapas). Sumber Gambar: UN News
Kondisi sel yang terlalu padat juga dapat membuat fungsi ruang berubah dari tempat tinggal sementara menjadi ruang yang digunakan secara berlebihan. Sebagian penghuni dapat terpaksa tidur di lantai atau berbagi fasilitas sanitasi dengan banyak orang. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kapasitas bangunan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas kehidupan di dalam lapas.
3. El Salvador Memiliki Model Penjara dengan Pengamanan Sangat Ketat
Gambaran berbeda terlihat di El Salvador melalui Centro de Confinamiento del Terrorismo atau CECOT. Fasilitas ini dibangun dalam konteks kebijakan pemerintah El Salvador untuk menangani kelompok geng dan menjadi salah satu penjara dengan pengamanan sangat ketat. Laporan Human Rights Watch menyebut setiap sel dapat menampung hingga 80 orang, dilengkapi tempat tidur bertingkat, dua toilet, dan dua wastafel tanpa privasi.
Centro de Confinamiento del Terrorismo atau CECOT. Sumber Gambar: Amnesty
Laporan lain mengenai CECOT juga menggambarkan bahwa para tahanan memiliki akses yang sangat terbatas terhadap aktivitas di luar sel. Pemerintah El Salvador menyatakan fasilitas tersebut dapat menampung jumlah tahanan yang sangat besar, sementara organisasi hak asasi manusia menyoroti kondisi material serta perlakuan terhadap tahanan di dalamnya. Karena itu, CECOT menjadi contoh bagaimana sebuah fasilitas pemasyarakatan dapat dirancang terutama dengan penekanan pada keamanan dan kontrol ketat.
4. India dan Prancis Memiliki Fasilitas Penjara yang Fungsional
Di antara kondisi sel yang sangat sederhana dan penjara dengan pengamanan ketat, terdapat pula fasilitas yang dirancang secara lebih fungsional. Beberapa fasilitas pemasyarakatan di negara seperti India, Kolombia, Italia, Tiongkok, dan Prancis memperlihatkan kondisi yang lebih beragam Ada lapas yang menggunakan ruang tidur bersama, sementara lainnya menggunakan sel individual atau kamar dengan fasilitas dasar seperti tempat tidur, meja, dan ruang sanitasi.
Perbedaan desain tersebut dipengaruhi oleh sistem pemasyarakatan, usia bangunan, kapasitas, serta standar yang diterapkan masing-masing negara. Italia, misalnya, memiliki fasilitas sel yang dalam sejumlah dokumentasi terlihat dilengkapi tempat tidur, meja, rak, dan perlengkapan dasar lainnya. Sementara itu, model aula bersama di beberapa fasilitas India menunjukkan pendekatan yang berbeda terhadap penggunaan ruang tidur narapidana.
5. Jepang Memiliki Sel yang Lebih Teratur
Jepang memiliki karakteristik pemasyarakatan yang juga berbeda dibandingkan sejumlah negara lain. Sel dengan lantai tatami, kasur yang dapat dilipat, meja kecil, toilet, dan jendela yang tertata rapi. Penggunaan ruang yang relatif teratur menjadi salah satu karakter visual yang membedakan fasilitas tersebut dari gambaran penjara yang identik dengan ruang beton dan jeruji.
Visualisasi Penjara di Jepang. Sumber Gambar: The Mainichi
Namun, kondisi fisik sel saja tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan sistem pemasyarakatan suatu negara. Aturan mengenai aktivitas sehari-hari, disiplin, komunikasi dengan keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan perlakuan terhadap narapidana juga menjadi bagian penting. Karena itu, perbandingan penjara sebaiknya tidak hanya didasarkan pada tampilan kamar atau fasilitas di dalam sel.
6. Finlandia dan Norwegia Berfokus pada Rehabilitasi
Penjara yang disediakan oleh negara-negara Nordik juga memiliki treatment tersendiri. Fasilitas penjara Finlandia terlihat menyerupai kamar studio sederhana dengan tempat tidur, meja belajar, rak, wastafel, dan perlengkapan pendukung aktivitas sehari-hari. Desain seperti ini berkaitan dengan gagasan bahwa kehidupan di dalam penjara tetap perlu mempersiapkan seseorang untuk kembali ke masyarakat.
Norwegia menjadi salah satu contoh yang paling sering dibicarakan melalui Halden Prison. Penjara keamanan tinggi tersebut memiliki kapasitas sekitar 250 orang dan dirancang dengan fokus pada rehabilitasi, termasuk melalui pendidikan, pekerjaan, olahraga, dan aktivitas lainnya. Jendelanya bahkan tidak menggunakan jeruji konvensional, sementara sejumlah kamar memiliki kamar mandi pribadi.
Halden Prison juga menciptakan lingkungan yang semirip mungkin seperti kehidupan di luar penjara. Narapidana dapat mengikuti pendidikan, bekerja, melakukan kegiatan olahraga, hingga menggunakan fasilitas seperti studio musik. Pendekatan tersebut didasarkan pada sudut pandang bahwa masa hukuman juga dapat digunakan untuk mempersiapkan seseorang kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Meski sering disebut sebagai salah satu penjara paling manusiawi di dunia, Halden tetap merupakan penjara dengan tingkat keamanan tinggi. Laporan Komite Eropa untuk Pencegahan Penyiksaan pada 2025 mencatat adanya persoalan seperti keterbatasan kesempatan kerja dan pendidikan maupun keluhan terkait kegiatan rehabilitasi di beberapa blok. Artinya, pendekatan rehabilitatif tidak serta-merta fasilitas tersebut sepenuhnya bebas dari persoalan.
7. Overcrowding Penghuni Lapas di Indonesia mulai Menurun
Kondisi pemasyarakatan di Indonesia juga menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mencatat tingkat kelebihan kapasitas atau overcrowding di lapas dan rutan kini berada di angka 85 persen, turun dari kondisi pada pertengahan 2025 yang hampir menyentuh 100 persen. Meski mengalami penurunan, persoalan kapasitas hunian masih menjadi tantangan karena sejumlah wilayah tetap mencatat tingkat hunian yang tinggi.
Menteri Imipas Agus Andrianto mengatakan jumlah penghuni lapas dan rutan mencapai 271.468 orang, terdiri dari 215.156 narapidana dan 56.312 tahanan. Sementara itu, kapasitas ideal hunian berada pada angka 146.860 orang. Beberapa wilayah seperti Sumatra Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Jawa Tengah masih menjadi daerah yang mendapat perhatian dalam upaya distribusi dan optimalisasi kapasitas hunian secara nasional.
Salah satu langkah yang dilakukan Kemenimipas untuk mengatasi persoalan tersebut adalah memindahkan narapidana berisiko tinggi (high risk) ke fasilitas khusus di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan asesmen dan profiling terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan. Hingga akhir Maret 2026, sebanyak 2.284 narapidana berisiko tinggi telah dipindahkan ke Nusakambangan dan mayoritas merupakan pelaku tindak pidana narkotika.
Selain pengelolaan kapasitas dan keamanan, pemerintah juga memperkuat pendekatan rehabilitasi melalui program One Stop Service Rehabilitasi Pemasyarakatan. Program yang mulai diterapkan secara luas sejak 2025 tersebut dijalankan bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan organisasi profesi terkait untuk memberikan layanan rehabilitasi medis serta sosial secara terpadu. Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 531 Unit Pelaksana Teknis pada 33 kantor wilayah dengan penerima manfaat mencapai 36.806 orang.
8. Potret Lapas Tidak Hanya Soal Mewah atau Sempit
Perbandingan berbagai lapas di dunia memperlihatkan bahwa kondisi penjara tidak memiliki satu standar yang seragam. Ada fasilitas yang menghadapi persoalan kepadatan tinggi, ada yang menempatkan keamanan sebagai prioritas, sementara negara lain lebih menekankan pendidikan dan rehabilitasi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa desain fisik lapas hanyalah salah satu bagian dari sistem pemasyarakatan yang lebih luas.
Indonesia sendiri tengah menjalankan berbagai pembenahan, mulai dari menurunkan tingkat overcrowding, memindahkan narapidana berisiko tinggi, memperluas rehabilitasi, hingga memperkuat pemberantasan narkoba di dalam lapas dan rutan. Namun, temuan fasilitas berstandar apartemen di Lapas Cibinong menunjukkan masih adanya pertanyaan mengenai pengelolaan fasilitas tertentu yang perlu dijawab secara transparan. Pada akhirnya, seperti apa kondisi sebuah lapas bukan hanya tentang seberapa luas selnya, tetapi juga bagaimana sistem tersebut menjalankan keamanan, pelayanan, dan proses pemasyarakatan. Kalau menurut Oppal Gengs, seperti apa seharusnya kondisi lapas yang ideal?
Reyvan