Nilai tukar ringgit Malaysia tengah menjadi sorotan di kawasan Asia. Sepanjang 2026, mata uang Negeri Jiran tersebut tercatat sebagai salah satu yang berkinerja terbaik di Asia, bahkan beberapa kali menempati posisi kedua terkuat setelah yuan China.
Data kurs resmi per 18 Mei 2026 dari Bank Negara Malaysia (BNM), Bank Indonesia (BI), serta berbagai bank sentral Asia menunjukkan ringgit Malaysia (MYR) tetap menjadi salah satu mata uang dengan performa paling solid di kawasan. Penguatan ini terjadi di tengah pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perubahan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Berdasarkan data Trading Economics yang mengacu pada BNM, kurs USD/MYR berada di level 3,9774 atau menguat 0,71% dibanding sesi sebelumnya. Di sisi lain, rupiah justru mengalami tekanan. Mengacu data Refinitiv pada pukul 10.20 WIB, rupiah melemah 1,15% ke level Rp17.660 per dolar AS. Pelemahan tersebut lebih dalam dibanding posisi pembukaan pagi hari yang berada di Rp17.630 per dolar AS.
Secara nominal, dolar Singapura (SGD) berada di kisaran Rp13.499–Rp13.847 per SGD, sementara 1 ringgit Malaysia setara sekitar Rp4.388–Rp4.454 berdasarkan data intraday Investing.com pada 18 Mei 2026. Dengan demikian, nilai 1 ringgit kini berada di atas Rp4.400.
Dalam 12 bulan terakhir, ringgit tercatat menguat 8,07% terhadap dolar AS dan terapresiasi 15,51% terhadap rupiah Indonesia. Artinya, setiap 1.000 ringgit yang dimiliki setahun lalu kini memiliki nilai sekitar Rp155 ribu lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.
Nomor Dua Terkuat di Asia
Sepanjang 2026, yuan China (CNY) masih memimpin sebagai mata uang dengan performa terbaik di Asia dengan apresiasi sekitar 2,23% terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia berada di posisi kedua dengan penguatan year-to-date mencapai 2,64% hingga akhir April 2026.
Kinerja tersebut ditopang kondisi ekonomi domestik Malaysia yang relatif stabil. Bank Negara Malaysia mempertahankan suku bunga di level 2,75% hingga Mei 2026, mencerminkan keyakinan terhadap kondisi ekonomi nasional. Tingkat pengangguran Malaysia juga tercatat hanya 2,9%, menjadi yang terendah sejak 2014, sementara inflasi terjaga di level 1,7%.
Ringgit Mengungguli Mayoritas Mata Uang Asia
Sepanjang awal 2026, ringgit menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama Asia. Penguatan terbesar terjadi terhadap:
Rupee India: turun 8,07% terhadap MYR
Peso Filipina: turun 7,31% terhadap MYR
Rupiah Indonesia: turun 6,76% terhadap MYR
Baht Thailand: turun 6,46% terhadap MYR
Won Korea Selatan: turun 5,24% terhadap MYR
Yen Jepang: turun 4,63% terhadap MYR
Dolar Taiwan: turun 3,57% terhadap MYR
Dong Vietnam: turun 2,82% terhadap MYR
Dolar Singapura: turun 1,97% terhadap MYR
Satu-satunya mata uang yang mampu mendekati performa ringgit adalah yuan China, dengan selisih penguatan yang hanya sekitar 0,41%.
Posisi Rupiah Masih Tertekan
Di sisi lain, rupiah masih berada dalam tekanan. Kurs USD/IDR tercatat di sekitar Rp17.400–Rp17.600 per dolar AS, menjadikan rupiah masuk kelompok tiga mata uang dengan performa terlemah di Asia sepanjang awal 2026.
Pada periode yang sama, rupiah melemah sekitar 1,07%, bersama won Korea Selatan yang turun 1,31% dan yen Jepang yang melemah 1,10%.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang, ditambah sentimen global yang masih fluktuatif akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Secara nominal, 1 rupiah hanya bernilai sekitar USD0,000057, sedangkan 1 ringgit setara sekitar USD0,251. Namun, ukuran kekuatan mata uang yang lebih relevan sebenarnya bukan nilai nominal, melainkan kinerja apresiasi atau depresiasi terhadap dolar AS. Dalam konteks tersebut, performa rupiah masih tertinggal cukup jauh dibanding ringgit Malaysia.
Peringkat Mata Uang Asia terhadap Dolar AS
Yuan China (CNY)
Ringgit Malaysia (MYR)
Dolar Singapura (SGD)
Baht Thailand (THB)
Dolar Taiwan (TWD)
Peso Filipina (PHP)
Rupee India (INR)
Yen Jepang (JPY)
Won Korea Selatan (KRW)
Rupiah Indonesia (IDR)
Dong Vietnam (VND)
Saifan Zaking