Dalam rangka memperingati HUT RI, masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan memasang sang saka Merah Putih di setiap rumah. Bendera Merah putih sebagai lambang atau simbol negara Indonesia dan menjadi saksi perjuangan dalam mengusir penjajah seperti Belanda dan Jepang dari tanah bumi pertiwi.
Source: kalimahsawa.id
Kemerdekaan Indonesia pun akhirnya terwujud setelah sekutu Jepang menyerah atas tragedi kejadian bom di kota Nagasaki yang akhirnya terjadinya kekosongan kekuasaan dan terlaksananya peristiwa Proklamasi yang dipimpin oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, yang menandakan kemerdekaan Indonesia.
Bendera Merah Putih pun dikibarkan setelah teks proklamasi dibacakan. Semua orang bersuka cita dan merayakannya. Namun apakah kamu tahu, bagaimana sejarah dan siapa yang menjahit sang pusaka merah putih?Baca sejarahnya di sini.
Profile Fatmawati Sang Penjahit Bendera Merah Putih
Fatmawati Soekarno, merupakan tokoh penting bagi sejarah kemerdekaan Indonesia dan berperan sebagai penjahit Bendera Merah putih pertama. Lahir di Pasar Padang, Bengkulu, pada 15 Januari 1923, beliau adalah anak dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadidjah, yang dikutip dari buku Sejarah karangan Prof. Dr. Habib Mustopo dkk. Fatmawati menempuh pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School(HIS) dan sekolah kejuruan.
Fatmawati muda sudah gemar dan aktif dalam kegiatan organisasi dan juga menjadi pengurus Nasyiatul Aisyiah. Momen pertama kali bertemu dengan I.r Soekarno terjadi pada tahun 1983, saat itu Soekarno adalah salah satu guru yang mengajari dia di Muhammadiyah.
Pada tahun 1943, ia memutuskan untuk tinggal dan menetap di Jakarta setelah menikah dengan sang ‘Bapak Proklamator’. Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980.
Kisah Heroik dan Proses Penjahitan Sang Saka Merah Putih
Fatmawati pertama kali menjahit Bendera Merah Putih pada tahun 1944. Menurut sumber buku sejarah karangan Hamid Nabhan pada buku Ziarah Sejarah, dijelaskan, bahwa bendera tersebut dibuat dari katun Jepang dan memiliki ukuran 274 x 196 cm.
Alat Jahit Singer merupakan mesin yang digunakan oleh Fatmawati untuk menjahit sang Pusaka dengan tangannya sendiri. Saat sedang menjahit bendera dengan ukuran besar tersebut, ia tengah mengandung dalam kondisi hamil tua. Pengerjaannya sendiri baru dia selesaikan dalam waktu dua hari.
Pengusulan penjahitan Bendera Merah Putih sendiri keluar dari arahan Bung Karno dari perundingan di antara mereka berdua dan memerintahkan Fatmawati untuk segera mencari bantuan.
Pada saat itu, mencari bahan bendera yang bagus tidaklah mudah, apalagi saat Perang Dunia ke-2 terjadi krisis bahan kain yang hanya dimiliki oleh penjajah Jepang.
Karena itu, Fatmawati meminta bantuan kepada seorang perwira Jepang, Hitoshi Shimizu, yang berjasa dalam menyediakan kain merah putih yang dia dapatkan setelah membujuk para militer penjaga gudang milik Jepang. Setelah mendapatkannya, ia pun langsung menjahit bendera tersebut.
Pada buku karangan dari Bondan Winarno dengan judul Berkibarlah Benderaku, ada beberapa kutipan dari Fatmawati yang menggambarkan rasa haru dari sang penjahit Sang Saka Merah Putih hingga meneteskan air mata dan beberapa cerita mengenai kondisi kehamilannya sewaktu menjahit.
“Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu”
“Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah Putih,” kurang lebih seperti itu beberapa ucapan yang keluar dari mulut Fatmawati.
Terdapat sebuah kutipan juga yang diambil melalui buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno:
“Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu, terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu.”
“Bendera itu aku berikan kepada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku. Nampak olehku di antara mereka adalah Mas Diro (Sudiro eks Walikota DKI), Suhud, Kolonel Latief Hendraningrat. Segera kami menuju ke tempat upacara, paling depan Bung Karno disusul oleh Bung Hatta, kemudian aku,” ujar Fatmawati pada buku tersebut.
Perjuangan Fatmawati bisa menjadi inspirasi bagi anak muda Indonesia untuk terus mengharumkan nama bangsa dan selalu bangga sebagai warga negara Indonesia.
Muhammad Ichsan