UGM Bangun 550 Hunian Sementara dari Kayu Hanyut untuk Korban Banjir di Aceh

  • Bayu Dewantara

Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan aksi nyatanya dalam membantu penyintas bencana banjir di Aceh. Setelah sebelumnya berhasil membangun 100 unit hunian sementara (huntara), kini UGM mengembangkan inisiatif lanjutan dengan target pembangunan mencapai 550 unit huntara. Langkah ini diambil untuk memastikan para korban banjir bisa segera meninggalkan tenda darurat dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak.


Pemanfaatan Material Lokal: Kayu Hanyut

Hal yang unik dan inovatif dalam proyek ini adalah penggunaan kayu hanyut sebagai material utama bangunan. Inisiatif ini dipilih karena beberapa alasan strategis:

Efisiensi Waktu: Pemanfaatan material yang sudah ada di lokasi dinilai jauh lebih cepat daripada menunggu distribusi material dari luar.

Kesesuaian Lapangan: Material kayu sangat cocok dengan kondisi geografis dan kebutuhan mendesak di wilayah terdampak.

Mencegah Kerusakan Lingkungan: Kayu-kayu sisa pascabencana tersebut dimanfaatkan dengan segera agar tidak terbuang percuma atau mengalami penurunan kualitas akibat dibiarkan melapuk di alam.

Rancangan Hunian yang Fungsional

Meskipun bersifat sementara, huntara berbasis kayu ini dirancang dengan serius untuk menunjang kebutuhan dasar sebuah keluarga. Setiap unit memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Ukuran Bangunan: 6 x 6 meter.

Fasilitas: Terdiri dari 2 kamar tidur.

Ruang Multifungsi: Tersedia area yang bisa digunakan sebagai ruang keluarga maupun dapur.

Kisah Kemanusiaan: Dari Pohon Sawit ke Rumah Baru

Pembangunan huntara ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan harapan baru bagi para korban. Salah satu kisah yang memicu rasa syukur adalah tentang sebuah keluarga yang harus berjuang hidup di tengah kepungan banjir.

Dalam kondisi darurat, keluarga tersebut terpaksa bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit sembari menunggu air surut. Kisah perjuangan mereka menjadi pengingat betapa krusialnya hunian yang aman. Kini, berkat program dari UGM, rumah keluarga tersebut telah selesai dibangun dan sudah bisa mereka tempati dengan nyaman.