Benarkah Usia 23 Jadi Titik Kita Mulai Jarang Tertawa? Ini Kata Sains

  • M. Hikmal Yazid
  • Mitos Media Sosial: Klaim bahwa manusia mulai jarang tertawa di usia 23 tahun viral di media sosial, namun sains membuktikan hal ini bukan karena faktor biologis.

  • Asal-usul Data: Narasi ini berakar dari misinterpretasi data survei Gallup dalam buku Humour, Seriously (2020) yang sebenarnya tidak mengukur frekuensi tawa harian secara absolut.

  • Faktor Lingkungan & Sosial: Penurunan intensitas tawa lebih dipengaruhi oleh berkurangnya interaksi sosial, beban tanggung jawab dunia kerja, dan perubahan gaya hidup orang dewasa.

Pernah melihat unggahan di media sosial yang bilang kalau usia 23 adalah titik ketika seseorang mulai jarang tertawa? Banyak yang langsung mengangguk setuju. Rasanya memang masuk akal. Setelah lulus kuliah, mulai bekerja, menghadapi target, tagihan, dan berbagai tuntutan hidup, semuanya terasa lebih serius dibanding masa remaja.

Seolah-olah ada garis tak terlihat yang memisahkan hidup penuh canda dengan dunia orang dewasa. Namun, benarkah usia 23 memang punya "kekuatan" khusus yang membuat kita kehilangan tawa? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Mitos Usia 23 dan Salah Kaprah Data Gallup

Asal-usul mitos ini bisa ditelusuri dari buku Humour, Seriously (2020) karya Jennifer Aaker dan Naomi Bagdonas. Di dalamnya dikutip hasil survei Gallup terhadap sekitar 1,4 juta orang dari 166 negara. Survei tersebut menemukan bahwa remaja dan orang dewasa muda cenderung lebih sering melaporkan pengalaman tersenyum atau tertawa dibanding kelompok usia yang lebih tua.

Dari sinilah muncul berbagai konten yang menyederhanakan temuan itu menjadi satu kalimat viral: "Usia 23 adalah saat manusia mulai jarang tertawa." Masalahnya, penelitian Gallup sebenarnya tidak pernah mengatakan demikian.

Survei itu hanya menanyakan satu pertanyaan sederhana: "Apakah Anda banyak tersenyum atau tertawa kemarin?" Jawabannya pun hanya "ya" atau "tidak". Penelitian tersebut tidak menghitung berapa kali seseorang tertawa dalam sehari, apalagi menetapkan bahwa usia 23 merupakan batas biologis tertentu.

Ketika informasi itu dipotong dan kehilangan konteks, lahirlah kesimpulan yang terdengar ilmiah, padahal sebenarnya tidak pernah ada. Fenomena seperti ini sering terjadi di era media sosial, di mana data statistik yang awalnya hanya menunjukkan kecenderungan sebuah kelompok berubah menjadi aturan yang dianggap berlaku untuk semua orang. Padahal, dalam dunia sains, perbedaan itu sangat penting.

Berapa Kali Sebenarnya Kita Tertawa dalam Sehari?

Kalau melihat penelitian yang memang mengukur frekuensi tertawa, hasilnya justru jauh lebih menarik. Pada akhir 1990-an, psikolog Rod Martin dan Nicholas Kuiper meminta mahasiswa mencatat setiap kali mereka tertawa selama beberapa hari. Rata-rata mereka tertawa sekitar 18 kali sehari. Meski begitu, angkanya sangat bervariasi. Ada peserta yang hampir tidak tertawa sama sekali, tetapi ada juga yang bisa tertawa puluhan kali dalam sehari. Artinya, bahkan orang-orang yang usianya sama pun bisa memiliki kebiasaan tertawa yang sangat berbeda.

Seiring berkembangnya teknologi, cara peneliti mengamati perilaku manusia juga berubah. Penelitian yang lebih baru menggunakan metode experience sampling dan perangkat elektronik untuk merekam tawa secara langsung. Hasilnya justru lebih rendah, sekitar 2,5 kali tawa penuh setiap hari.

Sekilas kedua penelitian itu tampak saling bertentangan, padahal sebenarnya tidak. Penelitian pertama menghitung hampir semua bentuk tawa, termasuk tawa ringan dan senyum yang disertai suara kecil. Sementara penelitian kedua hanya mencatat tawa yang benar-benar terjadi. Jadi yang berubah bukan manusianya, melainkan cara ilmuwan mengukurnya.

Bukan Faktor Usia, tapi Beban Realita

Meski metodenya berbeda, hampir semua penelitian sepakat pada satu hal: frekuensi tertawa memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Namun, penurunannya berlangsung perlahan, bukan tiba-tiba tepat saat seseorang berulang tahun ke-23. Lalu kalau bukan usia, apa penyebabnya? Jawabannya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada yang kita kira.

Memasuki usia dewasa berarti memasuki fase hidup yang penuh tanggung jawab. Waktu yang dulu diisi nongkrong, bercanda, atau menghabiskan sore bersama teman perlahan tergantikan oleh rapat, pekerjaan, target, perjalanan pulang yang melelahkan, hingga urusan finansial. Kesempatan untuk tertawa menjadi lebih sedikit, bukan karena tubuh kehilangan kemampuan melakukannya, tetapi karena situasi hidup ikut berubah.

Tawa ternyata juga sangat bergantung pada hubungan sosial. Sebuah penelitian besar di Jepang terhadap puluhan ribu lansia menemukan bahwa orang yang memiliki hubungan sosial aktif lebih sering tertawa dibanding mereka yang hidup menyendiri. Faktor yang paling berpengaruh bukan umur, melainkan seberapa sering seseorang berinteraksi dengan orang lain. Dengan kata lain, tawa lebih banyak lahir dari kebersamaan dibanding angka di kartu identitas.

Pentingnya Tawa bagi Kesehatan Mental

Manfaat tawa pun bukan sekadar membuat suasana lebih menyenangkan. Menurut laporan medis mengenai manfaat tertawa untuk kesehatan fisik dan mental di Kompas.com, aktivitas sederhana ini dapat menurunkan hormon stres dan memicu pelepasan endorfin. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang hampir setiap hari tertawa memiliki risiko depresi yang lebih rendah dibanding mereka yang jarang tertawa.

Bahkan setelah faktor seperti pendapatan, kesehatan fisik, status pernikahan, hingga kemampuan kognitif diperhitungkan, hubungan itu tetap terlihat. Artinya, tertawa bukan hanya tanda bahwa kita sedang bahagia. Dalam banyak kasus, tertawa juga membantu menjaga kesehatan mental.

Pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu menjadi contoh nyata bagaimana lingkungan mempengaruhi frekuensi tertawa. Ketika banyak orang bekerja dari rumah (work from home) dan interaksi tatap muka berkurang drastis, kesempatan untuk bercanda secara spontan ikut menghilang. Kantor berpindah ke layar laptop, obrolan santai berubah menjadi pesan singkat, dan pertemuan digantikan panggilan video yang serba formal. Bukan manusia yang berubah dalam hitungan bulan, melainkan ruang tempat tawa biasanya muncul yang perlahan menghilang.

Baca Juga (Backlink Oppal): Generasi Z dan Tantangan Emosional di Dunia Kerja Modern 

Pengaruh Budaya dan Paradoks "Wkwkwk" di Era Digital

Budaya juga punya pengaruh besar. Survei Gallup menunjukkan bahwa masyarakat di sejumlah negara Amerika Latin dan Asia Tenggara cenderung lebih sering melaporkan pengalaman tertawa dibanding masyarakat di beberapa kawasan lain. Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat ekspresi kegembiraan relatif tinggi. Kalau usia benar-benar menjadi faktor utama, seharusnya perbedaan antarnegara tidak akan terlihat sejauh itu. Fakta ini menunjukkan bahwa cara kita tertawa juga dipengaruhi budaya, lingkungan, dan kualitas hubungan sosial.

Menariknya lagi, bertambahnya usia tidak selalu berarti seseorang menjadi kurang bahagia. Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa orang dewasa sering kali hanya mengubah cara mengekspresikan emosinya. Tawa lepas yang dulu sering muncul saat remaja bisa berubah menjadi senyum kecil, tatapan penuh pengertian, atau rasa syukur yang tidak selalu terlihat dari luar. Kebahagiaan tetap ada, hanya bentuk ekspresinya yang menjadi lebih tenang. Karena itu, mengukur kebahagiaan hanya dari seberapa sering seseorang tertawa bisa menjadi penyederhanaan yang berlebihan.

Di era digital, muncul paradoks baru. Kita mungkin mengirim puluhan emoji, mengetik "wkwkwk" berkali-kali, atau membagikan video lucu setiap hari. Namun, ekspresi digital belum tentu sama dengan tertawa sungguhan bersama teman, keluarga, atau rekan kerja. Layar memang bisa menyampaikan humor, tetapi tidak selalu mampu menggantikan kehangatan interaksi langsung yang sering melahirkan tawa paling tulus.

 Menjaga Ruang untuk Tetap Bahagia

Pada akhirnya, pembahasan tentang usia 23 sebenarnya bukan soal angka. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana gaya hidup modern perlahan mengurangi ruang bagi humor, kebersamaan, dan percakapan santai. Kota yang semakin sibuk, budaya kerja yang mengejar produktivitas tanpa henti, tekanan ekonomi, hingga minimnya waktu berkumpul membuat kesempatan untuk tertawa semakin berkurang.

Jadi, apakah usia 23 adalah titik ketika manusia mulai jarang tertawa? Sains mengatakan tidak. Tidak ada bukti bahwa ulang tahun ke-23 menjadi batas biologis yang membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk tertawa. Yang berubah adalah ritme hidup, lingkungan sosial, serta cara kita menjalani keseharian.

Barangkali, pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Mengapa kita berhenti tertawa di usia 23?" melainkan "Kapan terakhir kali kita benar-benar tertawa bersama orang-orang yang kita sayangi?" Karena pada akhirnya, yang menjaga tawa tetap hidup bukanlah usia, melainkan hubungan, kebersamaan, dan ruang-ruang kecil yang membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.