Wafatnya pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei bukan menjadi akhir dari konflik Iran vs Amerika dan antek-anteknya. Justru konflik antar negara itu bisa dikatakan sudah masuk dalam ambang konfrontasi kolosal yang bisa jadi berlangsung lama dan melelahkan.
Tidak berlebihan jika perang ke depannya tidak lagi sekadar ambisi Trump dan kawan-kawan, melainkan ada “sesuatu” yang lebih jauh, gambling, dan mempengaruhi stabilitas global.
Iran Anti Antek-antek Asing
Bukan tanpa kritik, Iran dan pemimpinnya dianggap rezim otoriter dan cukup frontal menghadapi demonstrasi. Namun ia dikenal sebagai negara yang sangat konsisten dalam menentang dominasi antek-antek asing seperti AS-Israel di Timur Tengah. Bahkan, ia termasuk negara di garda terdepan yang membela kedaulatan Palestina.
Axis of Resistance
Dalam kondisi geopolitik saat ini, Iran cukup mumpuni untuk dibilang sanggup untuk melakukan perang yang panjang. Bukan karena militernya, tapi “Axis of Resistance” yang merupakan jaringan lintas negara seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, hingga Milisi Syiah di Irak dan Suriah.
Selat Hormuz dan Peranan Vitalnya untuk Ekonomi Global
Berkaca dari sejarah, setiap ada pengancaman dari Iran untuk menutup Selat Hormuz (urat nadi energi global yang melayani 20% minyak dan gas bumi dunia), harga minyak mentah bakal naik secara global. Tentu, hal ini bakal menyebabkan harga BBM naik di tingkat konsumen.
Jika kita lihat dari data, harga minyak mentah jenis Brent sudah berada di kisaran 82 dolar AS per barel (2/03). Padahal akhir Februari masih ada di kisaran 72 dolar AS per barel.
Efek Domino untuk Indonesia?
Bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, situasi ini bisa menyebabkan semua bahan pokok naik. Logikanya, ketika harga logistik naik, biaya bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan kebutuhan utama lainnya bakal mengikuti.
Jika semua kebutuhan utama naik, maka UMKM atau pedagang kecil lainnya bakal menghadapi opsi sulit: menaikkan harga dagang dan kehilangan pelanggan atau mempertahankan harga lama namun menggerus keuntungan. Begitu juga dengan masyarakat menengah ke bawah dengan penghasilan pas-pasan. Pilihan mereka ialah menutup keinginan untuk barang non-primer.
Harapan untuk Indonesia
Indonesia, meski banyak faktor yang membuatnya terhindari dan tidak terlibat, namun tetap saja bakal kena imbasnya. Untuk itu, sebagai warga negara Indonesia, tugas kita ialah bantu negara untuk melewati hal ini.
Stop untuk memperkeruh keadaan, disinformasi, caci maki, atau ujaran kebencian. Semoga negeri dan dunia ini dijauhkan dari bentuk permusuhan dan peperangan.
Bayu Dewantara