Oppal Gengs, pernah merasa pekerjaan sebenarnya masih oke, tetapi hubungan dengan bos justru bikin ingin resign? Ternyata, persoalan seperti ini cukup banyak dialami pekerja.
Riset Development Dimensions International (DDI) melalui Frontline Leader Project menemukan bahwa 57% karyawan meninggalkan pekerjaan karena manajernya. Bahkan, 14% responden mengaku meninggalkan lebih dari satu pekerjaan karena alasan yang sama.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara karyawan dan atasan bukan sekadar persoalan komunikasi sehari-hari. Cara seorang bos memimpin ternyata bisa ikut menentukan apakah seseorang memilih bertahan atau mencari pekerjaan baru.\
Dalam dunia kerja, kita sering mendengar anggapan bahwa karyawan meninggalkan perusahaan, bukan atasannya. Namun, data DDI menunjukkan bahwa sosok manajer justru bisa menjadi alasan kuat seseorang memutuskan resign.
Selain 57% karyawan yang meninggalkan pekerjaan karena manajernya, sebanyak 32% lainnya mengaku serius mempertimbangkan untuk resign karena atasannya.
Dengan kata lain, tidak semua karyawan yang bermasalah dengan bos langsung mengajukan resign. Sebagian masih bertahan, tetapi sudah mulai kehilangan kenyamanan dan mempertimbangkan kesempatan di tempat lain.
Menurut DDI, kemampuan pemimpin dalam mengelola emosinya dan bagaimana ia membuat orang lain merasa menjadi faktor penting dalam mempertahankan talenta.
Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Tak Ingin Berada dalam Budaya Kerja Toxic
Politik Kantor dan Waktu Jadi Sumber Stres
Masalah di tempat kerja ternyata tidak hanya berkaitan dengan gaya kepemimpinan. DDI menemukan bahwa dua sumber stres utama bagi manajer dan karyawan adalah tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan serta menghadapi politik kantor.
Pemimpin senior juga menyadari bahwa frontline manager menghadapi banyak tekanan. Terlalu banyak tanggung jawab dan kurangnya waktu untuk pengembangan diri disebut sebagai hambatan utama dalam menjalankan peran tersebut.
Kondisi ini tentu bisa berdampak ke tim. Bos yang sedang berada di bawah tekanan mungkin menjadi lebih mudah frustrasi, sulit memberikan arahan, atau kurang punya waktu untuk mendengarkan anggota tim.
Bos Kesulitan Hadapi Percakapan Sulit
Menjadi seorang bos juga ternyata tidak selalu mudah. Salah satu kelemahan utama frontline manajer menurut pemimpin senior adalah kemampuan melakukan percakapan sulit mengenai kinerja dengan bawahannya.
Para frontline manager pun mengakui hal serupa. Mereka menyebut percakapan sulit, coaching, dan menjaga keterlibatan tim sebagai beberapa tantangan terbesar dalam pekerjaan.
Padahal, kemampuan tersebut sangat penting. Memberikan kritik atau evaluasi memang bagian dari pekerjaan seorang pemimpin, tetapi cara menyampaikannya bisa menentukan bagaimana karyawan menerima pesan tersebut.
Menurut saya, di titik ini perbedaan antara bos yang sekadar memberikan perintah dan pemimpin yang benar-benar membangun tim mulai terlihat.
Bukan Cuma Gaji, Karyawan Juga Cari Makna
Riset DDI juga menemukan bahwa sense of purpose atau rasa memiliki tujuan menjadi salah satu pendorong utama karyawan untuk memberikan performa terbaik.
Karyawan paling sering menyebut keinginan untuk memberikan dampak positif bagi dunia sebagai motivasi utama. Mereka juga termotivasi oleh kesempatan memiliki kendali atas proyek, mendapatkan penghormatan dari keluarga dan rekan, memperoleh promosi, hingga mendapatkan penghasilan lebih tinggi.
Artinya, gaji memang penting, tetapi bukan satu-satunya alasan seseorang bertahan. Lingkungan kerja dan hubungan dengan pemimpin juga dapat mempengaruhi pengalaman seseorang selama bekerja.
Banyak Bos Ternyata Tak Menyangka Jadi Pemimpin
Ada temuan lain yang tidak kalah menarik. Sebanyak 70% frontline manager mengatakan mereka sebenarnya tidak menyangka akan mendapatkan promosi menjadi pemimpin.
Sebanyak 20% merasa antusias dengan kesempatan tersebut, sedangkan 17% mengambil posisi itu karena menganggapnya sebagai langkah karir yang tepat. Sementara itu, 19% lainnya menerima posisi tersebut karena kenaikan gaji.
Menjadi karyawan yang berprestasi ternyata tidak otomatis membuat seseorang siap menjadi bos. Seorang pemimpin membutuhkan kemampuan tambahan untuk mengelola orang, memberikan feedback, menyelesaikan konflik, hingga menghadapi percakapan yang sulit.
Bahkan, 18% pemimpin dalam riset tersebut mengaku menyesal mengambil peran kepemimpinan. Sebanyak 41% lainnya masih ragu apakah keputusan tersebut merupakan langkah yang tepat.
Baca juga: 5 Cara Gen Z Menghadapi Kerjaan Menumpuk Tanpa Burnout
Bos Punya Peran Besar Bikin Karyawan Betah
Dari berbagai temuan tersebut, satu hal terlihat jelas: gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi keputusan karyawan untuk bertahan atau resign.
Bos yang mampu berkomunikasi dengan baik, mendengarkan tim, memberikan arahan, serta mengelola emosinya dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman. Sebaliknya, hubungan yang buruk dengan atasan bisa membuat karyawan mulai mempertimbangkan untuk mencari tempat kerja baru.
Jadi, ketika seorang karyawan resign, mungkin pertanyaannya bukan hanya, “Kenapa dia nggak betah?” Perusahaan juga bisa melihat lebih jauh dan bertanya, “Seperti apa pengalaman dia selama dipimpin?”
Naufal Mamduh