·
Tren fesyen global kini semakin mengarah pada
produk yang autentik, berkualitas, dan memiliki cerita di balik pembuatannya.
·
Kekayaan kerajinan tangan dan wastra tradisional
Indonesia menjadi modal penting untuk masuk ke pasar fesyen dunia.
·
Konsep slow fashion dan produk berkelanjutan
membuka peluang bagi perajin serta jenama lokal.
·
Perkembangan modest fashion menjadi kesempatan
bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pusat fesyen Muslim
dunia.
· Generasi muda yang gemar memadukan unsur tradisional dan modern bisa membantu membawa identitas fesyen Indonesia ke panggung global.
Perkembangan tren fesyen dunia ternyata tidak selalu menjadi ancaman bagi industri mode Indonesia. Justru, perubahan selera konsumen global dalam beberapa tahun terakhir dinilai dapat membuka peluang baru bagi para desainer, perajin, dan jenama lokal.
Pengamat mode sekaligus salah satu Founder Indonesian Fashion Chamber (IFC), Lisa Fitria, melihat ada sejumlah kecenderungan dalam industri fesyen global yang cukup sesuai dengan kekuatan Indonesia. Salah satunya adalah meningkatnya ketertarikan konsumen terhadap produk yang dibuat dengan keterampilan tinggi serta memiliki unsur budaya yang kuat.
Menurut Lisa, konsumen fesyen saat ini tidak hanya mempertimbangkan tampilan ketika memilih sebuah produk. Mereka juga mulai memperhatikan cerita, proses pembuatan, kualitas material, daya tahan, hingga bagaimana sebuah produk diproduksi.
Perubahan pola pikir tersebut menjadi peluang bagi Indonesia yang memiliki kekayaan budaya, kerajinan, kain tradisional, serta sumber daya manusia yang telah lama berkecimpung dalam industri fesyen dan kriya.
Craftsmanship Jadi Kekuatan Indonesia
Salah satu tren global yang dinilai menguntungkan Indonesia adalah meningkatnya apresiasi terhadap craftsmanship atau keterampilan dalam menghasilkan sebuah produk.
Produk yang dibuat melalui proses panjang dan melibatkan keterampilan tangan kini memiliki nilai tersendiri. Konsumen global mulai mencari barang yang terasa lebih personal, memiliki identitas, serta tidak terlihat seperti produk massal.
Indonesia memiliki modal kuat dalam hal ini. Berbagai daerah memiliki tradisi kerajinan yang diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk bordir, batik, tenun, dan berbagai teknik kriya lainnya.
Lisa mencontohkan kerajinan bordir Icik yang masih dibuat secara tradisional oleh para perajin di Kudus, Jawa Tengah. Teknik tersebut memungkinkan perajin menghasilkan motif yang rumit dan presisi, sekaligus menyimpan makna filosofis dalam setiap desainnya.
Kekuatan semacam ini dapat menjadi pembeda produk fesyen Indonesia di tengah pasar global yang sangat kompetitif.
Tren tersebut juga sejalan dengan berkembangnya konsep slow fashion dan quiet luxury. Konsumen yang mengikuti tren ini cenderung mencari produk berkualitas tinggi, tahan lama, memiliki nilai estetika yang tidak lekang oleh waktu, dan dibuat melalui proses yang lebih bertanggung jawab.
Dengan kekayaan craftsmanship yang dimiliki, Indonesia berpeluang mengembangkan produk fesyen bernilai tinggi yang tidak hanya mengandalkan harga, tetapi juga cerita dan keahlian di balik produk tersebut.
Sustainability Buka Pasar Baru
Selain craftsmanship, aspek keberlanjutan atau sustainability juga semakin mendapat perhatian dalam industri fesyen global.
Konsumen mulai mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial dari pakaian yang mereka beli. Produk yang menggunakan material berkelanjutan, diproduksi secara etis, dan memiliki umur pemakaian panjang semakin mendapat tempat di pasar.
Kondisi ini kembali menjadi peluang bagi Indonesia. Tanah
air memiliki beragam material dan sumber daya yang dapat dikembangkan untuk
mendukung industri fesyen berkelanjutan.
Tidak hanya dari sisi bahan, Indonesia juga memiliki banyak desainer dan perajin yang dapat mengolah material tersebut menjadi produk dengan nilai estetika serta fungsi yang lebih tinggi.
Namun, peluang tersebut membutuhkan pengembangan yang serius. Industri fesyen tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan bahan dan budaya. Kualitas produksi, konsistensi, inovasi desain, hingga kemampuan memenuhi standar pasar internasional juga perlu diperkuat.
Dengan begitu, produk lokal dapat bersaing bukan hanya karena memiliki unsur tradisional, tetapi juga karena mampu memenuhi ekspektasi konsumen global.
Modest Fashion Jadi Peluang Besar
Tren lain yang dinilai menguntungkan Indonesia adalah meningkatnya perhatian terhadap modest fashion atau busana sopan.
Indonesia memiliki keunggulan tersendiri karena sudah memiliki ekosistem yang cukup kuat dalam industri busana Muslim. Mulai dari desainer, jenama lokal, industri tekstil, wastra, komunitas konsumen, hingga berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan modest fashion.
Lisa juga menyebut Indonesia memiliki pengalaman panjang
dalam menghasilkan busana sopan. Hal tersebut menjadi modal penting untuk
mengembangkan produk yang tidak hanya ditujukan bagi pasar domestik, tetapi
juga konsumen internasional.
Bahkan, berdasarkan laporan yang dikutip Lisa, Indonesia
disebut berada di posisi teratas sebagai salah satu pusat inovasi dan
kreativitas dalam desain busana Muslim atau modest wear.
Meski demikian, modest fashion tidak harus selalu dipahami sebagai pakaian khusus untuk konsumen Muslim. Konsep busana sopan juga dapat dikembangkan menjadi gaya berpakaian yang lebih universal.
Jika dikemas dengan desain modern, kualitas yang baik, serta identitas yang kuat, modest fashion Indonesia memiliki potensi menjangkau konsumen yang jauh lebih luas.
Anak Muda Bisa Bawa Wastra ke Tren Global
Perubahan selera generasi muda juga memberikan peluang tambahan bagi industri fesyen Indonesia.
Saat ini, semakin banyak anak muda yang tertarik menggabungkan elemen tradisional dengan gaya berpakaian modern. Kain tradisional tidak lagi hanya digunakan dalam acara formal atau seremoni, tetapi mulai dikreasikan menjadi berbagai model pakaian yang lebih kasual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini dapat menjadi pintu masuk bagi wastra
Indonesia untuk mendapatkan perhatian lebih luas.
Batik, tenun, bordir, dan berbagai kain tradisional dari daerah di Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari tren fesyen kontemporer. Tantangannya adalah bagaimana unsur tradisional tersebut diterjemahkan ke dalam desain yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini tanpa kehilangan identitas aslinya.
Pendekatan tersebut juga dapat memberikan dampak ekonomi kepada para perajin di berbagai daerah. Ketika permintaan terhadap kain dan kerajinan tradisional meningkat, rantai ekonomi yang melibatkan perajin, produsen, desainer, hingga pelaku usaha lokal ikut mendapatkan manfaat.
Bukan Sekadar Membawa Fesyen Indonesia ke Dunia
Peluang dari tren global tersebut pada akhirnya bukan hanya soal bagaimana produk fesyen Indonesia bisa dijual di luar negeri.
Ada peluang yang lebih besar, yaitu bagaimana Indonesia dapat menciptakan tren fesyen yang memiliki karakter dan identitas sendiri.
Selama ini, industri fesyen Indonesia sering kali diposisikan sebagai pihak yang mengikuti tren global. Padahal, kekayaan budaya dan keterampilan yang dimiliki dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang memiliki daya tarik internasional.
Karena itu, perpaduan antara tradisi, inovasi, teknologi, desain modern, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar global menjadi penting.
Lisa menilai arah perkembangan industri fesyen Indonesia seharusnya tidak berhenti pada upaya membuat produk lokal untuk konsumen internasional. Lebih jauh, Indonesia memiliki kesempatan untuk menciptakan fesyen global yang tetap membawa karakter Indonesia atau “DNA Indonesia”.
Untuk mencapai hal tersebut, regenerasi perajin juga menjadi pekerjaan penting. Beberapa keterampilan tradisional mulai menghadapi tantangan karena jumlah perajinnya semakin berkurang. Regenerasi diperlukan agar keahlian tersebut tidak hilang sekaligus dapat terus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan memanfaatkan perubahan tren fesyen dunia, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengubah kekayaan budaya menjadi kekuatan industri. Bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga membuat tradisi tersebut relevan dengan kebutuhan pasar masa kini.
Jika peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara
konsisten, fesyen Indonesia bukan hanya berpotensi go global, tetapi
juga memiliki kesempatan untuk ikut menentukan seperti apa wajah fesyen global
di masa depan.
Muhammad Gustirha Yunas