Athletic Pilates tetap berpegang pada prinsip dasar Pilates, tapi dikemas dengan intensitas dan ritme yang lebih tinggi
Latihan ini bermanfaat untuk kekuatan otot inti, mobilitas sendi, dan perbaikan postur tubuh
Cocok diikuti pemula sampai yang sudah punya tingkat kebugaran tinggi
Ada tahapan latihan yang bisa dicoba, mulai dari teknik pernapasan sampai gerakan dengan beban tambahan
Setelah Hyrox bikin heboh dengan format lari dan latihan fungsionalnya, sekarang giliran tren olahraga lain yang mulai ramai diperbincangkan, yaitu athletic Pilates. Pilates memang bukan olahraga baru, tapi belakangan pendekatannya berubah jadi jauh lebih dinamis dan menantang dibanding citra Pilates yang selama ini identik dengan gerakan lambat dan santai.
Penasaran detailnya kayak apa? Berikut tujuh faktanya.
1. Athletic Pilates Gabungkan Gerakan Klasik dengan Beban Tambahan
Athletic Pilates, yang juga dikenal dengan sebutan athletic reformer atau power Pilates, menggabungkan gerakan Pilates klasik dengan intensitas dan beban tambahan untuk meningkatkan kekuatan, kelenturan, serta stabilitas inti tubuh. Latihan ini tetap berpegang pada prinsip dasar Pilates seperti kontrol, presisi, pernapasan, alignment, dan aktivasi otot core, tapi dikemas dalam format yang jauh lebih intens.
2. Fokus pada Gerakan Dinamis dan Repetisi Menantang
Berbeda dari Pilates konvensional yang cenderung tenang, Athletic Pilates berfokus pada gerakan yang dinamis, kontrol otot yang maksimal, dan repetisi yang lebih menantang. Kombinasi ini bikin lebih banyak kalori terbakar dibanding sesi Pilates biasa, sekaligus menjaga elemen kontrol dan presisi yang jadi ciri khas Pilates sejak dulu.
3. Manfaatnya Menyentuh Banyak Aspek Kebugaran Sekaligus
Salah satu alasan athletic Pilates makin diminati adalah karena manfaatnya yang gak cuma satu arah. Latihan ini efektif membantu membangun stabilitas otot inti secara mendalam, meningkatkan mobilitas sendi, serta mendukung postur tubuh yang lebih baik. Selain itu, athletic Pilates juga bisa membantu memperbaiki ketidakseimbangan otot yang sering muncul akibat pola aktivitas sehari-hari, kondisi yang umum dialami pekerja kantoran yang banyak duduk atau orang yang sering melakukan gerakan berulang dalam olahraga tertentu.
Baca juga: Lagi Hype di Kalangan Cewek, Ini Alasan Banyak yang Jatuh Hati dengan Pilates
4. Low-Impact tapi Tetap Menantang
Karena sifatnya low-impact, tekanan terhadap sendi jauh lebih rendah dibanding olahraga intensitas tinggi lainnya. Meski begitu, tingkat tantangannya tetap tinggi karena peserta dituntut menjaga kontrol, keseimbangan, dan kualitas gerakan sepanjang sesi latihan. Karakteristik inilah yang bikin athletic Pilates cocok jadi latihan pendamping buat mereka yang udah aktif berolahraga, karena membantu meningkatkan kualitas gerakan sekaligus mendukung pemulihan tubuh.
5. Cocok Buat Berbagai Level Kebugaran
Salah satu keunggulan Pilates, termasuk versi athletic-nya, adalah fleksibilitasnya untuk berbagai kelompok peserta. Latihan ini bisa diikuti pemula maupun yang sudah punya tingkat kebugaran tinggi, dengan variasi gerakan mulai dari level beginner, intermediate, sampai advanced. Athletic Pilates jadi pilihan menarik buat siapa aja yang ingin meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, kesadaran tubuh, sekaligus memperbaiki postur, termasuk pekerja urban yang banyak duduk, pelari, penggemar hybrid training, sampai orang yang mencari olahraga efektif dengan risiko benturan rendah.
6. Ada Tahapan Latihan yang Bisa Dicoba
Buat kamu yang mau coba, ada beberapa tahapan dasar. Pertama, kuasai teknik pernapasan lateral, yaitu menarik napas dalam-dalam lewat hidung sampai tulang rusuk mengembang, lalu membuang napas perlahan sambil menarik pusar ke arah tulang belakang untuk mengunci otot core.
Kedua, lakukan gerakan penguatan inti seperti The Hundred, yaitu berbaring telentang sambil mengangkat kaki ke posisi tabletop dan memompa lengan naik turun mengikuti irama napas hingga seratus hitungan. Ada juga Roll Up, yaitu menggulung tubuh dari posisi berbaring ke posisi duduk membentuk huruf C, serta Leg Circles yang melatih stabilitas panggul lewat gerakan memutar kaki.
Ketiga, tingkatkan intensitasnya biar unsur atletiknya lebih terasa, misalnya dengan menambahkan beban ringan di tangan, memakai reformer machine untuk gerakan footwork atau lunges dengan resistensi pegas, atau mencoba gerakan dinamis seperti plank to pike yang melatih kekuatan seluruh tubuh sekaligus.
7. Konsistensi Jadi Kunci Utama
Buat mendapatkan hasil yang konsisten, latihan athletic Pilates disarankan dilakukan dua sampai tiga kali seminggu. Pemula bisa memulai dengan dua sesi per minggu untuk membangun fondasi teknik dan kesadaran tubuh, sementara yang ingin meningkatkan kekuatan dan performa bisa menambah jadi tiga kali seminggu dengan tetap memperhatikan waktu pemulihan tubuh. Tren ini menunjukkan bahwa masyarakat sekarang gak cuma cari olahraga yang bikin keringetan atau bakar kalori doang, tapi juga yang bisa memperbaiki postur, meningkatkan mobilitas, dan mendukung kesehatan jangka panjang.
Baca juga: Pilates Bisa Mengurangi Nyeri Haid Hingga 38% Menurut Riset
Sama seperti Hyrox yang menawarkan tantangan baru lewat kombinasi lari dan latihan fungsional, athletic Pilates hadir sebagai alternatif olahraga yang gak kalah menantang, tapi tetap ramah buat sendi. Nah, Oppal Gengs, dari kombinasi kontrol gerakan dan intensitas tinggi ini, athletic Pilates jelas bukan sekadar tren musiman. Kalau kamu udah bosan sama rutinitas gym yang itu-itu aja, mungkin ini saatnya buat coba tantangan baru!
Naufal Mamduh