Sedang terjadi demo di Prancis yang mengakibatkan kericuhan besar berskala nasional yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026). Ratusan ribu warga turun ke jalan untuk melayangkan protes terkait mahalnya biaya hidup di negara tersebut, namun menjelang akhir demonstrasi, aksi ini berubah menjadi kerusuhan, di antaranya banyak toko dijarah, mobil dibakar, dan sebuah balai kota bersejarah terbakar. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut lebih dari 1.200 orang ditangkap dan 150 polisi terluka.
Source: CNBC Indonesia
Ribuan Massa Turun ke Jalan
Kementerian Dalam Negeri memperkirakan sebanyak 550 ribu orang turun ke jalan di seluruh wilayah Prancis (termasuk 110 ribu di Paris), sementara CGT menyebut hingga 800 ribu. Aksi ini juga menghidupkan kembali gerakan rompi kuning (gilets jaunes) yang pernah mengguncang pemerintahan Macron pada 2018. Tidak semua peserta demo terlibat dalam kekerasan dan sebagian besar massa tetap melakukan aksi damai.
Balai Kota Limoges Terbakar
Salah satu insiden yang banyak menjadi sorotan adalah balai kota Limoges yang berada di Prancis tengah terbakar. Menurut keterangan saksi mata dan laporan AFP, kelompok bertopeng lebih dulu membakar mobil polisi di depan balai kota, memecahkan jendela, lalu masuk dan menyalakan api. Balai kota yang diresmikan pada 1883 sudah berusia 143 tahun itu rusak parah dan api menjalar hingga ke atap. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengonfirmasi adanya insiden pembobolan dan kebakaran yang disengaja di Balai Kota Limoges. Sementara itu, prefek Haute-Vienne, Maurice Barate, menyebut kerusakan bangunan bersejarah tersebut sebagai “bencana bagi warisan budaya”. Ia juga menjelaskan bahwa atap bangunan ambruk ke lantai di bawahnya, kecuali di sayap barat, dan sekitar dua pertiga fasadnya telah rusak atau hilang. Wali Kota Guillaume Guérin menambahkan bahwa menara lonceng balai kota juga runtuh.
Fasilitas dan Kota Lain Juga Ikut Terdampak
Balai kota di Marseille dan Lille juga dibobol dan dirusak. Di Lyon, kantor pariwisata juga terbakar; selain itu, toko-toko mengalami penjarahan di Lyon dan Marseille. Di Paris, Wali Kota Emmanuel Grégoire menyebut sejumlah ruas jalan “telah hancur” oleh kelompok pemuda bertopeng yang membakar mobil dan menjarah toko. Sebuah bar di Paris dibakar, dan tumpukan sepeda terbakar di dekat Place de la République
Akar Masalah Demo Berawal dari Biaya Hidup yang Menekan
Permasalahan utama yang didemonstrasikan oleh para demonstran adalah mahalnya biaya hidup. Menurut data INSEE, inflasi tahunan Prancis naik ke 3,1 persen pada September 2026 dari 2,4 persen pada Agustus, dengan harga energi melonjak 21,3 persen. Inflasi zona euro juga naik ke 3,8 persen. Lonjakan harga ini dipicu oleh perang yang terjadi di Timur Tengah yang mengakibatkan harga bahan bakar mengalami kenaikan. Seorang guru di Strasbourg mengaku lelah bekerja keras dengan upah yang hanya cukup untuk hidup pas-pasan, sementara sewa rumah terus naik.
Pemicu: Protes Pelajar dan Tekanan Anggaran
Gelombang protes ini berawal dari aksi yang dilakukan pelajar dan mahasiswa mengenai pendanaan pendidikan yang sudah berjalan lebih dari tiga pekan. Menurut organisasi mahasiswa L’Union Étudiante, sekitar 90 persen universitas terblokir atau terganggu, dan jajak pendapat Cluster 17 menunjukkan sekitar 57 persen warga mendukung aksi mahasiswa. Tuntutan anggaran muncul ketika Lecornu sedang berupaya untuk memangkas belanja negara agar defisit turun ke 5 persen dari PDB pada 2027. Serikat CFDT, CGT, dan FO pun menyerukan mobilisasi untuk menolak rancangan anggaran tersebut, dan CGT menuntut kenaikan upah dan pensiun serta perlindungan layanan publik.
Politik yang Rapuh Jelang Pilpres
Situasi ini juga semakin diperburuk karena kondisi politik yang rapuh. Oposisi sudah dua kali menjatuhkan perdana menteri terkait rencana anggaran dalam dua tahun terakhir. Pemilihan presiden untuk menggantikan Macron dijadwalkan pada April 2027. Lecornu menilai kelompok tertentu sengaja memanfaatkan kemarahan publik sebagai pemanasan menjelang pemilu.
Macron menegaskan bahwa para pelaku perusakan, penyerangan kantor prefektur, dan penjarahan balai kota akan dituntut dan dihukum. Lecornu, yang mengecam kekerasan berintensitas ekstrem, berkata, “Merupakan sebuah keajaiban bahwa jumlah korban tidak lebih banyak.”
Dengan tekanan ekonomi, anggaran ketat, dan pemilu yang semakin dekat, protes ini kemungkinan belum akan berakhir. Pertanyaannya kini apakah pemerintah bisa meredam kemarahan publik sebelum gelombang berikutnya datang.
Muhammad Ichsan