Apakah Rekor Guinness World Records Bisa Dibeli? Ini Faktanya!

  • Saifan Zaking

Belakangan ini, nama Guinness World Records menjadi topik hangat di media sosial Indonesia. Pemicunya adalah tuduhan yang beredar setelah live streaming Marapthon berhasil meraih rekor dunia bukan karena pencapaian murni, melainkan karena "membelinya". 


Salah satu Streamer secara terbuka menyebut bahwa penghargaan tersebut bisa dibeli. Tapi benarkah demikian?


Apa Itu Guinness World Records?


Sebelum masuk ke debat soal "beli-membeli", penting untuk meluruskan satu hal bahwa namanya adalah Guinness World Records, bukan "Guiness". Lembaga asal Inggris ini telah puluhan tahun menjadi otoritas pencatat rekor dunia, dari hal-hal luar biasa seperti manusia bertato terbanyak hingga bangunan tertinggi di dunia.


Sistemnya dikenal ketat. Setiap rekor harus memenuhi sejumlah syarat fundamental yang dapat diukur secara objektif, bisa diverifikasi oleh pihak independen, dan memungkinkan orang lain untuk memecahkannya di masa depan.


Dua Jalur Pendaftaran: Gratis vs. Berbayar


Di sinilah akar dari seluruh kesalahpahaman bermula. Guinness World Records menyediakan dua jalur utama pendaftaran yang memiliki mekanisme berbeda.


Jalur Standar


Untuk individu atau kelompok kecil yang bertujuan mencetak rekor sebagai pencapaian pribadi, pendaftaran sepenuhnya gratis. Prosesnya dilakukan secara online, dengan buat akun, ajukan rekor yang ingin dipecahkan, tunggu persetujuan, laksanakan rekor sesuai panduan, kirim bukti, dan tunggu verifikasi.


Satu-satunya biaya kecil muncul jika kamu ingin mengajukan kategori rekor yang benar-benar baru dan belum ada di database mereka adalah sebesar USD5 atu sekitar Rp80.000. Namun ada konsekuensinya, yaitu proses ini sangat lambat. 


Menunggu keputusan dari pengajuan awal bisa memakan waktu hingga 12 minggu, dan setelah bukti dikirim, proses verifikasi bisa memakan 12 minggu lagi.


Layanan Prioritas


Bagi yang tidak sabar, Guinness menyediakan Priority Application, yakni layanan berbayar yang mempercepat proses peninjauan menjadi hanya 5 hari kerja. 


Dengan biaya sebesar USD800 atau sekitar Rp12,8 juta untuk rekor yang sudah ada dalam database, dan USD1.000 atau Rp16 juta untuk mengajukan kategori rekor baru. Dan ini poin krusialnya, membayar layanan prioritas tidak menjamin rekor diterima. 


Guinness secara eksplisit menyatakan bahwa biaya ini hanya mempercepat antrean peninjauan. Jika bukti tidak memenuhi syarat, klaim tetap akan ditolak, dan tidak ada pengembalian dana.


Apa Bedanya "Membayar Layanan" dan "Membeli Rekor"?


Ini adalah inti dari seluruh perdebatan, dan jawabannya ada pada tiga langkah yang tidak bisa dilewati. Pertama adalah membayar layanan untuk mendapat akses ke tim profesional Guinness yang membantu mempersiapkan dan memverifikasi upaya rekor.


Kedua, laksanakan pencapaian nyata dengan tetap harus benar-benar melakukan aksinya, sesuai pedoman yang sangat rinci. Ketiga adalah verifikasi independen dengan Tim Records Management yang terlatih menilai semua bukti secara objektif. 


Jika bukti tidak valid, rekor tidak diakui apapun yang sudah dibayar. Tidak ada mekanisme di mana uang langsung menghasilkan sertifikat tanpa pencapaian nyata. Reputasi Guinness World Records selama puluhan tahun bergantung persis pada integritas sistem ini.


Analogi sederhananya membayar Priority Application di Guinness itu seperti membayar fast track di bandara. Kalian tetap harus punya paspor, tiket, dan melewati pemeriksaan keamanan, hanya antreannya yang lebih pendek.


Apakah Pemegang Rekor Dapat Uang?


Pertanyaan menarik lain yang sering muncul bersamaan, apakah Guinness membayar para pemecah rekornya?


Tidak. Guinness World Records secara tegas menyatakan dalam FAQ resminya bahwa mereka tidak memberikan hadiah uang tunai, bonus, atau sponsorship otomatis kepada pemegang rekor. Yang didapat hanyalah sertifikat resmi, dan satu itu pun gratis bila rekormu diverifikasi berhasil.


Keuntungan sesungguhnya dari memegang rekor Guinness adalah bersifat tidak langsung: reputasi, eksposur media, efek viral, dan nilai promosi. Itulah mengapa banyak perusahaan besar rela mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk mengejar rekor, bukan karena ada hadiah di ujungnya, melainkan karena nilai branding-nya jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan.