Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan, dengan penghentian seluruh operasi militer secara permanen di semua front konflik. Penandatanganan resmi dijadwalkan pada 19 Juni 2026 di Swiss.
Pakistan menjadi mediator utama dalam proses perundingan, dengan dukungan Qatar, Arab Saudi, dan Turki. Kesepakatan ini diklaim sebagai hasil dari serangkaian negosiasi diplomatik intensif yang berlangsung selama beberapa pekan.
Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah penandatanganan perjanjian. Presiden Donald Trump juga mengumumkan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, sehingga jalur pelayaran energi terpenting dunia tersebut dapat kembali beroperasi.
Perdamaian ini berpotensi meredakan tekanan ekonomi global, karena penutupan Selat Hormuz selama konflik menyebabkan gangguan pasokan minyak, gas, dan pupuk yang mendorong kenaikan harga dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan stagflasi di berbagai negara.
Konflik yang selama hampir empat bulan mengguncang Timur Tengah akhirnya memasuki babak baru. Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2026. Kabar ini langsung disambut positif oleh banyak negara karena berpotensi mengurangi ketegangan geopolitik sekaligus menstabilkan perekonomian global.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan kabar tersebut melalui unggahannya di platform X pada 15 Juni 2026. Pakistan diketahui berperan sebagai mediator dalam perundingan antara kedua negara. Menurut Sharif, Amerika Serikat dan Iran telah sepakat menghentikan seluruh operasi militer secara permanen di semua front konflik, termasuk yang berkaitan dengan situasi di Lebanon.
Sharif juga menyebut penandatanganan resmi perjanjian damai akan dilaksanakan pada 19 Juni 2026 di Swiss. Dalam beberapa hari sebelum penandatanganan, para mediator akan memfasilitasi sejumlah pertemuan teknis untuk mempersiapkan implementasi kesepakatan tersebut.
Diplomasi Intensif Berbuah Kesepakatan
Pengumuman dari Pakistan segera mendapat konfirmasi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah selesai dan siap memasuki tahap penandatanganan resmi.
Kesepakatan ini merupakan hasil dari serangkaian negosiasi intensif yang melibatkan sejumlah negara. Dalam pernyataannya, Sharif menyampaikan apresiasi kepada Qatar yang turut mendukung proses mediasi. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Arab Saudi dan Turki atas kontribusi mereka dalam membantu tercapainya solusi diplomatik.
Sebelum kesepakatan dicapai, konflik antara Washington dan Teheran telah menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar pada 2026. Berbagai operasi militer, ancaman balasan, hingga gangguan terhadap jalur perdagangan internasional membuat perang tersebut menjadi perhatian utama dunia selama beberapa bulan terakhir.
Iran dan AS Sama-Sama Mengumumkan Penghentian Operasi Militer
Dari pihak Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi mengonfirmasi bahwa Teheran telah menyelesaikan nota kesepahaman atau memorandum of understanding sebagai dasar penghentian konflik. Menurut laporan MS NOW yang menerjemahkan pernyataan resmi berbahasa Persia, seluruh operasi militer di semua front, termasuk Lebanon, akan dihentikan secara segera dan permanen.
Iran juga menyatakan bahwa blokade laut terhadap negara tersebut akan dicabut. Namun, Teheran menegaskan bahwa pembahasan menuju perjanjian final akan bergantung pada pelaksanaan komitmen yang telah dijanjikan Washington dalam nota kesepahaman tersebut.
Meski sama-sama mengumumkan tercapainya kesepakatan, masing-masing pihak tetap mempertahankan narasinya sendiri. Dilansir Associated Press (AP), media pemerintah Iran menayangkan banner televisi yang menyebut Amerika Serikat telah "dipaksa menandatangani perjanjian untuk mengakhiri perang". Sementara itu, Washington menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai keberhasilan diplomasi untuk menghentikan konflik yang berpotensi meluas.
Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
Salah satu poin terpenting dalam kesepakatan damai ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Melalui unggahannya di Truth Social, Trump mengumumkan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut akan kembali dibuka setelah perjanjian resmi ditandatangani pada Jumat, 19 Juni.
Trump juga menyatakan bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran akan dicabut. Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz akan memungkinkan proses pembersihan ranjau sehingga arus perdagangan energi dapat kembali berjalan normal.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia harus melewati perairan ini sebelum menuju pasar internasional. Karena itu, setiap gangguan yang terjadi di Selat Hormuz hampir selalu berdampak terhadap harga energi global.
Dampak Besar terhadap Ekonomi Dunia
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan besar akibat blokade dan ancaman keamanan. Penutupan jalur tersebut menyebabkan pasokan berbagai komoditas penting, termasuk minyak, gas, dan pupuk, menjadi lebih terbatas.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga di berbagai sektor dan memunculkan kembali kekhawatiran mengenai stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sejumlah negara mulai merasakan dampaknya melalui meningkatnya biaya energi dan tekanan terhadap aktivitas industri.
Menurut data yang disebutkan dalam laporan mengenai kesepakatan tersebut, tingkat inflasi tahunan Amerika Serikat mencapai 4,2 persen pada Mei 2026, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Karena itu, pasar global menyambut positif kabar perdamaian ini dengan harapan pasokan energi yang lebih stabil dapat membantu menurunkan tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang.
Dukungan Internasional dan Tantangan yang Masih Tersisa
Kesepakatan damai AS-Iran juga mendapat respons positif dari berbagai negara. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai langkah penting untuk memperkuat perdamaian berkelanjutan dan mendukung pertumbuhan ekonomi regional maupun global.
Dilansir Reuters, Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia menyatakan kesediaan untuk melonggarkan sanksi terhadap Iran apabila Teheran mengambil langkah konkret terkait program nuklirnya. Negara-negara tersebut juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan siap bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Meski demikian, jalan menuju perdamaian permanen belum sepenuhnya aman. Beberapa jam sebelum pengumuman kesepakatan, militer Israel menuduh kelompok Hezbollah yang didukung Iran meluncurkan proyektil ke wilayahnya. Serangan balasan Israel di Beirut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa ketegangan dapat kembali meningkat.
Situasi tersebut mendorong Trump untuk meminta semua pihak menahan diri dan tidak mengambil tindakan yang dapat menggagalkan proses perdamaian. Jika seluruh tahapan implementasi berjalan sesuai rencana, maka perang yang telah berlangsung hampir empat bulan itu akan resmi berakhir dan membuka peluang bagi stabilitas baru di Timur Tengah maupun perekonomian global.
Reyvan