Awakened Body: Raga Eling, Saat Tubuh Bicara Soal Kesadaran di Galeri ZEN1 Bali

  • Bayu Dewantara

Ada kabar seru nih dari dunia seni rupa. Kalau kalian lagi di Bali atau berencana liburan ke Pulau Dewata, ada satu pameran yang wajib banget masuk bucket list kalian. Jumat, 17 April 2026, Galeri ZEN1 Bali baru saja meresmikan pameran tunggal dari seniman muda berbakat asal Bandung, Haviez Ammar.

Pameran ini spesial banget karena menandai kembalinya Galeri ZEN1 setelah absen selama setahun. Kali ini, mereka berkolaborasi bareng Artventour untuk kasih panggung buat seniman muda potensial. Setelah sebelumnya sukses menggelar tema "Awakened Body: Gorejat Raga" di Clove Hotel Bandung, kini Ammar membawa kelanjutan energinya ke Bali dengan tajuk yang lebih dalam: "Awakened Body: Raga Eling".


Eksplorasi Tubuh yang Nggak Cuma Fisik

Di pameran ini, Ammar nggak cuma gambar tubuh manusia biasa. Dia mengeksplorasi tubuh sebagai medan kesadaran. Jadi, buat Ammar, tubuh itu bukan cuma kumpulan tulang dan daging (entitas biologis), tapi "wadah" tempat ingatan, etika, dan pengalaman hidup kita berproses secara berkelanjutan.

Nama "Raga Eling" sendiri diambil dari konsep lokal Bali. Eling itu artinya sadar atau terjaga. Ini soal gimana batin kita tetap waspada dan punya hubungan spiritual sama sesama dan semesta. Singkatnya, Ammar pengen kita refleksi diri lewat karya-karyanya yang sarat makna ini, bahwa tubuh kita adalah pusat dari segala nilai dan pengetahuan yang kita punya.

Visual Surrealis: Dari Reog Ponorogo ke Filosofi Bali

Kalau kalian liat karyanya, kalian bakal terpukau sama teknik drawing dua dimensinya yang detail banget, padat, dan berlapis. Gaya visualnya cenderung surrealis, keren dan sedikit misterius. Ammar pakai simbol-simbol keren kayak bulu merak, dadak merak, sampai figur Singo Barong dari Reog Ponorogo.

Bukan cuma gaya-gayaan, imaji ini nyambung banget sama konsep Sekala dan Niskala di Bali (dunia yang tampak dan yang tak kasatmata). Ada juga repetisi bulu merak bermata banyak yang artistik banget. Di filsafat Hindu-Bali, ini bisa diartikan sebagai pengingat soal Karma Phala. Bahwa setiap tindakan kita ada konsekuensinya, dan "mata" alam semesta selalu melihat. Tubuh dalam karya Ammar selalu punya cerita, menanggung jejak pilihan hidup kita masing-masing.

Ritual Visual dan Kaligrafiti yang Meditatif


Satu lagi yang unik adalah sentuhan "Kaligrafiti" dalam karya-karyanya. Ini semacam coretan yang mirip tulisan tapi lebih ke arah gestur batin atau "mantra visual". Kalian nggak perlu pusing baca artinya secara literal, cukup rasain ritmenya aja.

Proses kreatif Ammar ini disebut sebagai "Laku Visual". Garis-garis yang diulang-ulang secara repetitif itu kayak proses meditasi atau ritual. Ini yang bikin karyanya terasa punya jiwa atau Taksu, energi spiritual yang bikin sebuah karya seni jadi terasa "hidup" dan punya kehadiran batin yang kuat.

Keseimbangan dalam Perbedaan

Karya Ammar juga nunjukin konsep Rwa Bhineda, keseimbangan dalam dua hal yang berbeda (dualitas). Tubuh manusia di sini melebur sama elemen hewan dan ornamen, menciptakan figur unik yang berada di antara bentuk dan makna. Ada pesan soal harmoni Tri Hita Karana juga di sini, yaitu hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui figur merak dan singa, Ammar ngingetin kita kalau posisi manusia itu bagian dari ekosistem besar yang harus dijaga keseimbangannya.

Maestro seni Bali, Apel Hendrawan, yang membuka pameran ini ngaku terkesan banget sama detail teknis Ammar. Menurutnya, ini adalah kolaborasi budaya yang keren antara Bandung dan Bali yang bisa membuka peluang buat seniman-seniman muda lainnya untuk saling mengisi.

Jadi, buat kalian yang pengen healing sambil cari inspirasi visual yang dalem banget, langsung aja meluncur ke Galeri ZEN1 Bali. Yuk, kita belajar jadi lebih "Eling" bareng karya-karya Haviez Ammar! Kita diingatkan kembali bahwa kita adalah bagian dari semesta yang saling terhubung. Don't miss it, Gengs!