Mengenal Generasi Strawberry, Dominan Milenial atau Gen Z?

  • Saifan Zaking

Istilah ini belakangan makin sering muncul di timeline, di obrolan kantor, bahkan di meja tongkrongan. Sebutannya, Generasi strawberry, kedengarannya enak dan segar, tapi nyatanya keduanya menggambarkan kondisi sosial yang sangat nyata dan sangat berat yang dihadapi anak muda Indonesia hari ini.


Sebenarnya, jauh sebelum istilah ini viral di, ia sudah lebih dulu muncul di Taiwan sekitar awal 2000-an. Istilah Generasi Strawberry ada ini untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap kurang tahan banting dibandingkan generasi sebelumnya.


Di Indonesia, istilah ini dipopulerkan lewat buku "Strawberry Generation" karya Rhenald Kasali, salah satu akademisi manajemen berpengaruh di Indonesia. Pada buku itu disebutkan generasi stroberi memiliki pribadi yang unik namun mudah disakiti. 


Layaknya buah stroberi yang luarnya begitu indah dan menawan namun sangat rapuh dan mudah hancur. Analoginya sederhana tapi menusuk. 


Generasi ini digambarkan memiliki tampilan luar yang menarik, seperti melek teknologi, kreatif, penuh ide, sadar isu global. Tapi ketika menghadapi tekanan nyata, seperti kritik atasan, target kerja, kegagalan proyek, alhasil mereka cenderung runtuh lebih cepat dari generasi sebelumnya.


Siapa Generasi Strawberry Itu Sebenarnya?


Dari penelitian dan literatur yang ada, konsensus cukup jelas menyatakan bahwa generasi strawberry lebih dominan diidentifikasikan dengan Gen Z. Generasi strawberry disebut lahir antara 1997-2012, dan penamaan strawberry merujuk pada kelompok yang tampak kuat dan menarik dari luar tetapi di dalamnya rapuh, cepat putus asa, dan sering merasa kesepian ketika tidak merasa aman. 


Namun penting untuk dicatat, yakni tidak semua Gen Z adalah generasi strawberry, dan tidak semua generasi strawberry adalah Gen Z. Istilah ini lebih merujuk pada pola perilaku dan ketahanan mental, bukan semata label usia.


Tapi tunggu dulu, bukan artinya milenial bebas dari label ini. Generasi strawberry bukan label eksklusif untuk Gen Z. Menurut Ervina Siahaan, M.Psi., Dosen Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen, istilah ini tidak bisa dikatakan melekat pada satu generasi saja, ini soal pola perilaku dan pembentukan karakter, bukan tahun lahir semata. 


Ada orang yang lahir setelah 1981 yang menunjukkan sifat-sifat yang patut dicontoh bahkan dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Sementara itu, ada juga beberapa yang lahir sebelum 1981 namun menunjukkan sifat-sifat yang ditunjukkan oleh generasi stroberi. Dengan kata lain generasi strawberry adalah soal karakter, bukan kartu tanda lahir.


Perbedaan Gen Strawberry Milenial vs Gen Z


Lalu di mana letak perbedaan nyata antara keduanya? Di konteks pembentukan dan tekanannya.


Milenial (lahir 1981–1996, kini usia ~29–44 tahun) tumbuh di masa peralihan dari era analog ke digital. Mereka mengenal kehidupan tanpa internet, lalu beradaptasi ketika teknologi masuk. 


Label strawberry pada milenial lebih sering muncul di konteks dunia kerja, menuntut gaji tinggi tanpa pengalaman memadai, kurang sabar dalam hirarki kantor, atau terlalu fokus pada work-life balance menurut pandangan generasi lebih tua.


Gen Z (lahir 1997–2012, kini usia 14–28 tahun) tumbuh dalam dunia digital, tidak pernah mengenal kehidupan tanpa internet dan media sosial. Karakteristik strawberry pada Gen Z lebih dalam dan lebih sistemik, seperti kesehatan mental yang lebih rapuh, ketergantungan validasi dari media sosial, dan kesulitan menghadapi tekanan dunia nyata yang tiba-tiba berbeda dari dunia online yang mereka kuasai.


Berdasarkan data survei McKinsey Health Institute, sebanyak 18% Gen Z yang lahir tahun 1997–2012 di seluruh dunia mengalami kesehatan mental yang buruk. Di Indonesia, berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, satu dari tiga remaja memiliki masalah kesehatan mental dalam kurun waktu 12 bulan.