Bukan Sekadar Egois, Ternyata Ini Karakteristik "Invisible" NPD Menurut Psikolog Samanta Elsner!
Belum lama ini gue habis dengerin Katanya Podcast #6 tentang seputar NPD dari ahlinya yaitu dari Psikolog Klinis Kak Samanta Elsner. Tapi sebelum bahasan kita makin jauh, lo pernah gak sih punya teman di tongkrongan atau rekan kerja di kantor yang ngerasa dirinya paling hebat, si paling superior, empatinya kurang, manipulatif, atau kebutuhan validasi eksternal yang besar.
Biasanya cara NPD dalam bersosialisasi itu berawal dari perlakuan istimewa, baik dan nyaman. Namun, pasti ada harga atau “bayaran”. Kalo lo punya hubungan dengan seseorang yang punya sikap kayak di atas, hati-hati ajaa kemungkinan besar yang bersangkutan itu ialah NPD final bossss!
Seputar NPD dan Fitur Perasaan Mereka yang Hilang
Di edisi Katanya Podcast episode keenam, Psikolog Klinis Kak Samanta Elsner mengupas tuntas soal apa yang sebenarnya terjadi di balik kepala seorang pengidap NPD. Gue melihat ada perbedaan level yang sangat kontras dan sering kali salah kaprah di masyarakat. Kita harus paham bahwa orang dengan ego tinggi sebenarnya masih bisa dengerin pendapat orang lain, sementara mereka yang narsis biasa mungkin cuma haus perhatian tapi tetap bisa merasa bersalah.
Namun, bagi pengidap NPD, ini sudah masuk ke level gangguan kepribadian di mana fitur empatinya seolah-olah sudah mati total. Kondisi ini bahkan bisa berujung pada perilaku psikopat jika seseorang sudah tidak memiliki nurani sama sekali dan tega melakukan hal berbahaya tanpa rasa takut.
Menariknya, Kak Samanta menjelaskan bahwa NPD ini tidak muncul secara tiba-tiba saat seseorang sudah dewasa. Pola asuh orang tua memegang peran yang sangat krusial dalam membentuk kepribadian ini. Salah satu pemicu utamanya adalah adanya sosok anak emas atau golden child dalam keluarga. Ketika seorang anak selalu dipuji secara berlebihan tanpa pernah ditegur kesalahannya, dia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya adalah pusat semesta yang tidak mungkin salah. Selain faktor keluarga, trauma masa lalu atau hubungan dengan pasangan yang toxic juga bisa membuat seseorang mengadopsi mekanisme pertahanan diri yang mirip dengan karakteristik NPD sebagai cara untuk melindungi diri yang malah kebablasan.
Salah satu fitur emosional yang hilang dari diri seorang NPD adalah ketidakmampuan untuk merasa bersalah secara tulus. Mereka mungkin akan minta maaf jika terdesak, tapi biasanya permintaan maaf itu akan diikuti dengan kata tapi yang justru menyalahkan balik lawan bicaranya. Mereka juga hanya memiliki empati secara kognitif, yang artinya mereka tahu kamu sedang sedih tapi mereka tidak bisa ikut merasakan kesedihan tersebut. Bagi mereka, orang-orang di sekitar hanyalah sekadar alat atau instrumen untuk mencapai tujuan tertentu atau sekadar sumber validasi untuk memuaskan ego mereka yang sangat rapuh.
Tips Menghindar dari Orang NPD
Menghadapi orang dengan karakteristik seperti ini di kantor atau di circle tongkrongan memang sangat menguras energi mental. Tips utama dari Kak Samanta adalah dengan mulai membangun batasan atau boundary yang tegas agar mereka tidak masuk terlalu jauh ke ranah pribadi kita.
Kita juga disarankan untuk tidak terus-menerus memberikan asupan ego berupa pujian yang berlebihan kepada mereka. Teknik lain yang bisa dicoba adalah Grey Rock Method, di mana kita memposisikan diri menjadi sangat membosankan seperti batu abu-abu agar mereka tidak tertarik untuk memancing drama emosional dengan kita. Kalau kalian ingin tahu lebih dalam gimana cara deteksi NPD dari cara mereka bicara, klik link di bawah ini ya! Bahaya Punya "Anak Emas" di Keluarga! Ini Awal Mula Sifat NPD Terbentuk | Katanya Podcast #6
Bayu Dewantara