Di balik penggunaan AI yang selalu memberikan jawaban instan dan cepat, ternyata tersimpan konsumsi sumber daya alam yang sangat besar dan jarang disadari oleh penggunanya, yakni air, yang merupakan salah satu bahan utama dalam penggunaan AI. Isu ini semakin relevan dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan di skala global belakangan ini. Berikut ini merupakan fakta lengkap soal seberapa banyak air yang dibutuhkan untuk menjalankan AI.
Source: magnific
Kenapa Penggunaan AI Membutuhkan Air
Pusat data (data center) yang menjalankan model AI membutuhkan listrik dalam jumlah yang sangat besar untuk memproses miliaran perintah setiap harinya. Dengan menggunakan chip berperforma tinggi seperti GPU dan TPU yang dapat menjalankan operasi matematika dalam skala masif, mulai dari melatih AI hingga menghasilkan teks, gambar, dan video. Sebagian besar energi listrik yang masuk ke perangkat ini akhirnya berubah menjadi panas, dan semakin tinggi daya sebuah rak server, semakin besar pula panas yang harus dibuang. Untuk mencegah terjadinya overheat pada server, banyak fasilitas data center mengandalkan sistem pendinginan yang berbasis air, terutama teknologi pendinginan evaporatif yang dinilai efisien dalam mengelola panas, namun membutuhkan pasokan air tawar secara terus-menerus.
Konsumsi Langsung vs Tidak Langsung
Penggunaan air oleh AI terbagi dalam dua jenis. Pertama, konsumsi langsung, air yang secara fisik digunakan pada lokasi data center untuk pendinginan dan mengontrol kelembapan. Kedua, konsumsi tidak langsung, yang sering kali justru lebih besar penggunaannya, mencakup air yang digunakan oleh pembangkit listrik untuk menghasilkan energi yang dipakai oleh data center, mengingat pembangkit listrik tenaga fosil maupun nuklir juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk proses pembangkitan uap dan pendinginannya.
Berapa Banyak Air Per satu Permintaan AI?
Angka konsumsi air yang diperlukan dalam satu prompt atau satu permintaan AI ini ternyata cukup beragam jumlahnya menurut sumber penelitian dan sistem yang digunakan. Dalam sebuah studi tahun 2024, penelitian UC Riverside memperkirakan GPT-4 membutuhkan sekitar 519 mililiter air untuk menghasilkan email berisi 100 kata, meskipun angka ini kemudian direvisi menjadi hanya sekitar 15 mililiter untuk sistem yang lebih baru. Riset lainnya dari akademisi AS memperkirakan bahwa 10 hingga 50 respons model GPT-3 bisa membutuhkan konsumsi air hingga setengah liter. Sementara itu, Google melaporkan berdasarkan metodologinya sendiri bahwa median satu permintaan teks di aplikasi Gemini hanya menggunakan sekitar 0,26 mililiter air.
Baca juga: Kasur Atlet Asian Games 2026 Terbuat dari Kardus, Ada Manfaatnya buat Atlet?
Skala Konsumsi di Level Data Center
Penggunaan air di tingkat fasilitas data center mencapai jumlah yang sangat besar. Hasil riset dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa data center berkapasitas 1 megawatt (MW) memerlukan hingga 25,5 juta liter air per tahun khusus untuk pendinginan, yang setara dengan kebutuhan air harian 300.000 orang. Untuk data center skala hyperscale berkapasitas 130 MW, konsumsinya diperkirakan menembus lebih dari 171 juta liter per tahun. Dalam skala industri, Google pada tahun 2024 menarik sekitar 37 miliar liter air dari alam bagi seluruh data center miliknya; 29 miliar liter di antaranya menguap ke udara, sebuah jumlah yang setara dengan pemenuhan air harian bagi 1,6 juta orang selama setahun penuh.
Proyeksi ke Depan Kian Mengkhawatirkan
Tren penggunaan air yang dibutuhkan oleh industri AI diperkirakan terus mengalami lonjakan yang drastis dalam beberapa tahun ke depan. Para peneliti memproyeksikan total kebutuhan air untuk industri AI bisa mencapai sekitar 150 hingga 275 miliar liter pada 2028, mengalami peningkatan sekitar 60 miliar liter dari catatan beberapa tahun lalu. Bahkan, pada 2027, industri AI diproyeksikan mengonsumsi air empat hingga enam kali lipat lebih banyak per tahun dibandingkan dengan seluruh konsumsi air di negara Denmark.
Upaya Perusahaan Teknologi Menekan Konsumsi Air
Dalam menyikapi kekhawatiran ini, sejumlah perusahaan teknologi mulai melakukan inovasi dalam mengembangkan sistem pendinginan yang lebih hemat air. Salah satunya adalah Microsoft. Mereka telah menerapkan sistem pendinginan closed-loop dengan zero water evaporation yang diklaim bisa mengurangi penggunaan air hingga lebih dari 125 juta liter per fasilitas setiap tahunnya. Beberapa daerah bahkan telah melakukan peninjauan ulang lebih lanjut mengenai regulasi penggunaan air di fasilitas teknologi, termasuk mewajibkan penghitungan dampak air sebelum izin pembangunan data center baru disetujui.
Muhammad Ichsan