Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau kian tertekan dan bergerak mendekati level psikologis baru. Berdasarkan pergerakan pasar terbaru, mata uang Garuda sempat melemah hingga menyentuh angka Rp17.923 per dolar AS hari ini (6/3/2026).
Jika menilik data pasar global, keperkasaan dolar AS memang sedang sulit dibendung. Berdasarkan data Investing, greenback (sebutan untuk dolar AS) bahkan sempat mencatatkan lonjakan tertinggi harian hingga menyentuh level Rp17.949, dengan rentang pergerakan harian yang cukup lebar di kisaran Rp17.772 hingga Rp17.995. Sementara itu, data Google Finance juga merekam dolar AS sempat bertengger di level Rp17.904, sebelum akhirnya sedikit melandai ke kisaran Rp17.850.
Baca juga: Narasi Rupiah ke 18.000 per Dolar AS Itu Bisa Saja Terjadi Namun Sulit
Menurut para analis, keoknya rupiah kali ini dipicu oleh "keroyokan" sentimen negatif yang datang bersamaan, baik dari luar negeri (eksternal) maupun dalam negeri (internal). Kondisi ini memaksa para investor untuk bermain aman dengan menarik dana mereka dari negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia, lalu mengalikhannya ke aset yang dinilai lebih aman (safe haven), yaitu dolar AS.
Tensi Panas AS-Iran di Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa faktor utama dari sisi eksternal adalah kembali memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar khawatir konflik ini bakal mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di wilayah krusial seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Bukan cuma itu, inflasi global yang berpotensi terkerek naik akibat tingginya harga energi membuat Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi bakal menahan suku bunga tinggi mereka (higher for longer) dalam waktu yang lebih lama. Ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter pun otomatis makin sempit, sehingga arus modal asing terus mengalir keluar dari pasar domestik.
Kebutuhan Dolar Dalam Negeri Ikut Menumpuk
Tekanan terhadap rupiah ternyata tidak cuma datang dari luar. Dari dalam negeri, permintaan terhadap dolar AS juga sedang tinggi-tingginya. Siklus musiman seperti kebutuhan korporasi untuk mengimpor minyak, pembayaran dividen ke luar negeri, hingga kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo membuat pasokan dolar di pasar domestik kian ketat.
Selain faktor musiman tersebut, pelaku pasar juga dilaporkan masih bersikap wait and see memantau kondisi fiskal dalam negeri serta efektivitas sejumlah program kerja pemerintah yang dinilai bisa memengaruhi stabilitas ekonomi nasional ke depan.
Bank Indonesia (BI) sendiri dilaporkan terus pasang badan menjaga stabilitas mata uang dengan melakukan intervensi semaksimal mungkin di pasar valuta asing (foreign exchange). Kendati demikian, hantaman sentimen global dan lokal yang datang bertubi-tubi membuat ruang gerak stabilisasi menjadi cukup terbatas karena besarnya tekanan pasar saat ini.
Bayu Dewantara