Narasi Rupiah ke 18.000 per Dolar AS Itu Bisa Saja Terjadi Namun Sulitttttt

  • Bayu Dewantara

Disclaimer, gue bukan orang market yang jago analisa ini itu, namun dari bacaan gue tentang rupiah dan sejarah, sedikit banyaknya bisa membantu melihat gimana kondisi rupiah yang harusnya gak bikin kita parnoan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kehilangan 103 poin (0,59 persen) ke Rp 17.526 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5) siang ini 14.00 WIB. Dari bahan berita itu, gak sedikit juga yang mulai memberikan narasi kiamat seperti “Rupiah ke 18 ribu per dolar AS” bahkan ada yang menilai rupiah bisa ke Rp20 ribu bulan depan.


Narasi-narasi semacam itu bikin banyak orang panik, borong dolar di Money changer, beli instrumen investasi tertentu, tapi ujung-ujungnya kemakan FUD murahan dan karena gak punya risk management, cash lo kosong dan susah mau beli apa-apa. 


Melihat Data yang Valid 


Jika kita baca data prediksi dari lembaga top, sebut saja seperti Fitch, LongForecast, BRIN, gak ada satupun yang memasuki angka Rp 18.000 atau sampai Rp 20.000 ribu per dollar AS sebagai baseline alias skenario utama untuk tahun 2026. Proyeksi rata-rata dari mereka mengenai pelemahan tahun ini mentok di kisaran Rp 17.300 - Rp 17.500-an


Angka Rp 18.000 Masuk Kategori Tail-Risk


Narasi Rp 18.000 itu masuk kategori Tail-Risk (probabilitas di bawah 15%). Namun, bisa saja skenario ini terjadi jika:


1. Perang Timur Tengah meledak total dan berkepanjangan

2. Harga minyak nyaman di atas $110 selama berbulan-bulan

3. The Fed tiba-tiba naikin suku bunga lagi


Pemerintah Pasti Gak Cuma Diam 


Bank Indonesia (BI) tentu masih punya cadangan devisa yang tebel buat intervensi pasar. Ditambah fundamental ekonomi Indonesia itu cukup kuat jika kita lihat dari:

  1. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% (yoy) pada kuartal I/2026

  2. Neraca Perdagangan pada bulan Maret 2026 catatkan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS

  3. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 itu tercatat 148,2 miliar dolar AS

  4. Inflasi Indonesia masih terjaga


Setuju Jika Rupiah Dibilang Undervalued

Dari data di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa nilai tukar rupiah itu dinilai lebih lemah dibandingkan dengan kondisi ekonomi Indonesia yang ternyata masih cukup kuat. Namun, rupiah tetep kena pressure karena akibat faktor global seperti suku bunga AS yang masih tinggi hingga tensi geopolitik di Timur Tengah. So, tetep lindungin nilai dari rupiah kamu ke aset yang aman tapi jangan All in ya, gengs!