Cara Jitu Bapak BJ Habibie Sikapi Nilai Rupiah 16.000/USD Saat Krismon: Belajar dari Kesalahan!

  • Bayu Dewantara

Mau lo gak S2/S3 ilmu ekonomi pun, agaknya kita sepakat bahwa pelemahan rupiah itu mempengaruhi semua sektor kehidupan, termasuk masyarakat yang ada di desa. Fakta di lapangan jelas, petani kita mungkin gak megang uang kertas bergambar Benjamin Franklin itu, tapi mereka membayar harga solar, plastik, pestisida, dan benih yang harganya bisa dipengaruhi oleh fluktuasi mata uang tersebut. 

Sejarah udah banyak yang mencatat, bahwa cara memperbaiki ekonomi di republik ini tidak dimulai dari ucapan-ucapan tidak berdasar, apalagi memudahkan semua kondisi dengan menutup mata bahwa “kita memang lagi gak baik-baik aja”.  

Di tengah kondisi kayak sekarang ini, agaknya ingatan kolektif gue sedikit terlempar ke mesin waktu, tepatnya pada tahun 1998. Momen ketika Indonesia dihantam badai bernama Krisis Moneter (Krismon).

Saat itu, kondisi ekonomi kita jauh lebih berantakan. Rupiah yang awalnya anteng di kisaran Rp1.900 hingga Rp2.400/USD, tiba-tiba terjun bebas ke angka Rp16.000 per 1 USD. Bayangin, angka ini harusnya lebih horor ketimbang saat sekarang. Ditambah lagi, krisis ekonomi itu merembet jadi krisis politik yang memaksa Presiden Soeharto lengser setelah 32 tahun berkuasa.

Di tengah kekacauan itulah, Prof. B.J. Habibie yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden harus naik takhta menjadi Presiden ke-3 RI untuk menakhodai kapal Indonesia yang hampir karam.

Mengaku Salah, Bukan Malah Defensif

Awalnya, banyak pihak yang pesimis. Maklum, Bapak Habibie bukan seorang ekonom tulen, melainkan seorang teknokrat pembuat pesawat. Namun, ada satu hal mendasar yang membedakan Bapak Habibie dengan banyak pemimpin saat menghadapi krisis: beliau dan pemerintahannya tidak bersikap defensif.

Mereka tidak sibuk mencari kambing hitam, menyalahkan faktor eksternal, atau sibuk membuat narasi pembenaran untuk menenangkan pasar secara semu. Alih-alih gengsi, Bapak Habibie dengan kerendahan hati yang luar biasa justru mengakui situasi pelik tersebut. Beliau sempat melontarkan kalimat historis yang sangat membekas di benak publik

"Karena kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan kami dan juga dari kesalahan yang lain," ujar beliau

Dari Rp16.000 Meluncur Jauh ke Rp6.500

Kalimat "belajar dari kesalahan" ini bukan sekadar pemanis retorika politik atau bumbu pemilu. Bagi beliau, mengakui adanya kesalahan dalam tata kelola masa lalu adalah langkah awal dari sebuah kesembuhan ekonomi.

Dari pengakuan jujur itulah, beliau langsung tancap gas melakukan perbaikan yang terukur dan presisi. Langkah-langkah ekstrem diambil, mulai dari memandirikan Bank Indonesia agar bebas dari intervensi politik penguasa, hingga merestrukturisasi perbankan yang carut-marut.

Hasilnya? Sebuah keajaiban ekonomi yang tercatat dalam sejarah dunia. Secara perlahan tapi pasti, dolar yang tadinya liar di angka belasan ribu berhasil dijinakkan, merosot drastis hingga menyentuh angka Rp6.500 per dolar AS. Sebuah rekor apresiasi mata uang yang sampai sekarang belum ada tandingannya di Indonesia.

Melihat realita hari ini, ketika dolar kembali bikin kita senam jantung, kita patut memikirkannya kembali. Gaya kepemimpinan seperti apa yang sebenarnya cocok untuk Indonesia ketika menghadapi tantangan ekonomi modern seperti sekarang ini?