Bagi sebagian besar warga negara yang isi kepalanya dihabiskan untuk memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup dari gempuran harga beras yang hobi naik kelas, hari Senin biasanya dibuka dengan kemacetan jalan raya atau tumpukan surel dari atasan yang kurang piknik. Namun, Senin pagi ini (18/5), lini masa kita mendadak dipenuhi oleh kepanikan massal yang polanya sangat khas orang kota: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok, babak belur, ambles 4 persen seketika setelah libur panjang usai. Layar-layar monitor di Bursa Efek Indonesia seketika memerah, angka psikologis indeks langsung terjun bebas dibuka di level 6.628, sempat mencoba merangkak naik sedikit, lalu kembali ke titik terendah di level 6.406. Dari sekian ratus emiten yang nangkring di bursa, cuma 120 saham yang masih punya muka untuk menguat. Sisanya? 390 saham tiarap berjamaah, dan 192 lainnya dipaksa memilih jalan ninja menjadi beban statis alias stagnan.

Usut punya usut, biang kerok dari penyebab IHSG rontok hari ini adalah aksi rebalancing indeks MSCI yang membuat dana-dana asing berhamburan keluar. Memang ada sih sepuluh saham yang masih sempat diserok asing secara eceran, mulai dari Timah (TINS), Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK), Telkom Indonesia (TLKM), Merdeka Gold Resources (EMAS), dan Indosat (ISAT), hingga deretan emiten seperti Indah Kiat Pulp & Paper (INKP), Sanurhasta Mitra (MINA), Rukun Raharja (RAJA), Gudang Garam (GGRM), serta Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), tapi itu tidak cukup kuat menahan penurunan IHSG tersebut.
Melihat kepanikan ini, mereka yang memegang portofolio investasi tentu sedang sibuk gimana mengelola keuangan mereka. Namun, bagi masyarakat awam, ada sebuah pertanyaan mendasar yang menggelitik, apakah Indonesia sebetulnya masih aman-aman saja?
Untungnya, kita punya stok logika penenang yang sangat paripurna, yang pernah dipopulerkan oleh Pak Prabowo dalam sebuah cuitan legendarisnya. Kurang lebih bunyinya begini: “Orang di desa itu nggak pakai dollar, mereka pakainya rupiah.”
Sebuah premis yang sangat jenius, bukan? Dan jika kita perluas logika kelas tinggi tersebut ke dalam domain pasar modal hari ini, kalimatnya akan bertransformasi menjadi sebuah kebenaran mutlak yang meneduhkan: Lagipula, ngapain panik? Toh, orang desa itu nggak main saham!
Ketika Portofolio Merah Dianggap Cuma Masalah Orang Jaksel
Memikirkan IHSG yang rontok itu adalah kemewahan tersendah bagi masyarakat urban. Bagi Lek Tukiman yang sedang sibuk menyabit rumput untuk pakan sapinya di pelosok Gunungkidul, atau Mak Asih yang sedang menghitung untung-rugi jualan gorengan di pinggiran jembatan, istilah “cut loss”, “bearish”, atau “rebalancing MSCI” terdengar seperti mantra pengusir jin dalam bahasa kuno. Jauh dari realitas.
Secara satire, kita tergoda untuk percaya bahwa ambruknya IHSG hanyalah kiamat kecil bagi anak-anak muda berkemeja rapi yang nongkrong di kafe SCBD sambil memandangi grafik candlestick. Selama orang desa masih bisa menanam singkong, selama air sumur belum bayar pakai kurs asing, dan selama mereka tidak menaruh sertifikat tanahnya ke dalam saham gorengan, maka negara ini seolah-olah akan selalu baik-baik saja. Orang desa tidak butuh dividen, mereka butuh hujan yang teratur dan harga pupuk yang tidak bikin serangan jantung.
Maka, jika bursa saham rontok hari ini, para elite dan influencer finansial bisa dengan santai menepuk pundak kita sembari berkata, “Tenang, fundamental ekonomi kita kuat, ekonomi kerakyatan di desa masih berputar, karena mereka tidak mengenal apa itu pasar modal.” Komedi memang .
Dampak Makin Turunnya IHSG Hari Ini
Sayangnya, ekonomi makro tidak pernah beroperasi dengan sekat-sekat naif seperti itu. Romantitisasi bahwa "orang desa aman karena tidak main saham" sebaiknya dibuang jauh-jauh.
Sebab, ketika IHSG jatuh dalam jangka waktu yang panjang, dampaknya tidak berhenti di dalam gedung kaca Sudirman. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta VI sendiri sudah pernah mengurai benang kusut ini, penurunan indeks saham berujung pada berkurangnya pendapatan negara secara signifikan. Kepercayaan investor yang ambyar membuat pasar keuangan domestik makin kering.
Lantas, apa hubungannya orang-orang di desa? Banyak. Ketika pendapatan negara dari sektor pajak dan investasi seret, pemerintah bakal pusing tujuh keliling membiayai program belanja negara. Hambatan pertama yang akan muncul adalah mandeknya pendanaan proyek infrastruktur. Jalan-jalan desa yang harusnya dicor biar akses lancar, terpaksa ditunda pembangunannya.
Bukan cuma itu, ketika ruang fiskal negara makin sempit akibat ketergantungan utang yang membesar untuk menambal defisit, pemerintah terpaksa melakukan pengurangan belanja pada sektor non-prioritas. Jaring pengaman sosial dan program bantuan sosial yang selama ini jadi penyambung nyawa masyarakat miskin di desa-desa berpotensi terancam efektivitasnya atau bahkan dikurangi skalanya karena keterbatasan anggaran.
Jadi, ketika indeks saham rontok, yang terancam bukan cuma saldo di exchange milik para trader kota, melainkan juga pasokan pupuk subsidi, anggaran kesehatan puskesmas pembantu, hingga kelangsungan bansos beras yang dinanti warga desa.
Mata Uang Rupiah, Penderitaan Berjamaah
Pada akhirnya, memisahkan nasib orang desa dengan nasib pasar modal kota adalah sebuah kenaifan yang dipelihara. Kita tidak bisa terus-menerus memakai narasi "orang desa gak makan dollar" atau "orang desa gak main saham" sebagai kalimat jitu di saat fondasi ekonomi kita sedang digerogoti ketidakpastian.
Orang desa memang tidak bertransaksi menggunakan dollar, dan jempol mereka tidak pernah menekan tombol buy atau sell di aplikasi sekuritas. Namun, mereka membeli minyak goreng yang bahan bakunya dihargai secara internasional, mereka memakai motor yang suku cadangnya diimpor, dan mereka hidup di bawah atap negara yang anggaran belanjanya sangat bergantung pada sehat atau tidaknya arus investasi yang masuk lewat pasar modal.
Ketika IHSG babak belur, getarannya mungkin tidak terasa hari ini di kandang sapi milik Lek Tukiman. Namun, beberapa bulan ke depan, ketika harga barang-barang pokok merangkak naik akibat melemahnya stabilitas ekonomi makro dan bansos mulai macet, barulah kita sadar: di negeri ini, yang kaya boleh saja menikmati keuntungan saham sendirian, tapi kalau urusan merugi dan menanggung beban ambruknya sistem ekonomi, kita semua baik yang pakai sepatu pantofel di kota maupun yang pakai sandal jepit di desa harus selalu siap menderita berjamaah.
Bayu Dewantara