Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan kejutan di lapangan, tetapi juga pergantian pelatih.
Sejumlah pelatih memilih mundur atau diberhentikan usai hasil mengecewakan di fase grup.
Korea Selatan dan Skotlandia menjadi dua negara yang langsung ditinggal pelatih setelah tersingkir.
Tunisia bahkan melakukan pergantian pelatih saat turnamen masih berlangsung.
Piala Dunia 2026 tidak hanya diwarnai persaingan sengit antartim, tetapi juga dinamika di kursi kepelatihan. Tekanan tinggi untuk meraih hasil terbaik membuat sejumlah federasi mengambil keputusan tegas, sementara ada pula pelatih yang memilih mundur dengan penuh tanggung jawab setelah gagal memenuhi target.
Berikut daftar pelatih yang mengakhiri masa jabatannya selama berlangsungnya Piala Dunia 2026.
Baca juga : Update Piala Dunia 2026: 30 Negara Resmi Lolos ke Babak 32 Besar
1. Hong Myung-bo (Korea Selatan)
Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, resmi mengundurkan diri setelah timnya gagal melaju ke babak 32 besar. Meski sempat membuka turnamen dengan kemenangan, Korea Selatan kemudian menelan dua kekalahan beruntun yang membuat langkah mereka terhenti di fase grup. Hong mengaku bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung.
2. Steve Clarke (Skotlandia)
Steve Clarke juga memutuskan mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih Skotlandia usai timnya tersingkir di fase grup. Keputusan tersebut cukup mengejutkan karena ia baru saja menerima perpanjangan kontrak sebelum turnamen dimulai. Clarke memilih mundur sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalan tim melangkah ke babak gugur.
3. Sabri Lamouchi (Tunisia)
Berbeda dengan dua nama sebelumnya, Sabri Lamouchi justru diberhentikan saat Piala Dunia masih berlangsung. Federasi Sepak Bola Tunisia mengambil keputusan tersebut setelah tim menelan kekalahan telak pada laga pembuka. Posisinya kemudian digantikan oleh Hervé Renard untuk memimpin Tunisia hingga akhir turnamen.
Tekanan Besar di Ajang Piala Dunia
Piala Dunia merupakan panggung terbesar sepak bola yang selalu menghadirkan ekspektasi tinggi. Ketika hasil tidak sesuai harapan, posisi pelatih sering menjadi yang pertama mendapat sorotan.
Pada edisi 2026, fenomena pergantian pelatih kembali terjadi. Ada yang memilih mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab, sementara ada pula yang harus menerima keputusan federasi untuk mengakhiri kerja sama lebih cepat.
Dengan babak gugur yang segera dimulai, bukan tidak mungkin daftar ini akan bertambah apabila ada negara yang gagal memenuhi target dan memutuskan melakukan perubahan di kursi pelatih setelah turnamen berakhir.
Nurcholis Fajri Syah