Indonesia akhirnya resmi mengakhiri dahaga gelar juara di level senior usai menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 dan berhasil mengobati luka lama akibat kekalahan di partai final AFF 2010 dan 2016 yang sebelumnya dipegang oleh Alfred Riedl. Skuad Garuda asuhan John Herdman berhasil mengalahkan Thailand lewat drama adu penalti 4-2, setelah bermain imbang 2-2 di waktu normal dan juga perpanjangan waktu, Senin (5/10/2026) di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Bagi publik pencinta sepak bola Tanah Air yang pernah dua kali mengalami luka kekalahan di partai final bersama Alfred Riedl, momen ini terasa sangat spesial dan menjadi penutup dari babak panjang yang penuh dengan air mata.
Source: kompas & CNN Indonesia
Dua Kali ke Final, Dua Kali Pulang dengan Tangan Kosong
Alfred Riedl telah menangani Timnas Indonesia selama tiga periode, yakni pada 2010, 2014, dan 2016. Dari tiga kesempatan tersebut, ia dua kali berhasil membawa Garuda menembus partai final Piala AFF, yaitu pada 2010 dan 2016, namun selalu berujung kekalahan dan gagal mengangkat trofi.
Final 2010 menjadi salah satu yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Di bawah asuhan Riedl, Indonesia tampil dengan performa yang menjanjikan selama fase grup, mengalahkan Malaysia dan membuat Thailand tidak bisa berkutik. Nama Cristian Gonzales menjadi pemain naturalisasi pertama yang dimiliki skuad Garuda dan berhasil mencuri sorotan publik. Namun, jelang babak final melawan Malaysia, keputusan Riedl mencoret Boaz Solossa dari susunan pemain sempat menuai kontroversi besar. Indonesia akhirnya takluk dengan agregat 4-2. Hasil ini memperpanjang rekor buruk tanpa gelar di final Piala AFF setelah sebelumnya juga gagal pada 2000, 2002, dan 2004.
Enam tahun berselang, kisah yang sama kembali terjadi. Riedl kembali berhasil membawa Indonesia terbang hingga ke final Piala AFF 2016. Kali ini lawan yang dihadapi adalah Thailand. Skuad Garuda sempat menang 2-1 di leg pertama yang digelar di Stadion Pakansari, Bogor lewat gol Rizky Pora dan Hansamu Yama. Momen ini memunculkan harapan besar bagi publik untuk bisa menjuarai turnamen bergengsi di level Asia Tenggara ini. Namun, masyarakat Indonesia lagi-lagi harus menelan pil pahit. Di leg kedua, Thailand berhasil menang dengan skor 0-2 dan kalah agregat 2-3. Perjalanan Indonesia pada edisi tersebut diwarnai drama, termasuk kekalahan 2-4 dari Thailand di fase grup dengan berbagai dinamika internal tim jelang turnamen.
Baca juga: 35 Tahun Penantian, Akhirnya Timnas Indonesia Angkat Piala!
Kenapa Riedl Selalu Gagal di Garis Akhir?
Di luar faktor teknis, era Riedl adalah era di mana Indonesia masih mengandalkan skuad yang hampir seluruh kesebelasannya bermain di Liga Indonesia, dengan beberapa nama naturalisasi yang belum sebanyak sekarang. Minimnya jam terbang di kompetisi level tinggi, ditambah persiapan yang sering mepet akibat tarik ulur dengan klub, membuat Indonesia sering kehabisan tenaga di momen-momen krusial. Riedl sendiri pernah mengakui bahwa kegagalan timnya adalah tanggung jawabnya, meski ia tetap dikenang sebagai pelatih yang membangkitkan euforia sepak bola nasional pasca-redupnya performa usai Piala Asia 2007.
Era Herdman: Fondasi Berbeda, Hasil Berbeda
Bandingkan dengan skuad Indonesia di final FIFA ASEAN Cup 2026. Di bawah asuhan John Herdman, Garuda tampil dengan fondasi yang kuat dan jauh lebih matang: kombinasi pemain diaspora seperti Emil Audero, Dean James, Elkan Baggott, hingga Shayne Pattynama, berpadu dengan talenta lokal serta mesin gol Mitchell Baker. Di Final, Indonesia sempat tertinggal dan kembali unggul lewat gol Dean James di menit ke-84, sebelum Thailand berhasil menyamakan kedudukan dan laga harus dilanjutkan ke babak extra time. Drama baru benar-benar berakhir lewat adu penalti, dengan Emil Audero dan Elkan Baggott tampil sebagai pahlawan.
Mengapa Gelar Ini Begitu Berharga
Source: Indo Bali News
Title ini bukan sekedar trofi biasa. Ini adalah gelar pertama bagi Indonesia di level senior ASEAN setelah 35 tahun lebih penantian panjang, sebuah beban psikologis yang diwariskan sejak era Riedl bahkan jauh sebelum itu. Jika dulu publik harus menelan rasa kekecewaan demi kekecewaan yang mendalam di partai puncak, kini nama-nama seperti Herdman, Baker, dan James tercatat sebagai generasi yang akhirnya memutus kutukan tersebut. Seperti ucapan salah satu punggawa Garuda usai laga, trofi ini membuktikan bahwa Indonesia bukan lagi "bangsa kalahan" di kancah sepak bola regional.
Muhammad Ichsan