Dari Wano hingga Alabasta, Ini Isu Lingkungan dalam Anime One Piece yang Juga Terjadi di Indonesia

  • Khopida Rahma

Siapa sangka, di balik petualangan Luffy dan kawan-kawan mencari One Piece, ada banyak cerita yang ternyata nggak jauh dari persoalan dunia nyata. Mulai dari pencemaran lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, sampai krisis air.

Menariknya, berbagai persoalan yang ada dalam anime ini juga bisa ditemukan di Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya mungkin terasa cukup dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. 

Lantas, apa saja isu lingkungan dalam One Piece yang ternyata juga terjadi di Indonesia? Yuk, simak di bawah ini!

Baca juga: Fakta 6 Gunung Api di Indonesia Erupsi Secara Bersamaan

1. Sungai Tercemar Limbah Industri

Source: onepiece.fandom.com

Wano Country merupakan salah satu wilayah yang didatangi Luffy dan kru Topi Jerami, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kurozumi Orochi bersama Kaido, salah satu Yonko.

Di Wano, perkembangan industri justru membawa masalah baru. Limbah pabrik membuat sungai tercemar dan lingkungan di sekitarnya ikut rusak.

Masalah seperti ini juga masih ditemukan di Indonesia. Pencemaran sungai akibat aktivitas industri menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu menjadi perhatian.

2. Krisis Air dan Kekeringan di Alabasta

Di Arc Alabasta, Crocodile menggunakan Dance Powder, bubuk khusus yang dapat memicu turunnya hujan. Penggunaan bubuk ini menjadi bagian dari rencana Crocodile untuk menguasai Alabasta.

Penggunaan Dance Powder menyebabkan hujan turun secara berlebihan di wilayah tertentu, sementara wilayah lain mengalami kekeringan. Kondisi tersebut berlangsung hingga persediaan air di sejumlah wilayah menipis dan pertanian warga ikut terdampak.

Kisah ini memang fiksi, tetapi masalah kekeringan dan ketersediaan air juga masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Indonesia. 

3. Pencemaran Limbah dan Bahan Berbahaya

 

Isu lingkungan dalam anime One Piece berikutnya adalah pencemaran yang terjadi dalam Arc Punk Hazard. Punk Hazard menjadi tercemar setelah eksperimen Caesar Clown menyebabkan pelepasan gas beracun yang membuat lingkungan pulau tersebut semakin berbahaya.

Dampaknya bukan cuma pada lingkungan, tetapi juga makhluk hidup yang berada di dalamnya. Pulau tersebut akhirnya menjadi wilayah berbahaya yang penuh dengan zat beracun.

Meski nggak seekstrem Punk Hazard, persoalan limbah dan bahan berbahaya juga perlu diperhatikan di Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, zat berbahaya bisa mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan manusia maupun ekosistem.

Baca juga: Menakar Nasib Usopp di One Piece, Apakah Petualangan Prajurit Pemberani di Lautan Berhenti?

4. Eksploitasi Sumber Daya Alam

Selain pencemaran, One Piece juga beberapa kali menggambarkan bagaimana sumber daya alam dieksploitasi demi kepentingan pihak tertentu.

Salah satu contohnya kembali terlihat di Wano, di bawah kekuasaan Kaido dan Orochi. Aktivitas industri dilakukan secara besar-besaran dan berdampak buruk pada masyarakat serta lingkungan di sekitarnya.

Persoalan eksploitasi sumber daya alam seperti ini juga bukan hal yang asing di Indonesia. Aktivitas pertambangan, pembukaan lahan, hingga eksploitasi sumber daya alam lainnya dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan jika tidak dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan.

Dari Wano hingga Alabasta, One Piece ternyata nggak cuma soal petualangan, tetapi juga mengangkat persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan kita.

Mulai dari pencemaran, krisis air, hingga eksploitasi sumber daya alam, berbagai masalah tersebut menunjukkan bahwa ketika lingkungan rusak, manusia juga ikut merasakan dampaknya.