Fenomena langka kembali terjadi di Indonesia. Terdapat enam gunung api yang tersebar di berbagai wilayah yang telah mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan bahwa peristiwa ini murni dinamika vulkanik yang independen dan tidak saling memicu satu sama lain.
Source photo: lentra.co
Enam Gunung Erupsi Bersamaan
Keenam gunung yang erupsi tersebut adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara
Gunung Sinabung menjadi salah satu gunung yang paling disoroti karena kembali meletus setelah empat tahun lamanya mengalami masa tenang. Tepat pada pukul 10.17 WIB, abu yang dihasilkan mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak dan bergerak ke arah timur-tenggara. Letusan ini meningkatkan status aktivitas Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak pukul 12.00 WIB pada hari itu.
Sementara itu, Gunung Semeru juga tercatat erupsi hingga empat kali dengan kolom abu yang mencapai 900 meter, Gunung Ili Lewotolok mencatatkan kolom abu 700 meter, dan Gunung Ibu erupsi hingga enam kali dengan kolom abu sekitar 600 meter. Gunung Anak Krakatau, yang sudah berstatus Siaga sejak 2 Juli 2026, turut menyemburkan kolom abu setinggi 200 meter pada hari yang sama.
Ditegaskan Tidak Ada Saling Keterkaitan
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, dalam konferensi pers di Kompleks Badan Geologi, Bandung, Rabu (2/9/2026), menegaskan tidak ditemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu keenam erupsi tersebut secara bersamaan. "Kalau bahasa sederhananya, dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda," ucap Rita.
Ia juga menambahkan bahwa posisi Indonesia berada di dalam kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan jumlah gunung api aktif sebanyak 127 yang memang memiliki kemungkinan terjadinya erupsi pada hari yang sama tanpa adanya keterkaitan sistemik antargunung. Rita juga memberikan contoh kasus gempa Megathrust Aceh 2004 yang ternyata tidak memicu erupsi gunung yang berada di sekitar wilayah tersebut. "Jadi, hubungan antara gempa dan erupsi ini tidak dapat disimpulkan hanya karena keduanya terjadi dalam waktu berdekatan," ujarnya.
Imbauan Kepada Warga Sinabung
Terkait status siaga Sinabung, masyarakat diimbau tidak beraktivitas di desa-desa yang sudah direlokasi dan menjaga jarak minimal sejauh 3 kilometer dari puncak dan radius sektoral 6 kilometer ke arah selatan-tenggara. Warga di sepanjang aliran sungai berhulu di Sinabung juga diminta untuk waspada terhadap potensi banjir lahar yang bisa terjadi, terutama saat hujan turun.
Baca juga: Cara Membersihkan Kendaraan yang Terkena Abu Vulkanik, Jangan Langsung Dilap!
Meletusnya Anak Krakatau Tidak Otomatis Picu Tsunami
Menyikapi kekhawatiran para warga yang berada di pesisir Banten dan Lampung soal potensi ancaman tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau, PVMBG menegaskan bahwa erupsi gunung tersebut tidak serta-merta memicu tsunami. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas, serta mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.
Terus Dipantau Berkelanjutan
PVMBG juga memastikan akan terus melakukan pemantauan aktivitas keenam gunung tersebut secara berkelanjutan dan segera memperbarui status maupun evaluasi apabila terjadi perubahan yang signifikan. Prinsip utama yang ditekankan adalah masyarakat harus tetap tenang namun jangan lengah dengan mengenali bahaya, bersiaga dalam tindakan, demi keselamatan jiwa," pungkas Rita.
Fenomena enam gunung yang meletus secara bersamaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia, sebagai negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia, memang akan rentan mengalami dinamika vulkanik yang kompleks meski masing-masing gunung memiliki “dapur magma” dan siklus letusan yang sepenuhnya independen satu sama lain.
Muhammad Ichsan