Dikira Cuma Doomscrolling, Gen Z Justru Jadi Generasi Paling Rajin Baca Buku

  • Boy Nugroho
  • Gen Z sering dicap generasi layar, padahal minat baca buku fisiknya justru tinggi.

  • Tren #BookTok jadi salah satu pendorong utama kembalinya budaya baca buku cetak.

  • Ada data survei nasional yang membuktikan Gen Z lebih fokus baca lewat kertas dibanding gawai.

  • Fenomena ini juga berdampak positif ke industri penerbitan buku di Indonesia.


Selama ini Gen Z sering banget dicap sebagai generasi yang hidupnya cuma habis buat scrolling TikTok, cek notifikasi, sampai rebahan sambil nonton reels tanpa henti. Stereotip “generasi rentang perhatian pendek” ini rasanya udah nempel banget di kepala banyak orang, terutama oleh generasi-generasi sebelumnya yang suka julid soal gadget.

Tapi ternyata, di balik layar HP yang terus menyala itu, ada fenomena yang justru bikin kaget banyak pihak, termasuk penerbit buku sendiri. Berikut 6 fakta unik seputar kebiasaan baca Gen Z yang mematahkan stereotip doomscrolling selama ini. Yuk, intip apa saja Oppal Gengs!

1. Mayoritas Gen Z Ternyata Lebih Pilih Buku Fisik daripada E-book

Kalau selama ini kamu mikir generasi digital pasti lebih suka baca lewat layar, faktanya nggak sesederhana itu. Survei nasional justru menunjukkan hal sebaliknya. Di tengah kemudahan akses e-book, buku fisik masih menjadi pilihan utama dengan 73,4 persen responden Gen Z memilihnya dibanding format digital. Angka ini jelas mematahkan asumsi bahwa generasi yang tumbuh besar dengan smartphone otomatis anti buku kertas.

Source: Pexels.


Bukan cuma soal gaya-gayaan, alasan di balik preferensi ini juga cukup masuk akal. Sebanyak 70 persen dari mereka mengaku bisa lebih berkonsentrasi ketika membaca buku fisik karena tidak ada gangguan dari notifikasi media sosial. Jadi, di tengah dunia yang serba distraksi, buku cetak justru jadi “pelarian” buat Gen Z yang capek terus-terusan kena notifikasi tiap lima menit.


Baca Juga: Bukan Cuma Fakta, Gen Z Butuh Konten yang Seru dan Relevan


2. Skor Minat Baca Nasional Terus Naik, Gen Z Jadi Penyumbang Terbesar


Data resmi pemerintah juga mendukung fenomena ini. Berdasarkan data BPS, indeks Tingkat Gemar Baca terus mengalami kenaikan tiap tahun, dan pada 2024 angkanya sudah tembus 72,44. Kenaikan ini nggak lepas dari kontribusi besar generasi muda yang mulai balik lagi menekuni kebiasaan membaca.


Menariknya, ada juga daerah yang jadi juara nasional soal budaya literasi ini. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi dengan skor Tingkat Gemar Membaca 79,99 dan Indeks Pembangunan Literasi 86,39. Fakta ini menunjukkan bahwa minat baca bukan cuma tren sesaat di kota besar, tapi mulai merata di berbagai wilayah, meski memang belum sepenuhnya seimbang antar daerah.


3. #BookTok Jadi Biang Kerok di Balik Kebangkitan Buku Cetak


Ironisnya, media sosial yang selama ini dianggap “musuh” minat baca justru jadi salah satu pendorong utama tren ini. Komunitas literasi digital tumbuh subur dan menciptakan gelombang rekomendasi bacaan baru. Platform seperti TikTok melalui tagar BookTok, Instagram, dan X menjadi ruang berbagi rekomendasi bacaan yang berpengaruh terhadap pilihan membaca generasi muda.


Fenomena ini bahkan sampai terasa langsung di pameran buku offline. Salah satu contoh nyatanya terjadi di ajang pameran buku internasional tahun lalu. Novel Katabasis karya R.F. Kuang ludes terjual ratusan eksemplar meski harganya cukup tinggi, membuktikan bahwa hype dari media sosial bisa langsung berubah jadi aksi nyata beli buku fisik, bukan cuma sekadar konten yang lewat di linimasa.


4. Gen Z Baca Buku Bukan Cuma Buat Gaya-gayaan, Tapi Cari Ketenangan


Ada alasan psikologis menarik kenapa Gen Z mulai balik lagi ke buku cetak di tengah gempuran konten cepat. Menurut riset internal industri, ini soal kejenuhan terhadap ritme konsumsi konten digital yang serba instan. Meningkatnya minat baca Generasi Z tidak terlepas dari kejenuhan terhadap konsumsi konten digital yang bersifat cepat dan repetitif, karena membaca buku dinilai memberikan pengalaman yang lebih mendalam dan menenangkan.


Dari sisi topik bacaan pun, preferensi mereka menunjukkan sisi yang lebih reflektif dan personal, bukan cuma hiburan ringan. Generasi Z cenderung memilih buku fiksi remaja dan dewasa muda, novel bertema coming-of-age, serta buku pengembangan diri, dengan tema kesehatan mental, pencarian identitas, relasi sosial, dan pengembangan karier menjadi topik yang paling diminati. Jadi, buku buat Gen Z bukan cuma pelarian dari layar, tapi juga ruang buat memahami diri sendiri.


5. Hampir Semua Gen Z Ternyata Suka Membaca, Cuma Beda Format


Kalau ditanya soal minat baca secara umum, hasilnya bakal bikin kamu tambah kagum. Ternyata stigma “Gen Z males baca” itu jauh dari kenyataan lapangan. Survei IDN Research Institute menunjukkan bahwa hanya 1 persen Gen Z yang tidak suka membaca, dan mayoritas mereka membaca berita daring, artikel, atau buku cetak.


Soal format bacaan yang dipilih pun, buku kertas masih jadi juara dibanding alternatif digital lainnya. Buku fisik tetap menjadi pilihan utama, dengan 24 persen responden masih setia pada kertas, sementara e-book dipilih 19 persen, dan audiobook hanya 2 persen. Jadi kalau ada yang bilang Gen Z nggak baca buku, mungkin dia cuma belum lihat rak buku di kamar kosan teman-temannya.


6. Buku Fisik Tetap Jadi Andalan Meski Era Digital Makin Canggih


Fenomena ini bukan cuma terjadi di kalangan Gen Z secara sempit, tapi juga tercermin dalam survei preferensi baca masyarakat secara umum. Hasilnya konsisten mendukung dominasi buku cetak. Sebanyak 85,2 persen responden paling sering membaca buku fisik dibanding format lainnya, dalam survei yang mayoritas respondennya justru didominasi kelompok usia muda.


Dari sisi industri, tren ini juga membawa dampak ekonomi yang nggak main-main buat penerbit buku di Indonesia. Survei Goodstats 2025 mencatat 79 persen pembaca lebih memilih buku fisik dibanding format digital, dan bagi penerbit, dominasi buku cetak tetap menguntungkan karena menyumbang mayoritas pendapatan. Jadi, kebangkitan minat baca Gen Z ini nggak cuma bagus buat literasi, tapi juga menghidupkan lagi industri perbukuan yang sempat lesu.


Stereotip Gen Z sebagai “generasi doomscrolling” itu cuma separuh cerita. Justru di tengah kejenuhan mereka sendiri terhadap konten digital yang serba cepat dan dangkal, muncul gerakan balik arah yang cukup mengejutkan dengan kembali memeluk buku cetak, mencari fokus, dan menikmati proses membaca yang lebih dalam dan reflektif.


Teknologi dan budaya baca ternyata nggak harus saling meniadakan. Media sosial yang tadinya dianggap biang distraksi, justru berhasil menjadi jembatan yang menghidupkan lagi minat terhadap buku fisik. Jadi, kalau ada yang masih meremehkan Gen Z soal urusan literasi, mungkin sudah saatnya stereotip itu diperbarui, karena rak buku mereka mungkin lebih penuh dari yang dikira.