Sebuah karya sinema yang berani dan menyentuh hati resmi menyapa pencinta film tanah air mulai hari ini. Film berjudul Tanah Runtuh garapan sutradara kondang Rudi Soedjarwo bersama produser Denny Siregar telah resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia. Mengambil latar belakang salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Indonesia, yaitu konflik Poso di Sulawesi Tengah yang terjadi antara tahun 1998 hingga awal 2000-an, film ini hadir bukan untuk mengorek luka lama. Sebaliknya, Tanah Runtuh justru menempatkan nilai kemanusiaan, kasih sayang keluarga, dan semangat saling menjaga sebagai jantung utama dari ceritanya.
Dukungan dari Tokoh Kunci Perdamaian
Peluncuran film yang sangat diantisipasi ini mendapatkan apresiasi dan dukungan langsung dari Jusuf Kalla. Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia tersebut dikenal luas sebagai salah satu tokoh kunci dan arsitek di balik proses perdamaian konflik Poso dahulu. Bagi Jusuf Kalla, hadirnya Tanah Runtuh bukan sekadar sebuah karya hiburan layar lebar biasa. Film ini dipandang sebagai sebuah pengingat berharga bagi masyarakat tentang apa yang sesungguhnya dipertaruhkan ketika sebuah komunitas atau kelompok terpecah belah oleh konflik. Beliau menyampaikan bahwa dengan latar belakang konflik Poso, ada banyak hal yang perlu menjadi perhatian bersama, terutama mengenai bagaimana kehidupan toleransi beragama dan bermasyarakat dapat berjalan dengan baik di Indonesia.
Sorotan pada Sisi Kemanusiaan Bukan Konflik
Meskipun mengangkat tema yang sangat sensitif dan berat, Tanah Runtuh memilih jalur penceritaan yang sangat unik dan jarang diambil oleh sinema nasional, yaitu lewat sepasang mata seorang anak. Kisahnya berfokus pada perjalanan emosional dua anak yang berjuang mencari keberadaan ibu mereka di tengah situasi pelik. Sutradara Rudi Soedjarwo menegaskan bahwa sejak awal ia memang tidak tertarik untuk mengeksplorasi detail konfliknya secara politis. Fokus utamanya adalah manusia-manusia yang terpaksa bertahan hidup di dalam situasi ekstrem tersebut. Penonton akan diajak melihat bagaimana seorang ibu mencari anaknya, bagaimana seorang kakak mati-matian menjaga adiknya, serta bagaimana orang-orang asing yang tidak saling kenal akhirnya memilih untuk saling melindungi. Bagi Rudi, sisi itulah yang paling manusiawi untuk diangkat ke permukaan.
Baca juga: Film Ozora, "Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel" Sebuah Gugatan Keadilan di Layar Lebar
Pesan Cinta Tanpa Syarat di Tengah Kegelapan
Hal senada juga diungkapkan oleh Denny Siregar selaku produser. Di tengah kondisi masyarakat modern yang hari ini sering kali dipenuhi rasa amarah, ketakutan, dan prasangka, film ini hadir sebagai pengingat yang sangat sederhana. Melalui jalan cerita yang disajikan, Denny ingin menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki kemampuan untuk saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa harus memandang perbedaan latar belakang. Keberanian mengangkat latar belakang Poso menjadi sebuah simbol bahwa cahaya kemanusiaan tidak akan pernah benar-benar padam, bahkan di dalam periode sejarah yang paling gelap sekalipun.
Ketulusan Ringgo yang Mengubah Cara Pandang
Satu hal yang paling mencuri perhatian dan menjadi kekuatan moral terbesar dari film Tanah Runtuh adalah kehadiran karakter utama bernama Ringgo. Karakter anak penyandang Down Syndrome ini diperankan dengan sangat apik oleh Ridho Khaliq, yang dalam kehidupan nyata juga merupakan seorang penyandang Down Syndrome. Ringgo dalam film ini tidak tampil sebagai objek belas kasihan atau sekadar simbol pemanis belaka. Ia hadir sebagai manusia utuh yang memiliki rasa takut, kasih sayang mendalam, dan cara pandang murni yang justru menjadi cermin moral bagi karakter-karakter dewasa di sekitarnya. Ketika dunia di sekelilingnya hancur oleh kekerasan yang tidak ia pahami, Ringgo hanya tahu bahwa ia ingin menemukan ibunya dan menyayangi semua orang yang bersikap baik kepadanya. Ridho Khaliq sendiri mengaku sangat senang bisa memerankan tokoh Ringgo dan berharap para penonton dapat menikmati sekaligus mencintai film ini.
Aktor papan atas Vino G. Bastian yang memerankan karakter Idham—seorang pria yang secara tidak sengaja terlibat dan menjadi pelindung bagi Ringgo mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga selama proses syuting. Bekerja bersama Ridho diakui Vino telah mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal dalam hidup. Menurut Vino, ada kejujuran dan ketulusan luar biasa dari cara Ringgo melihat dunia, sebuah hal yang sudah sangat jarang ditemukan pada kehidupan orang dewasa masa kini. Di tengah lingkaran konflik yang dipenuhi kebencian, Ringgo sama sekali tidak melihat adanya musuh, melainkan hanya melihat sesama manusia.
Melalui kombinasi cerita sejarah yang berani dan inklusivitas karakter, Tanah Runtuh berhasil menempatkan posisi penting dalam industri perfilman Indonesia saat ini. Film ini memberikan ruang bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran dan sering diabaikan, untuk membawa pesan perdamaian yang kuat. Jadi, bagaimana menurut kalian, Oppal Gengs? Sudah siap meluangkan waktu ke bioskop akhir pekan ini untuk menyaksikan akting memukau dari Vino G. Bastian, Ridho Khaliq, Sigi Wimala, Jenda Munthe, hingga Tike Priatnakusumah?
Bayu Dewantara