Fajar Noor mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, bahkan sempat menjadi kapten Binjai City di Liga 3 dan mengikuti seleksi Timnas U-16 sebelum akhirnya beralih ke dunia musik akibat pandemi COVID-19.
Perjalanan Fajar di dunia musik tidak instan. Ia memulai dari mengunggah video cover lagu di media sosial, gagal di X Factor, hingga akhirnya bangkit dan sukses menjadi runner-up Indonesian Idol dengan motivasi untuk membuktikan kemampuannya.
Album debut Sementara Selamanya menceritakan siklus perjalanan cinta, melibatkan kolaborasi dengan Arsy Widianto dan Iqbal Siregar, serta dinilai sebagai "nyawa" karena menjadi album pertamanya.
Meski kini sukses sebagai penyanyi, Fajar tetap mencintai sepak bola. Ia juga berbagi pengalaman tampil dalam school to school tour bersama Oppal dan mengajak penggemar mendengarkan album Sementara Selamanya
Fajar Nurdiansyah atau Fajar Noor kini dikenal luas sebagai runner-up Indonesian Idol Season 13 sekaligus penyanyi muda dengan album debut Sementara Selamanya. Namun, jauh sebelum namanya bersinar di industri musik, Fajar ternyata memiliki mimpi yang sama sekali berbeda. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi pesepak bola profesional dan bahkan sempat meniti karier secara serius di lapangan hijau.
Perjalanan hidup Fajar pun berubah drastis ketika pandemi COVID-19 menghentikan kompetisi sepak bola. Dari kondisi tersebut, ia mulai mencoba menyalurkan hobinya bernyanyi melalui media sosial. Siapa sangka, langkah yang awalnya hanya untuk mengisi waktu justru membawanya menuju panggung Indonesian Idol hingga dikenal sebagai salah satu penyanyi muda berbakat di Tanah Air.
Mimpi Fajar Noor Awalnya Jadi Pesepak Bola
Dalam sesi Katanya Podcast by Oppal edisi 30 Juni 2026, Fajar mengungkapkan bahwa musik sebenarnya tidak pernah menjadi cita-citanya. Sejak kecil, ia hanya memiliki dua impian, yakni menjadi tentara atau pesepak bola profesional.
"Sebenarnya musik ini enggak pernah terpikiran di kepalaku saat itu. Karena memang benar-benar cita-citaku dulu kalau enggak tentara, pemain bola. Udah, dua itu aja."
Keseriusan Fajar di dunia sepak bola bukan sekadar hobi. Ia pernah bergabung dengan Binjai City di Liga 3 regional dan dipercaya menjadi kapten tim. Sebelumnya, ia juga beberapa kali mengikuti seleksi pemain usia muda, termasuk seleksi Timnas U-16. Meski berkali-kali gagal lolos ke level nasional, Fajar terus berusaha mengejar impiannya di lapangan hijau.
Ia bahkan berteman dengan sejumlah pemain yang kini memperkuat Timnas Indonesia, seperti Muhammad Ragil dan Arkhan Fikri. Ketika teman-temannya mulai berkarier di level yang lebih tinggi, Fajar mengaku dirinya masih berjuang di Sumatera Utara.
Pandemi COVID-19 Mengubah Jalan Hidupnya
Titik balik kehidupan Fajar datang ketika pandemi COVID-19 melanda. Kompetisi sepak bola terhenti dan tim yang dibelanya akhirnya bubar. Situasi tersebut membuatnya kehilangan arah karena aktivitas yang selama ini menjadi fokus hidupnya mendadak berhenti.
"Saat itu aku udah jadi kapten tim. Udah latihan beberapa kali, tiba-tiba COVID. Timku bubar. Aku ngerasa karena enggak bisa main bola, akhirnya cover-cover lagu di sosial media."
Awalnya, Fajar hanya mengunggah video cover lagu di media sosial untuk mengisi waktu luang. Respons positif dari warganet membuatnya mulai percaya diri menekuni dunia tarik suara. Setelah beberapa bulan bernyanyi di kafe, ia memberanikan diri mengikuti ajang X Factor Indonesia.
Sayangnya, langkah pertamanya di dunia kompetisi musik belum berjalan mulus. Fajar hanya mampu menembus babak 30 besar sebelum akhirnya tersingkir.
Gagal di X Factor, Bangkit Lewat Indonesian Idol
Kegagalan di X Factor sempat membuat Fajar kembali bermain sepak bola bersama teman-temannya. Bahkan, sang ayah sempat menyarankan agar ia berhenti mengejar dunia musik.
"Bokap bilang, 'Udahlah main bola aja. Paling nanti kalau ikut lagi keluar 30 besar.'"
Alih-alih menyerah, ucapan tersebut justru menjadi motivasi bagi Fajar untuk membuktikan kemampuannya. Setahun kemudian, ia kembali mengikuti audisi. Kali ini melalui Indonesian Idol.
Fajar mengaku dirinya memang memiliki karakter yang semakin termotivasi ketika diremehkan. Baginya, kritik maupun cibiran lebih baik dijawab lewat karya daripada perdebatan.
"Kalau diremehkan makin mau membuktikan. Mereka nge-judge ya aku buktiin dengan karya."
Perjalanan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Fajar berhasil melangkah hingga babak final dan keluar sebagai runner-up Indonesian Idol. Pencapaian itu sekaligus membuka jalannya sebagai penyanyi profesional.
Sampai Sekarang Masih Memilih Sepak Bola
Meski kini sukses di dunia musik, kecintaan Fajar terhadap sepak bola ternyata belum sepenuhnya hilang. Ia bahkan mengaku jika bisa kembali ke masa lalu dan diberikan pilihan, dirinya tetap akan memilih menjadi pesepak bola.
"Kalau bisa pilih ulang, pasti bola sih."
Menurut Fajar, kecintaannya terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak usia sangat dini. Ia bercerita sudah bisa menendang bola sejak berusia sekitar dua tahun. Ayahnya pun menjadi sosok yang paling mendukung cita-citanya sebagai pemain sepak bola karena memiliki impian yang sama semasa muda.
Namun, takdir berkata lain. Justru tanpa pernah mengikuti les musik maupun les vokal, Fajar berhasil menemukan jalannya di dunia hiburan. Bahkan hingga kini, keluarganya masih merasa heran bagaimana dirinya bisa menjadi penyanyi.
"Sampai sekarang orang tua saya juga bingung, 'Ini anak kok bisa jadi penyanyi?' Karena saya enggak pernah les musik, enggak pernah les vokal."
Kini, Fajar memilih fokus mengembangkan karier bermusiknya. Meski masih menyimpan kecintaan terhadap sepak bola, ia ingin terus menghadirkan karya-karya terbaik bagi para pendengarnya melalui perjalanan baru yang kini sedang dijalaninya.
School to School Tour Bareng Oppal, Fajar Noor Rasakan Antusias Penggemar
Di tengah kesibukannya mempromosikan album, Fajar Noor juga mengikuti kegiatan school to school tour bersama Oppal ke sejumlah sekolah di Bogor, Bekasi, Depok, hingga Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku terkejut melihat antusiasme para pelajar yang begitu hafal dengan lagu-lagunya.
Menurut Fajar, awalnya ia mengira lagu-lagu bertema percintaan yang dibawakannya lebih dekat dengan pendengar dewasa. Namun kenyataannya, banyak siswa SMA yang justru merasa relate dengan lirik-lirik dalam albumnya.
"Seru banget. Ternyata lagu-lagu percintaan aku ini cukup dewasa sebenarnya. Tapi ternyata masuk juga ke anak-anak sekolah. Lagu-lagu itu ternyata relate banget buat mereka."
Fajar juga mengaku sempat gugup saat tampil di depan para penggemar. Namun rasa gugup itu perlahan hilang ketika mendengar sorakan dan dukungan yang diberikan para penggemar sejak dirinya naik ke atas panggung.
"Aku pernah deg-degan banget mau nyanyi. Tapi pas dengar keteriakan mereka, langsung enggak deg-degan lagi. Rasanya udah kayak keluarga sendiri."
Baginya, dukungan dari para penggemar menjadi energi tambahan setiap kali tampil di atas panggung. Momen tersebut membuatnya semakin bersyukur bisa menjalani profesi yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Album Sementara Selamanya, Kisah Cinta Personal yang Jadi "Nyawa" Fajar Noor
Album debut bertajuk Sementara Selamanya memiliki makna yang sangat personal bagi Fajar Noor. Menurutnya, judul album tersebut menggambarkan kisah cinta yang hanya berlangsung sementara, tetapi meninggalkan kenangan yang akan terus hidup dalam hati.
"Sementara Selamanya itu artinya kisah cinta yang sementara, tapi meninggalkan rasa selamanya."
Fajar menjelaskan bahwa album tersebut menceritakan siklus sebuah hubungan, mulai dari fase jatuh cinta, munculnya konflik, hingga akhirnya berpisah. Meski hubungan telah berakhir, kenangan indah bersama seseorang tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah dilupakan.
"Di album ini menceritakan tentang percintaan kita. Mulai dari butterfly era, konflik dalam hubungan, sampai akhirnya berpisah, tapi perasaan itu tetap abadi di dalam hati."
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Fajar menggandeng sejumlah musisi dan penulis lagu ternama. Salah satunya adalah Arsy Widianto, yang sebelumnya juga menciptakan lagu kemenangan Fajar di Indonesian Idol, Tahta Hatiku. Dalam album ini, Arsy kembali dipercaya menulis lagu "Yang Kutuju" dan "Satu-satunya".
Fajar mengaku sengaja mengajak Arsy karena menurutnya keluarga Widianto sudah sangat identik dengan lagu-lagu bertema percintaan yang mampu menyentuh emosi pendengar.
"Di kepalaku saat itu siapa yang bisa buat lagu cinta-cintaan yang butterfly era? Ya sudah pasti keluarga Widianto. Akhirnya workshop sama Kak Arsy dan dikasih lagu Yang Kutuju sama Satu-satunya, aku langsung suka."
Selain Arsy Widianto, Fajar juga berkolaborasi dengan Iqbal Siregar dalam proses kreatif lagu "Jangan Datang Saat Kesepian". Berbeda dengan lagu lain, proses penciptaan lagu tersebut dilakukan bersama melalui sesi berbagi cerita dan pengalaman pribadi hingga akhirnya menjadi sebuah karya yang merepresentasikan kisah banyak orang.
Bagi Fajar, album perdananya bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang akan selalu dikenang sepanjang kariernya sebagai musisi.
"Album itu nyawa aku. Karena album pertama ini pasti selamanya akan aku bawa. Semuanya tentang perjalanan cintaku, jadi menurut aku ini benar-benar nyawa."
Cita-cita Masa Kecil Bisa Berubah, Jangan Takut Punya Mimpi Baru
Menutup obrolan, Fajar Noor mengajak para penggemarnya untuk mendengarkan album Sementara Selamanya. Ia berharap setiap lagu di dalamnya dapat menemani siapa pun yang pernah merasakan perjalanan cinta, mulai dari jatuh hati hingga belajar melepaskan.
"Halo teman-teman semuanya, jangan lupa dengerin album Sementara Selamanya. Kalian harus dengerin lagu-lagu di dalam album ini karena semuanya tentang cycle of love. Semua orang pasti pernah merasakan hal-hal itu."
Perjalanan Fajar menjadi bukti bahwa cita-cita masa kecil tidak selalu menjadi tujuan akhir seseorang. Mimpi menjadi pesepak bola memang belum terwujud, tetapi keberaniannya mencoba hal baru justru membawanya menuju dunia musik dan mempertemukannya dengan kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Buat Oppal Gengs yang penasaran dengan cerita lengkap Fajar Noor, mulai dari perjalanan sebagai kapten tim sepak bola, kegagalan di X Factor, perjuangan hingga menjadi runner-up Indonesian Idol, sampai proses di balik album Sementara Selamanya, jangan lupa tonton episode lengkapnya di kanal YouTube Oppal.
Jangan berhenti sampai di situ, ya! Temukan juga berbagai artikel inspiratif, cerita seru, serta konten-konten positif lainnya hanya di Oppal. Yuk, mulai biasakan membaca hal-hal yang bermanfaat dan kurangi brain rot. Karena semakin banyak membaca, semakin banyak pula wawasan dan inspirasi yang bisa kamu dapatkan.
Selengkapnya di YouTube Oppal Fajar Noor: Dari Lapangan Sepakbola ke Panggung Indonesian Idol
Reyvan